UNS Lepas Mahasiswa Mengabdi dalam Program KKN

Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN)dihadiri 377 kelompok mahasiswa KKN yang akan segera diberangkatkan. Ada hal yang membedakan KKN ini dengan KKN sebelumnya.

Selasa (12/07), UNS menggelar upacara pelepasan mahasiswa KKN di depan lapangan gedung rektorat. Sudibyo selaku Ketua Unit Pelaksana Kuliah Kerja Nyata (UPKKN) mengungkapkan bahwa ada 377 kelompok mahasiswa KKN, yang hanya akan ditempatkan di wilayah sekitar Jawa karena KKN tahun ini akan dilakukan secara full offline. “Tahun ini KKN di luar Jawa tidak diadakan, beda dengan dulu saat daring sesuai dengan lokasi mahasiswa, menyebar ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Meskipun pelepasan dihadiri 377 kelompok, namun keberangkatan tidak dilakukan serentak di hari yang sama. “Keberangkatan tidak serentak menyesuaikan daerahnya masing-masing ada yang hari ini, besok atau bahkan hari Sabtu,” ujar Aji Santoso mahasiswa yang mengikuti KKN. Ia akan berangkat KKN pada Rabu (12/07/22) dan akan menjalankan KKN selama 45 hari karena mengikuti KKN reguler, tentu saja bisa berbeda untuk jenis KKN yang lain.

Menyangkut jenis KKN, Sudibyo mengungkapkan bahwa KKN kali ini memiliki 5 macam jenis, yaitu ada KKN DPP yang bekerjasama dengan IPB, KKN Kemendes, KKN MBKM, KKN khusus mahasiswa FKIP, dan KKN Kebangsaan dari Dikti.

FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) akan dipisah dan dibuatkan kelompok tersendiri karena adanya mata kuliah asistensi mengajar atau PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan).

Akibat dari perubahan yang bisa dibilang cukup mendadak ini pihak UNS termasuk kepala UPKKN harus merombak ulang plotting yang sebelumnya sudah ditetapkan.

Plotting itu sangat sulit, kemarin FKIP PLP tidak dari awal, sehingga dijadikan satu dengan 16 kabupaten dan sudah dicampur dengan Program Studi (Prodi) yang lain, karena itu harus dimulai dari nol lagi, harusnya 13 Juni selesai tapi baru tanggal 10 Juli diumumkan,” tuturnya.

Kendala ini tidak hanya dirasakan oleh pihak kampus, Aji yang juga merupakan mahasiswa KKN dari FKIP juga merasa tidak nyaman dengan pembagian ini.

“Kendalanya sebenarnya tidak ada, tapi ada beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman karena atas pertimbangan berbagai hal, pembagian FKIP dijadikan satu kelompok tersendiri,” jelasnya.

Terakhir Sudibyo dan Aji mengungkapkan harapannya tentang KKN ini, Sudibyo berharap KKN bisa berjalan lancar, dapat diterima masyarakat, dan kembali dengan sehat. Sedangkan harapan Aji yaitu KKN ini bisa berdampak bagi desa dan bisa berdampak pada mahasiswa ke arah yang lebih baik.

Nada_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.