Negeri Van Orange, Saksi Bisu Perjuangan Hidup Lima Anak Pribumi di Perantauan

Judul buku      : Negeri Van Orange

Pengarang       : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun terbit     : 2009

Tebal halaman : 467

Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja di sebuah stasiun kereta, lima orang pelajar asal Indonesia menjadi sahabat dan mengalami banyak romansa yang membuat mereka lebih kuat menjalani hidup di negeri perantauan. Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Menceritakan tentang lika-liku perjuangan hidup Lintang, Banjar, Wicak, Daus dan Geri yang merupakan mahasiswa Indonesia di Belanda.

Anandita Lintang Persada adalah seorang anak dari keluarga yang memiliki akar budaya nasional yang kuat. Lintang sudah masuk ke sanggar tari tradisional sejak kecil. Skill menari inilah yang menjadi senjatanya dalam mengejar salah satu obsesi hidupnya hingga ia bisa berangkat ke Belanda untuk mengambil program master di bidang European Studies.

Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, putra Betawi asli yang tergila-gila pada novel John Grisham dan bercita-cita menjadi pengacara litigasi. Daus merupakan lulusan fakultas hukum Universitas Indonesia. Pada suatu hari, ia mendapat kesempatan untuk menerima beasiswa S2 STUNED (Studeren in Netherlands), dengan ambisinya Daus menjual motor bututnya sebagai modal untuk membuktikan bahwa ia bisa kuliah ke luar negeri.

Banjar merupakan pelajar yang melanjutkan studinya di Belanda guna membuktikan kepada temannya bahwa pernyataan tentangnya yang tak bisa hidup susah dan kembali ke sekolah adalah salah. Selanjutnya ada Geri, seorang mahasiswa di Belanda yang merupakan anak dari pengusaha bus yang merambah ke bisnis kuliner dan travelling di Bandung.

Wicak Adi Gumelar, menjadi mahasiswa di Wageningen University merupakan keberuntungan baginya, pasalnya ia bisa menjadi mahasiswa disana karena kasus illegal logging yang hampir membuat ia dan temannya terbunuh hingga menyeretnya masuk ke dalam urusan politik pejabat penting. Karena hal tersebut ia diekstradisi di Belanda dengan kedok mengambil S2.

Pertemuan mereka bermula di tengah badai di sebuah stasiun kereta yang ditunda perjalanannya. Banjar berteriak kedinginan karena kehabisan rokok, lalu dari kerumunan, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkulit gelap, berambut hitam kriwil, berbadan tinggi cungkring, dan bermuka melayu menyodorkan bungkusan kecil berisi tembakau dan kertas lintingan.

Pemuda itu adalah Wicak, kedua insan itu kemudian berkenalan, Wicak dan Banjar bersiap menikmati rokok, tapi tiba-tiba mereka tersadar bahwa mereka tidak mempunyai korek api. Out of the blue, muncul suara cempreng mengajak mereka berkenalan dan hebatnya ia adalah orang Indonesia yang mempunyai dua korek api. Jadilah Banjar, Wicak, dan si pemuda bernama Daus pun menikmati rokok mereka.

Di tengah kekhusyuan merokok, terdengar suara pertengkaran via telepon, mereka mengamati lelaki itu yang kemudian mematikan hp dan menyalakan rokok kretek. “Wah, bau kretek,” ujar salah seorang dari mereka yang kemudian membuat sang cowok misterius menoleh, cowok itu pun dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.

Rokok linting pun segera digantikan rokok kretek pemberian Geri. Mereka tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Tiba-tiba “Wah dari Indonesia ya?, Aku Lintang,” suara ceria cewek tinggi semampai berwajah cantik mengulurkan tangannya. Dan terjadilah sebuah pertemuan tak sengaja yang tanpa mereka sadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, rokok, dan takdir.

Penulis membawakan cerita ini dengan metode penceritaan yang ringan sehingga mudah dipahami. Penulis juga sangat detail menceritakan setiap peristiwa, keadaan, serta lokasi cerita yang membuat para pembaca seakan masuk kedalam cerita dan ikut merasakan alurnya. Namun, pemilihan alur yang maju mundur membuat pembaca agak sedikit bingung dengan runtut peristiwa yang terjadi.

Esti_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.