Telaah Sebelum Telan

Berita hoax marak beredar di tengah-tengah masyarakat. Kemunculannya pun menimbulkan segregasi yang kuat di kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat mudah percaya pada berita yang baru didengar tanpa mengetahui sebab atau asal-usul berita tersebut.

Berita hoax tersebut seringkali di akses dari dunia maya yang tak jarang menimbulkan perdebatan yang bisa berakibat serius, yaitu kerancuan informasi yang diperoleh dan kehebohan publik akibat informasi yang di terima. Selain itu, berita hoax juga dapat memicu terjadinya perpecahan suatu bangsa.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini juga menjadi salah satu pemicu berita hoax dapat tersebar cepat, bahkan dapat dijangkau dari kalangan anak -anak hingga dewasa.

Perkembangan teknologi tersebut juga diiringi dengan jumlah pengguna internet diberbagai negara. Negara Indonesia memiliki tingkat presentase yang cukup tinggi. Oleh karenanya, hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyebarkan informasi-informasi yang bersifat palsu.

Banyak dari mereka yang merasa bangga apabila menjadi orang pertama yang menyebarkan suatu berita, tanpa mempertimbangkan benar atau tidaknya suatu berita.

Media sosial menjadi target utama para penyebar hoax dalam membagikan opininya. Ia menyebarkannya melalui aplikasi-aplikasi yang sedang di gandrungi oleh semua kalangan masyarakat.

Di samping itu, media sosial juga sebagai ruang ekspresi baru bagi masyarakat serta sarana dalam untuk mengemukakan pendapatnya yang mungkin disitu tidak bisa diutarakan karena keterbatasan wadah untuk berpendapat.

Sangat disayangkan, kemudahaan yang disuguhkan untuk semua orang dimana semua informasi maupun layanan lainnya dapat diakses hanya melalui media gawainya saja, namun oleh sebagian orang disalahgunakan.

Informasi yang di sebar melalui media sosial adalah informasi yang tidak akurat dan tidak jelas asal muasalnya, dimana informasi tersebut dibuat dengan judul yang bersifat provokatif, menuntun pembaca pada informasi yang mengarah pada hal yang negatif.

Para pelaku penyebar hoax semakin dimudahkan karena kurangnya penyaringan berita yang tersebar di media sosial. Dimana semua orang entah muda atau tua dapat mengunggah informasi apapun dengan mudah.

Penyebaran berita hoax disusun secara rapi dan menarik agar mendapat perhatian besar dari semua masyarakat.

Ada beberapa ulasan yang sengaja mempublikasikan kontennya hanya untuk merujuk antitesis yang sekaligus mereka sekadar ingin beritanya banyak diakses oleh orang lain serta dapat menghasilkan keuntungan materiil.

Informasi yang kerap menjadi sasaran dan mudah memprovokasi orang lain yaitu terkait politik dan ekonomi. Karena dua aspek tersebut termasuk aspek yang cukup sensitif.

Misalnya mengenai perebutan kekuasaan atau pemilihan pemimpin baru. Apalagi hal yang menyangkut tentang kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah.

Beberapa ulasan mengunggah informasi yang cenderung mengkritik pemerintah, hal tersebut memicu perhatian para pembaca.

Semua opini di kemas sedemikian rupa layaknya fakta sehingga meyakinkan bagi pembaca. Informasi disajikan dengan epik, seakan-akan informasi tersebuat merupakan berita asli yang terjadi.

Kemunculannya pun tak jauh dari motif pihak-pihak tertentu yang hanya bermaksud menghasut  dan membuat situasi menjadi lebih kacau.

Kehadiran beberapa aplikasi dan layanan baru di media sosial memberikan pengaruh pada aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa Indonesia.

Interaksi antar masyarakat yang semula hangat menjadi individualis. Perkembangan teknologi ini perlu diimbangi dengan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya pengguna media sosial.

Sehingga dalam menerima dan menyebarkan informasi melalui media apapun itu dapat diklarifikasi terlebih dahulu dan sesuai dengan faktanya.

Jenita_

Sumber Foto : Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.