Tak Tepat Sasaran, KIP-K Jadi Hal Kontroversial

Semenjak diadakannya program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), terjadi beberapa kasus mengenai mahasiswa yang memalsukan data persyaratan KIP-K. Hal tersebut membuat geram mahasiswa pendaftar KIP-K yang benar-benar membutuhkan namun tidak mendapat KIP-K.

Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) merupakan program yang ditujukan untuk meringankan biaya pendidikan mahasiswa kurang mampu di perguruan tinggi. Program ini memberikan fasilitas berupa uang saku setiap bulan selama delapan semester dan keringanan biaya pendidikan.

Universitas Sebelas Maret (UNS) merupakan salah satu perguruan tinggi yang mengadakan program KIP-K. Persyaratan yang cenderung mudah membuat banyak mahasiswa tertarik dan turut mendaftar program ini.

Namun belakangan ini, di beberapa perguruan tinggi terkuak adanya kasus pemalsuan data persyaratan KIP-K oleh sejumlah mahasiswa. Meisita Anggraini, salah satu mahasiswa penerima beasiswa KIP-K dari program studi Pendidikan Sosiologi Antropologi UNS memberikan tanggapannya mengenai hal tersebut “Tentu itu sangat tidak etis ya, mengenal bahwa KIP-K ini khusus untuk anak dengan keterbatasan ekonomi. Jika ada pemalsuan tentu saja sangat merugikan orang lain,” tutur Meisita pada Jum’at (11/03).

Kegeraman tidak hanya datang dari mahasiswa penerima KIP-K, mahasiswa nonKIP-K juga merasa geram dengan hal tersebut. “Ya kurang pas jika ada yang nggak sesuai sasaran, karena banyak sekali yang butuh malah gak dapat bantuan itu kan. Kedua, harus ada tindak khusus dari kampus atau pihak penyedia KIP-K untuk lebih teliti dalam menyaring siapa yang butuh dan tidak,” tutur Muammar Khadafi, mahasiswa program studi Pendidikan Luar Biasa UNS pada Jum’at (11/03).

Setiap tindakan pasti memiliki konsekuensi, begitu pula bagi tersangka pemalsuan data persyaratan KIP-K. Pemberian surat peringatan hingga dicabutnya status sebagai mahasiswa penerima KIP-K menjadi hukuman yang diharapkan mampu memberi efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi mahasiswa yang lain.

Pihak penyelenggara program KIP-K diharapkan dapat memantau keberjalanan KIP-K di kampus agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami sudah menghubungi pihak MAWA untuk memberikan pernyataan, namun tidak ada respon sama sekali.

Meisita sebagai mahasiswa penerima KIP-K berharap agar kedepannya tidak terjadi lagi kasus pemalsuan data seperti yang saat ini banyak terkuak. “Terkait penerima KIP-K semoga kedepannya tidak terjadi pemalsuan dan semoga bisa merata. Kemudian saya juga berharap ada survei langsung ke lokasi untuk mencari tahu keadaan asli dari mahasiswa yang diduga memalsukan data seleksi, agar perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Anisa_

Alyssa_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.