Standar Konstruksi Pembangunan Gedung A FKIP UNS Pasca Kebakaran

Pasca kebakaran Gedung A Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang terjadi pada Kamis (7/7) pada pukul 08.00 WIB,  konstruksi Gedung A menuai kritikan. Standar keamanan gedung dipertanyakan.

Pasca kejadian kebakaran Gedung A FKIP UNS pada Kamis (7/7) yang disebabkan korsleting atau arus pendek listrik menuai kritikan dari beberapa pihak. Banyak yang mempertanyakan keamanan pada konstruksi bangunan gedung. “Gedung A FKIP itu termasuk gedung lama dan latar belakang dipasangnya terali itu untuk keamanan gedung,” ujar Mardiyana selaku Dekan FKIP UNS (21/7).

Sila Ramadani Putri mahasiswi program studi Pendidikan Geografi angkatan 2021 menyatakan bahwa keamanan di gedung A FKIP masih minim. “Kita lihat terali besi itu permanen.

Terkait keamanan, satpam kurang apalagi kalau malam. Jadi untuk kepentingan keamanan, mungkin kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung berpikir sebaiknya dipasang terali untuk menjaga keamanan jika ada pencurian,” ujar Sila (21/7).

Meskipun demikian, Sila juga menuturkan bahwa konstruksi bangunan Gedung A FKIP kurang ramah dalam hal evakuasi bencana, seperti kebakaran yang baru saja terjadi sehingga dapat menjadi evaluasi bersama terutama dari pihak fakultas.

Sama halnya dengan yang pendapat Sila, Fathur Rachman mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)  angkatan 2021 mengatakan jika memang konstruksi gedung kurang ramah.

“Soal konstruksinya memang sedikit kurang ramah untuk evakuasi kebakaran, namun di lain sisi terali yang difungsikan untuk menjaga inventaris kampus agar tidak hilang, sebaiknya dibuat di tempat tertentu saja dan di lain tempat bisa dipasangkan kaca yang tebal agar aman dari pencurian, juga bisa ditembus dalam rangka evakuasi kebakaran,” ujar Fathur Rachman (21/7).

Namun, pasca terjadinya kebakaran terali yang ada pada Gedung A sudah tidak berfungsi lagi karena keamanan kampus sudah cukup baik.

“Untuk lapisan keamanan tidak masalah dan selayaknya di Gedung A FKIP UNS ada tangga daruratnya. Bukan hanya satu pintu keluar juga sebaiknya di sudut-sudut gedung FKIP harus ada Alat Pemadam Api Ringan (APAR),” ujar Fathur.

Mardiyana mengatakan akan ada tindak lanjut untuk gedung yang terbakar serta pengadaan keamanan yang memadai. “Saat ini  tengah mengajukan beberapa perbaikan seperti membuka akses evakuasi, pengadaan sirine peringatan, pelatihan untuk SDM (satpam dan tenaga pendidik) jika terjadi kejadan serupa, serta pengadaan APAR ukuran menengah di dalam gedung,” ujar Mardiyana.

Pasca kebakaran yang lalu, pihak fakultas juga memutuskan untuk membuka pintu sebelah utara dan selatan Gedung A lantai 1 FKIP  sebagai salah satu tindakan awal terbukanya akses evakuasi yang sebelumnya tertutup.

Mengingat rencana perkuliahan semester depan yang akan dilakukan secara offline, Mardiyana mengatakan kejadian ini tidak berpengaruh untuk kegiatan perkuliahan, “Tidak cukup berpengaruh untuk perkuliahan karena ruang yang terbakar itu hanya ruang sidang sehingga tidak mengganggu proses perkuliahan semester depan,” ujarnya. Oleh karena itu, kegiatan perkuliahan semester depan bisa dilaksanakan secara offline di kampus.

Para mahasiswa berharap agar gedung yang ada di lingkungan FKIP utamanya dan seluruh gedung di UNS menjadi lebih nyaman dan aman terlebih untuk proses perkuliahan.

“Tidak hanya di Gedung A FKIP saja yang direnovasi menjadi gedung ramah evakuasi, kalau bisa semua gedung yang di UNS itu nyaman, aman, dan ramah evakuasi,” ujar Sila.

Sudah hampir satu bulan kejadian ini, harapannya agar pengajuan dari pihak fakultas kepada pihak universitas terkait perbaikan fasilitas gedung bisa segera direalisasikan sebelum perkuliahan dilaksanakan. Meskipun dari kejadian kebakaran ini tidak ada korban jiwa, namun tetap menjadi evaluasi bersama untuk pembangunan gedung UNS  yang lebih aman, nyaman, dan ramah evakuasi bagi seluruh mahasiswa, tenaga pendidik, dan seluruh pegawai di UNS.

Nastiti_

Nabila_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.