Menwa UNS Nggak Bubar? Tidak Apa-apa, tapi Konsepnya Harus Diganti!

Baru-baru ini terjadi sebuah kasus seseorang mahasiswa bernama Gilang yang meninggal akibat Diklat UKM bernama Resimen Mahasiswa atau Menwa di salah satu universitas. Demi menjaga privasi dan nama baik kampus, maka tidak saya sebutkan namanya walaupun saya yakin anda pasti tahu kampus apa yang dimaksud. Buat anda yang masih belum tahu, UKM bernama Menwa ini adalah organisasi mahasiswa yang sifatnya bela negara dan semi-militer. Jadi anak-anak Menwa akan diberikan seragam ala-ala militer, kegiatan organisasinya bersifat outdoor, mereka diberikan pelatihan militer, bahkan saya dengar mereka juga mempelajari hal-hal esktrem seperti memegang senapan dan mempertahankan diri. Ya intinya seperti tentara deh, kira-kira bisa disebut lite soldier.  Saya sendiri baru pertama kali mendengar kata Menwa saat berada di bangku kuliah ini. Jujur saya tidak terlalu paham seperti apa kegiatannya.  Tapi secara konsep mungkin bisa disebutkan seperti yang diatas.

Karena kasus ini, nama Menwa menjadi trending di Twitter selama dua hari berturut-turut. Tidak tanggung-tanggung, berada di posisi pertama. Pihak mahasiswa meliputi BEM, sahabat-sahabat almarhum korban, dan mahasiswa kampus tersebut melakukan demo. Menuntut pihak kampus untuk transparan menghadapi kasus dan menuntut kejelasan hukum. Aksi ini memancing netizen (alias mahasiswa) lainnya untuk bersuara terkait Menwa di kampus masing-masing. Bukan main, orang Indonesia memang rajanya roasting. Beberapa netizen berpendapat bahwa seharusnya Menwa itu dibubarkan karena tidak memberi dampak apapun kepada kampus. Ada juga yang menyindir bahwa Menwa itu adalah hansip kampus. Intinya, hanya ada satu kata: Bubarkan Menwa.

Tenang saja, saya juga mendukung statement tersebut kok. Tanpa menjelek-jelekkan seluruh Menwa di kampus Indonesia, saya juga agak bingung fungsi Menwa apa. Kalau untuk menanamkan nilai bela negara, saya yakin di mata kuliah Pancasila secara tidak langsung pasti belajar bela negara. Jika fungsinya menjaga keamanan, ada satpam kampus yang kuat-kuat. Jika poinnya adalah militer, mending ya masuk kampus militer sekalian. Ga tanggung-tanggung dan lebih jelas.

Namun pernyataan ‘Bubarkan Menwa’ itu saya yakin tidak akan bisa serta-merta diwujudkan begitu saja. Eit, bukannya saya tidak mendukung ya. Tapi saya yakin sekali para rektor seluruh kampus pasti akan berpikir dua kali tentang pembubaran Menwa ini. Saya berani bilang begini karena menurut sejarah dari pembentukan Menwa itu sendiri. Sejarahnya, Menwa dibentuk oleh Jenderal A.H. Nasution dengan tujuan agar mahasiswa menjadi kekuatan sipil sekaligus pertahanan kampus tersebut. Apabila rektor menghapus Menwa, saya yakin mereka pasti akan merasa bersalah kepada sang jenderal.

Tetapi bukan berarti Menwa tidak diberikan sanksi. Menwa tetap bersalah, apapun alasannya. Nyawa seseorang itu adalah harga yang sangat mahal, lebih mahal ketimbang daging wagyu A5 atau rumahnya Sisca Kohl. Apabila memang Menwa nggak bisa dibubarkan, minimal harus ada yang diubah dari konsep Menwa itu sendiri. Dan ini dia alternatif hal yang harus diubah dari Menwa.

Pertama, latihan fisik. Latihan fisik Menwa itu diisi dengan lari, push-up, lompat, dan gerakan-gerakan lainnya yang pasti anda lebih tahu dari saya. Menurut saya, latihan fisik ini lebih baik diganti menjadi acara gotong royong membersihkan kampus saja atau jadi kuli. Eh, jangan salah Hyung. Gotong royong itu efektif lho untuk melatih fisik. Bergerak kesana-kesini, angkat sampah, bersihin got, membantu menanam pohon, tentu saja membutuhkan kekuatan fisik yang kuat dan mumpuni. Apalagi kalau anda memilih opsi kuli, ini lebih mantap lagi. Mengangkat semen, mengangkut batu bata, mematahkan besi, mencangkul tanah, aduh berapa keringat itu yang keluar. Bersama Menwa membangun negara!

Kedua, seragam. Seragamnya nggak usah ribet atribut sana-sini. Cukup pake kaos berkerah aja. Di bagian kiri kasih logo kampus, bagian kanan kasih saku kecil. Di belakang sablon nama kampus. Di pojok kanan bagian belakang kaos kasih tulisan ‘’Idaman Mertua’’. Ya daripada mengenakan baju yang lebih kelihatan kayak cosplay tentara? Ups keceplosan.

Ketiga, Diklat. Saya masih tidak tahu kepanjangan Diklat itu apa, mungkin Pendidikan Pelatihan. Koreksi kalau salah ya. Tapi satu hal yang saya tahu, Diklat adalah saat dimana calon anggota Menwa ini dmengaplikasikan teori-teori yang didapat di alam liar guna mempertahankan hidup. Ya kira-kira mirip seperti perkemahan pramuka tapi ini versi lebih kerasnya saja. Katanya sih buat melatih mental. Menurut saya Diklat ini lebih baik diganti dengan acara Seminar ESQ saja. Ini lebih melatih, mengasah, dan mengembangkan mental. Bayangkan di malam hari calon anggota Menwa disesaki dengan kata-kata ‘’Bayangkan saat kalian sampai di rumah, ada bendera putih di pagar!!!’’ Dijamin deh, pasti semua kena mental.

Keempat, konsep dan visi. Kalau awalnya Menwa itu berkonsep menciptakan mahasiswa dengan pemahaman militer dan visi melindungi kampus, sebaiknya ganti. Konsep Menwa diubah menjadi organisasi family-friendly. Maksudnya setiap anggota dibentuk jadi pribadi yang tulus, rajin menabung, dan tidak sombong. Visinya adalah menciptakan mahasiswa yang mengayomi seluruh kampus. Percaya deh, pasti banyak yang demen sama Menwa kalau begini.

Sekali lagi, saya bukan haters Menwa kok. Ini cuma alternatif saja, seandainya memang Menwa itu tak bisa dibubarkan. Turut berduka cita untuk Mas Gilang, semoga diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Juga kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahn dan kesabaran selalu. Kepada Menwa seluruh kampus, saya juga turut berduka karena pasti nama mereka juga ikut tercoreng. Khusus anggota Menwa para pelaku kasus ini, saya tidak menaruh respek sama sekali kepada anda semua. Selamat menghadapi pengadilan dunia dan akhirat!

M. Gurtur R

Mahasiswa Unversitas Sebelas Maret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *