Kesuksesan Kelompok Peron Surakarta dalam Mempersembahkan Pentas Laborat

Pada tanggal 24 dan 25 Januari 2022, Kelompok Peron Surakarta telah berhasil menampilkan Pentas Laborat yang menjadi wadah untuk menyalurkan potensi anggota baru angkatan 2021. Pada penampilan kali ini, Teater Peron mengangkat naskah karya Umar Ismail yang berjudul “Ayahku Pulang”. Pentas Laborat ini dilaksanakan di Aula Gedung F FKIP UNS.

Pementasan yang disutradarai oleh Effendy Irawan ini telah dipersiapkan selama kurang lebih satu bulan. Kumala selaku pimpinan produksi mengatakan bahwa latar belakang memilih naskah “Ayahku Pulang” karena naskah tersebut merupakan salah satu drama realis yang dianggap mudah dimainkan oleh anggota baru.

Persiapan awal yang dilakukan oleh panitia adalah mendapatkan izin dari fakultas untuk mengadakan pementasan. Meskipun terdapat batasan jangka waktu latihan, namun panitia berusaha mengakalinya dengan memulai latihan lebih awal agar pementasan ini tetap terselenggara.

Setelah mendapat izin dari fakultas,  penggarapan mulai dilaksanakan. Meskipun acara berjalan dengan lancar, Kumala menyatakan bahwa masih terdapat kendala selama latihan pementasan.

“Sempat terkendala perizinan tempat pentas karena masih di situasi pandemi, jadi tidak semua kapasitasnya bisa dipakai. Maka kita harus membatasi penonton, reservasi, dan tamu undangan juga harus di filter”, ujar Kumala (24/1).

Cara agar produksi dan pementasan selesai dalam waktu satu bulan juga menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh panitia Pentas Laborat ini. Selain menceritakan terkait kendala, Kumala juga membagikan hal menarik selama penggarapan pentas, di antaranya membangun rasa dari aktor dan bisa mengetahui dinamika pementasan.

Hal tersebut membuat ia bisa mengetahui potensi dari anggota baru Kelompok Peron Surakarta. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, yang dilanjutkan dengan pengenalan panitia dan pemeran pentas.

Adapun tokoh dari drama realis ini di antaranya Saleh (Ayah), Tina (Ibu/Istri Saleh), Andra (Anak laki-laki pertama Saleh dan Tina), Banu (Anak laki-laki kedua Saleh dan Tina), dan Asih (Anak perempuan Saleh dan Tina). Selanjutnya adalah pementasan yang bercerita tentang realita kehidupan yang sering terjadi di masyarakat.

Drama mengenai konflik keluarga yang berlangsung selama kurang lebih satu jam tersebut sangat sukses membuat penonton larut dalam cerita. “Pemerannya benar-benar mendalami peran, apalagi saat adegan Andra marah membuat saya kaget  dan saat ayahnya meninggal itu sedihnya benar-benar terasa,” kesan Putri Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2021 setelah melihat pementasan ini.

Selain itu, Putri juga membagikan hal menarik selama pementasan berlangsung. “Dari lighting dan musik. Lighting di setiap adegan membuat perasaan yang disalurkan dari pemeran benar-benar tersampaikan.

Selain itu, musiknya juga mendukung adegan, serta pemerannya benar-benar menghayati perannya, jadi dapat emosinya”, ucap Putri. Kumala berharap Pentas Laborat ini bukan menjadi akhir bagi anggota baru angkatan 2021, ia dan rekannya mengakui bahwa anggota baru dari angkatan 2021 banyak memiliki potensi dalam bidang teater.

Lebih lanjut, ia berharap hal tersebut dapat menjadi awal untuk pementasan selanjutnya dan diharapkan akan ada peningkatan yang lebih baik lagi.

Nastiti_

Syahla_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.