RESENSI FILM: The Conjuring The Devil Made Me Do It

Judul Film       : The Conjuring The Devil Made Me Do It

Sutradara         : Michael Chaves

Produser          : Peter Safran, James Wan

Penulis Cerita : David Leslie Johnson-McGoldrick

Pemain Film    : Patrick Wilson, Vera Farmiga, Ruairi O’Connor, Sarah Catherine Hook, Julian Hilliard, John Noble, Eugenie Bondurant, Shannon Kook, Ronnie Gene Blevins, Keith Arthur Bolden, Steve Coulter, Vince Pisani, Ingrid Bisu, Andrea Andrade, LeConte Campbell, Sterling Jerins, Paul Wilson, Charlene Amoia, Davis Osborne, Mark Rowe, Stella Doyle, Mitchel Hoog, Megan Ashley Brown.

Produksi          : New Line Cinema, The Safran Company, Atomic Monster Productions

Tanggal Rilis   : 2 Juni 2021 (Indonesia)

Bahasa             : Inggris

Resensi Film

Film The Conjuring: The Devil Made Me Do It ini merupakan seri ketiga dari film The Conjuring. Berbeda dari dua seri sebelumnya yang lebih berfokus pada usaha untuk mencegah kerusakan dan bencana yang disebabkan oleh kaum jahat (devil). Seri ketiga ini menceritakan terkait penyelidikan dari adanya kasus pembunuhan. Namun, seri ketiga ini masih sama dengan seri pertama dan kedua yaitu diperankan oleh Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren dan Patrick Wilson sebagai Ed Warren.

The Conjuring: The Devil Made Me Do It ini berawal dari proses pengusiran adanya roh jahat dalam tubuh anak kecil berusia 8 tahun bernama David Glatzel (Julian Hilliard) yang di lakukan oleh pasangan Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga). David diduga mengalami serangkaian tanda sebagai sasaran roh jahat, setelah ia dan keluarganya pindah ke rumah baru. Dalam proses pengusirannya, Ed meminta pada pihak gereja untuk melakukan eksorsis pada David. Namun roh jahat yang dilawan saat ini ternyata memiliki kekuatan yang tidak bisa disepelekan. Sehingga proses eksorsis saat itu pun berjalan kacau. Bahkan nyawa dari Ed dan Lorraine sempat terancam. Untuk menyelamatkan David, Arne Cheyenne Johnson (Ruairi O’Connor) yang merupakan kekasih dari kakak David yaitu Debbie Glatzel (Sarah Catherine Hook) berusaha menyadarkan David dan rela mengorbankan dirinya pada roh jahat tersebut agar melepaskan David.

Sejak saat itu Arne mulai merasakan hal-hal aneh yang ada dalam dirinya. Arne selalu dihantui oleh bayang-bayang mengerikan dan semacam ada dorongan agar Arne melakukan sesuatu. Arne merasa diintai dan berbagai teror memenuhi pikiran dan kehidupannya. Bahkan Arne kerap berhalusinasi karena gangguan dari iblis tersebut. Puncaknya, saat itu karena Arne sudah dipengaruhi oleh roh jahat dan tidak bisa menahan apa yang diperintahkan oleh iblis tersebut, kemudian Arne membunuh pemilik rumah yang di sewanya bersama dengan Debbie Glatzel, yang bernama Bruno Sauls. Akibat pembunuhan tersebut, kemudian Arne terseret hukum dan divonis dengan hukuman mati. Karena ini bukan sepenuhnya kesalahan Arne, Arne mengaku bahwa dia kesurupan. Pembelaan tersebut ditolak oleh pengadilan karena dinilai kurang masuk akal. Kasus ini menjadi pertama kali dalam sejarah hukum Amerika Serikat bahwa dalam kasus pembunuhan tidak bersalah karena kerasukan makhluk gaib. Hal ini membuat Ed dan Lorraine untuk berjuang untuk mencari siapa dalang dibalik semua ini dan membuktikan bahwa Arne tidak bersalah karena telah membunuh dalam keadaan tidak sadar.

Ed dan Lorraine tidak pernah menyerah dalam perjalanannya mencari bukti terkait kerasukan yang dialami Arne. Lorraine mengambil peran yang lebih besar dalam kasus ini, karena Ed memiliki serangan jantung akibat proses penyelamatan David, sehingga membuat Ed menjadi lebih lemah. Namun disamping itu, Ed selalu berusaha untuk mendampingi Lorraine dalam proses apapun. dalam perjalannya, pasangan ini bertemu dengan seorang mantan pastor untuk mencari tau terkait aliran sesat pemuja iblis yang mengincar mangsa dengan memasang dan mengirim totem yang saat itu ditemukan dibawah rumah keluarga Glatzel. Dan akhirnya Ed dan Lorraine mampu memecahkan misteri totem dan aliran sesat yang telah meneror mereka dan Arne.

Film ini juga memberikan sedikit ruang pada kisah romansa antara Ed dan Lorraine. Bahkan juga diceritakan bagaimana kisah romansa mereka bermula. Performa yang diperankan oleh Wilson dan Farmiga ini menumbuhkan chemistry yang mampu membuat penonton sama merasakan kehangatan antara kedua pasangan ini dan terus tertarik untuk mengikuti kisah perjalanan pasangan ini sejak pada The Conjuring seri pertama. Disini, hubungan antara Ed dan Lorraine sangat kuat, dengan percaya bahwa dengan kasih dan cinta serta iman yang kuat kepada Tuhan akan bisa mengatasi berbagai masalah yang ada. Namun, pada seri ketiga ini tidak terdapat kesan horor seperti yang diharapkan, berbeda dengan seri-seri sebelumnya. Memang momen-momen horor dan beberapa jump scare sudah dihadirkan, tetapi belum ada moment horor istimewa yang dapat memberi mimpi buruk berhari-hari bagi penonton, layaknya kedua seri sebelumnya.

Jenita_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *