Home Cerpen Pendidik: Senjata Antikorupsi

Pendidik: Senjata Antikorupsi

by admin
0 comment

Hiruk pikuk suasana ibu kota di pagi menjelang siang hari, mencerminkan seberapa padat aktivitas yang dilakukan oleh sejuta umat manusia di Jakarta. Terdapat satu gedung yang menjulang tinggi dengan indahnya ditengah-tengah kepadatan ibu kota.

Seolah-olah gedung tersebut seperti tuhan yang sedang memantau aktivitas yang dilakukan oleh para umatnya, ia menjadi saksi bisu atas segala aktivitas yang dilakukan oleh para manusia. Siapapun yang memasuki gedung tersebut akan merasakan kedamaian dan ketenangan, yang mana suasana ini sangat berbeda denga suasana di luar gedung yang sangat ramai dan berisik.

Di dalam gedung tersebut terdapat satu ruang kerja yang luas dan mewah, hawa yang dipancarkan dari ruangan tersebut sangat terasa hangat. Seakan-akan ruangan tersebut memberi sambutan bagi setiap orang yang melewatinya.

Di dalam ruangan tersebut, terdapat seseorang lelaki paruh baya yang tengah merenung, sangat terlihat jelas aura kepemimpinan yang ia miliki menyerbak di seluruh penjuru ruangan. Handoko Priyambada namanya, seorang pejabat negara yang terkenal di Indonesia maupun diluar, yang sukses mengharumkan nama bangsa dikancah internasional dan mengharumkan nama partai politiknya di kancah nasional.

Handoko terkenal memiliki jejak karir yang baik dengan nama yang kelampau bersih bahkan ia pernah di gadang-gadang menjadi salah satu kandidat calon presiden. Akan tetapi, di satu sisi ia menjadi musuh para aparat negara yang “nakal”. Sebab Handoko terkenal akan sikapnya yang sangat menentang perilaku KKN (Korupis, Kolusi, dan Nepotisme) serta sikap jujurnya.

Sudah banyak jabatan yang ia duduki selama terjun di kancah politik tentunya banyak pengalaman yang telah ia lalui. Handoko termenung di ruang kerjanya bukan tanpa sebab, ia sedang menggali memori di masa lalu yang dapat membawanya hingga di posisi kepemimpinan yang tinggi yang sebelumnya belum pernah ia angankan.

Seketika muncul pertanyaan kepada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa sampai di tahap seperti ini? Apa yang telah saya lakukan?”. Setelah itu Handoko kembali di alam bawah sadarnya dengan menjelajahi beberapa ulasan memori saat ia remaja. Ulasan memori tersebut terhenti saat ia menjadi siswa di salah satu sekolah menengah atas.

Ia membuka memori saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, nama Bu Rohmah sangat mendominasi di ingatan Handoko. Di salah satu memori Handoko, ia teringat Bu Rohmah mengatakan alasan dari menerapkan pendidikan antikorupsi ini, “Saya menerapkan pembelajaran seperti ini agar kalian memiliki kepribadian yang baik, karena nilai-nilai ini sangat berpengaruh sama perkembangan psikologis kalian”.

Lalu Budi salah satu teman kelas Handoko menyeletuk, “Ibu inikan guru, bukan dokter. Ngapain Bu Rohmah ngurusin psikologis kita?”. Handoko pun setuju dengan perkataan temannya, “Benar bu, tugas Bu Rohmah itu cuma ngajarin kita biar bisa jawab soal dari pertanyaan-pertanyaan ibu, jadi enggak perlu tuh yang sampai kepribadian-kepribadian seperti itu” tutur Handoko dengan menggebu-gebu, karena menurutnya Bu Rohmah ini sangat tidak sesuai dengan tujuannya menjadi guru.

Seharusnya menjadi guru hanya mendidik peserta didik menjadi pintar saja tidak perlu sampai dengan kepribadian peserta didik. Dengan pemahaman Handoko dan Budi yang begitu dangkal Bu Rohmah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, Bu Rohmah menghembuskan nafasnya dengan kasar yang membuat teman-teman sekelas Handoko mengutuk mulutnya dan Budi.

“Kalian semua tau kasus korupsi di negara kita ini seperti apa?” ucap Bu Rohmah memberikan pertanyaan kepada peserta didik seluruh kelas. Budi pun menjawab “Sangat mengerikan bu, para koruptor terlihat sangat menjijikan”. Handoko pun seketika menoleh kepada Budi, ia tersentak dengan ucapan Budi yang terkesan sangat frontal. “Budi? Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?” ucap Bu Rohmah dengan nada bertanya. “Karena mereka dengan tidak tau malunya mengambil uang untuk kemakmuran kita-kita sebagai masyarakat bu” ucap Budi dengan nada penuh keyakinan, Bu Rohmah pun kembali bertanya, “Kira-kira Budi tau tidak, kenapa para koruptor bisa berbuat seperti itu? Karena istilahnya mereka itu sudah dipercaya untuk berada di posisi tersebut tetapi mengapa mereka melakukan tindakan yang dapat merusak nama baiknya?” Budi pun menjawab, “Mungkin.. karena mereka tidak puas dengan gaji yang diberikan bu, manusia itukan tidak pernah merasa puas”. Setelah Budi menjawab seperti itu seisi kelas pun mulai berbicara masing-masing dengan maksud membenarkan perkataan Budi.

Melihat kondisi kelas yang menjadi tidak kondusif Bu Rohmah pun menggebrak meja lalu mengatakan, “Apa yang dibicarakan Budi ada benarnya tetapi ada inti permasalahan yang membuat para koruptor melakukan korupsi, kalian ingin tau itu apa?” seisi kelas pun menjawab dengan kompak kalau mereka ingin tahu dengan jawabannya, kecuali Handoko.

Ia justru melontarkan pertanyaan terlebih dahulu “Apa inti dari tindakan para koruptor itu ada kaitannya dengan model pembelajaran Bu Rohmah yang anti mainstream?” seisi kelas pun merasa geli dengan pertanyaan dari Handoko bahkan Bu Rohmah tersenyum kecil mendengarkan pertanyaan dari Handoko. “Kenapa kamu bisa menganggap model pembelajaran Ibu anti mainstream Han?” tanya Bu Rohmah kepada Handoko.

Handoko pun menjawab, “Ya karena hanya Bu Rohmah yang terlihat sangat menonjol dengan model pembelajaraan yang memfokuskan dengan pendidikan karakter bu” Ucap Handoko sambil cengengesan.

Mendengar pernyataan dari Handoko Bu Rohmah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Rohmah pun mengatakan, “Permasalahannya adalah kurangnya nilai yang ditanamankan oleh guru, nilai apa itu? Tentunya Nilai-nilai pendidikan antikorupsi. Karena dengan menerapkan pendidikan antikorupsi akan melatih kalian-kalian para generasi bangsa untuk tidak melakukan korupsi sejak dini, dengan menekankan pada pembentukan karakter yang baik. Agar menciptakan generasi bangsa yang bermoral dan berintegrasi tinggi. Pendidikan antikorupsi ini untuk mengokohkan nilai-nilai dasar kemanusiaan yang tertuang di dalam Pancasila jadi pendidikan anti korupsi ini bukan Ibu yang menciptakan jadi kalian tidak boleh salah sangka kalau Bu Rohmah ini mengada-ngada ya” tegas Bu Rohmah dengan mimik muka yang digalakan, seisi kelas pun tersenyum kecil dengan sikap Bu Rohmah.

Seperti yang kalian lihat perbuatan korupsi itu selain merugikan masyarakat juga merugikan diri sendiri, karena nama kita yang sudah sangat mentereng di berbagai kancah politik dan lain-lainnya akan tercoret, pandangan orang lain terhadap kita akan sangat buruk” Ucap Bu Rohmah dengan melihat sekeliling kelas.

Seisi kelas pun terbawa suasana dengan penjelasan Bu Rohmah termasuk Handoko, ia mulai memikirkan karakter-karakter yang ia miliki karena menurutnya karakter yang ia miliki belum begitu baik.

Setelah memikirkan hal tersebut Handoko pun merasa malu dengan memikirkan penilaian orang lain terhadap dirinya yang terbilang belum memiliki perilaku yang baik. Saat Handoko ingin berdiri ia tanpa sadar menginjak tali sepatunya yang menyebabkan ia terjatuh.

Setelah itu Handoko tersadar dari alam bawah sadarnya, ia melihat sekelilingnya yang ternyata ia berada di ruang kerjanya.

Handoko menghembuskan nafas dengan kasar dan tersenyum kecil dengan kelakuannya pada saat itu, ada rasa senang saat mengingat kembali momen tersebut sayangnya Handoko tidak bisa kembali merasakan hal seperti itu. Pencapaian yang dapat ia raih sekarang tidak terlepas dari cara mendidik dari Bu Rohmah.

Sejak Bu Rohmah menjelaskan mengenai pentingnya karakter, Handoko tersadar bahwa memiliki karakter berdasarkan nilai-nilai yang tertuang di dalam Pancasila sangatlah penting. Semenjak itu ia memulai untuk membentuk karakter yang baik di dalam dirinya, ada benarnya bahwa pendidik adalah bagian dari senjata anti korupsi.

Handoko pun melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul lima siang yang menandakan ia harus segera pulang kerumah untuk bertemu dengan keluarga kecilnya.

Alyssa_

Sumber Foto: Google

Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya

Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya

Leave a Comment