Tangan dan Lisan Mahasiswa di Majelis Wali Amanat

Anggota Majelis Wali Amanat Unit Mahasiswa (MWA UM) dipilih dari ex-officio Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui musyawarah dengan 29 perwakilan lembaga mahasiswa yang representatif. Sudahkah partisipasi aktif mahasiswa diikutsertakan?

Majelis Wali Amanat (MWA) sebagai badan eksekutif tertinggi di universitas dibentuk guna menjalankan fungsi perumusan dan penetapan kebijakan, mempertimbangkan kebijakan umum, mengawasi kebijakan non-akademik, serta mengangkat dan memberhentikan anggota kehormatan.

Dalam keberjalanannya, MWA terdiri dari berbagai unit baik menteri, rektor, masyarakat, alumni, tenaga kependidikan, dan Unit Mahasiswa (UM). Pada periode 2021, anggota Majelis Wali Amanat Unit Mahasiswa (MWA UM) dipilih dari Presiden BEM UNS yang kala itu menjabat, Zakky Musthofa Zuhad secara ex-officio.

Pemilihan anggota MWA UM dilaksanakan secara musyawarah dengan melibatkan 29 lembaga mahasiswa yang representatif seperti BEM Universitas, BEM Fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan, dan Perwakilan Mahasiswa. Saat itu ada wacana untuk diadakan pemilu guna memilih anggota MWA UM, namun karena waktu yang terbatas dan dengan berbagai pertimbangan, maka dilaksanakan forum musyawarah.

Dari musyawarah itulah akhirnya Zakky terpilih sebagai perwakilan Unit Mahasiswa di Majelis Wali Amanat secara ex-officio. Namun hasil tersebut tidak disetujui oleh sembilan lembaga mahasiswa yang hadir pada saat itu. Mempertimbangkan hasil voting dan aspirasi yang berkembang, menyepakati bahwa anggota MWA UM diambil dari ex-officio Presiden BEM UNS 2021.

Anggota MWA UM memiliki masa jabatan selama satu tahun. Pada bulan Mei lalu posisi Zakky sebagai anggota MWA UM resmi digantikan oleh ex-officio Presiden BEM UNS 2022, Shoffan Mujahid. Sistem pemilihan anggota MWA UM secara ex-officio rencananya akan diganti kembali pada periode 2023 mendatang.

Salah satu peran terpenting MWA adalah merumuskan dan menentukan kebijakan kampus berdasarkan urgensi, dasar hukum, dan aspirasi mahasiswa. Karena itulah partisipasi mahasiswa sangat diperlukan. Namun, partisipasi mahasiswa dalam forum diskusi MWA masih dirasa kurang.

“Mahasiswa kemarin diundang semua karena terbuka untuk umum, tapi kan nggak semua peduli nggak semua pengen tau juga apa yang dibahas. Mungkin ini jadi evaluasi besar juga untuk KBM UNS yang harus menghadirkan kepedulian karena bahkan yang hadir di forum musyawarahnya ini nggak terlalu banyak, nggak seperti dulu 2020,” ungkap Zakky (28/7).

Salah satu mahasiswa FKIP UNS, Ilham Jiwandaru yang merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris mengungkapkan bahwa ia setuju terkait pengenalan MWA UM terhadap mahasiswa luas mengingat masih banyak mahasiswa yang belum mengenal bahkan belum pernah mendengar mengenai keberadaan MWA di kampusnya. “Setidaknya mahasiswa itu harus diberi pengetahuan dasar atau wawasan dasar mengenai MWA karena MWA sendiri merupakan badan tertinggi kedudukannya di suatu instansi,” ujarnya (28/7).

Pada masa jabatannya sebagai MWA UM, Zakky mengungkapkan bahwa Ia membuka forum diskusi publik yang terbuka bagi mahasiswa UNS dan mengadakan safari bersama BEM serta UKM di beberapa fakultas untuk mengenalkan MWA UM ke mahasiswa luas. Menurutnya, hal ini dapat menjadi catatan bagi ex-officio yang sedang menjabat melakukan kegiatan serupa untuk membangun kepedulian dan partisipasi mahasiswa UNS dalam diskusi MWA.

Zakky juga menerangkan bahwa pada pemilihan anggota MWA UM UNS yang lalu, ia mengusulkan diadakannya pemilu di kalangan mahasiswa. “Perspektif kelebihan dan kekurangan dari pemilu ini, kelebihannya bisa sekalian mengenalkan mahasiswa memilih secara langsung dan mungkin visi misinya dilempar ke publik secara masif,” jelas Zakky.

Keberadaan MWA UM sebagai organisasi strategis menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk secara kolektif menyampaikan aspirasi kepada mereka yang memiliki wewenang terhadap kebijakan masa depan UNS.

Zakky berharap agar mahasiswa membangun kepedulian dan persatuan terkait dengan MWA UM. “Bangun kepedulian terhadap organ ini (MWA UM) semoga kita bisa menjaga kewarasan kampus kita, masalah biaya pendidikan yang terjangkau dan lain-lain itu sangat membutuhkan kepedulian,” ujarnya.

Anisa_

Gesel_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.