Membandingkan Diri Jadi Ajang Motivasi atau Frustasi?

Semua orang pasti sudah tidak asing dengan sebutan perbandingan sosial. Perbandingan sosial dapat dikatakan sebagai suatu proses ketika membandingkan diri sendiri dengan lingkungan sosial di sekitar kita. Tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang pernah bahkan sering melakukan hal itu.

Tetapi tidak perlu khawatir karena hal itu adalah wajar. Sebab, kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi. Entah interaksi secara langsung maupun tidak langsung. Bisa dengan tatap muka maupun melalui perantara social media.

Saat kita berinteraksi dengan orang lain, pasti muncul hasrat untuk menampilkan sisi terbaik dari diri kita kepada orang lain, yang seakan-akan menunjukan bahwa diri kita tidak memiliki kekurangan. Mulai dari penampilan fisik, pencapaian prestasi, kesuksesan saat bekerja, kondisi finansial, dan masih banyak lagi. 

Terlebih dengan adanya platform media sosial, banyak orang berlomba-lomba menjadi orang yang paling sempurna. Saat kita melihat kehidupan orang lain pasti membuat kita berpikir “kenapa dia sukses banget ya? kenapa hidupnya kayak gak ada masalah ya? kenapa aku gak seperti itu ya?” Pasti saat melihat orang lain yang lebih dari diri kita, di pikiran kita akan terlintas seperti itu. Padahal tidak semua yang diperlihatkan ke publik sesuai dengan realitanya.

Semakin sering kita membandingkan diri dengan orang lain akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Perasaan marah, insecure, frustasi, iri hati akan muncul dari dalam diri kita. Terkadang hal itu seringkali disepelekan. 

Sebenarnya membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu buruk, justru hal itu dapat mengoreksi kekurangan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sehingga ajang membandingkan diri dengan orang lain dapat dijadikan motivasi.

Tetapi membandingkan diri dengan orang lain akan menjadi tidak wajar apabila dilakukan dengan berlebihan dan sudah memberi dampak buruk bagi diri kita. Bukannya memberi motivasi untuk menjadi diri yang lebih baik justru membuat diri kita berdiam dan berhenti di titik yang sama.

Artinya membandingkan diri dengan orang lain ini tidak membantu kita dalam mencapai tujuan dan target yang direncanakan.

Lalu alasan apa yang melandasi setiap pribadi membandingkan dirinya dengan orang lain? Karena hal ini sudah menjadi kebiasaan. Bahkan dapat dikatakan sebagai naluri manusia yang berharap dirinya lebih baik daripada orang lain.

Hal itu didukung dengan perasaan yang tidak pernah cukup atas segala sesuatu yang sudah di raih dan capai selama ini.

Salah satu hal yang dapat mengurangi rasa ingin membandingkan diri adalah bersyukur. Jangan terus melihat ke atas tapi juga harus melihat ke bawah. Dengan begitu, di setiap kekurangan yang ada dalam diri pasti ada kelebihan yang dapat kita banggakan.

Lebih baik menggunakan waktu dengan berbagai hal positif dan membangun, dibandingkan menghabiskan waktu untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Sehingga pentingnya mengendalikan diri menjadi salah satu kunci dalam hal ini. Daripada membandingkan diri dengan orang lain dan fokus akan kelebihan orang lain, lebih baik kita belajar perlahan untuk mengenal diri kita lebih dalam lagi serta menghargai proses yang sudah kita lewati agar tidak lagi hadir perasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Pentingnya mencintai diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki akan membantu diri kita menjadi lebih baik dan bijak hingga akhirnya menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Kezia_

Sumber Foto: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.