Keadilan Yang Berkedok Kekayaan

Hukum. Mendengar kata itu tentu yang terlintas ditelinga kita adalah tentang sebuah keadilan yang semestinya ditegakkan. Namun nampaknya pengertian tersebut hanyalah sebuah kedok untuk menutupi suatu kebusukan yang sebenarnya ada dibalik kata ‘keadilan’.

Pada saat ini tidak ada keadilan yang sesungguhnya. Semua seolah-olah adalah settingan yang menggunakan suatu barang berupa uang. Padahal zaman dahulu, hukum tidak pandang bulu, semua dianggap sama di mata keadilan hukum.

Namun sekarang semua berbeda, bahkan berbanding terbalik. Hukum seolah-olah hanya sebuah kecaman bagi mereka si pelanggar peraturan yang sudah ditetapkan dalam hukum tersebut. Bahkan, hukum sudah tidak ada harganya lagi.

Tidak ada yang namanya keadilan di zaman sekarang, semua bisa diatur dan semua bisa kita dapatkan menggunakan uang.Hal tersebut jelas merugikan rakyat kecil.

Hanya dengan melakukan kesalahan kecil yang dilandasi ketidaktahuannya, para rakyat kecil harus menerima hukuman yang amat berat. Para penegak hukum juga hanya bermulut besar tanpa peduli arti dari keadian yang sesungguhnya.

Hal tersebut tentunya membuat kita merasa geram. Adanya supremasi hukum tidak lagi berpengaruh pada orang yang beruang, mereka seolah-olah kekal dengan hukum. Peraturan yang ada tidak akan berpengaruh kepada mereka selagi mereka memiliki uang untuk menyuap para penegak hukum.

Narkoba,  pelecehan seksual, pencurian, tidak ada artinya bagi mereka yang beruang. Mereka maksimal hanya mendapat rehabilitasi, sementara rakyat kecil yang melakukan kesalahan sepele akan mendapat hukuman yang berat, bahkan bertahun-tahun penjara. Di sini sangat terlihat ketidakadilan yang merata di negeri ini.

Semua dibuat bungkam oleh uang dan fakta pun diputarbalikkan. Mulut-mulut besar hakim, pengacara, dan penegak hukum lainnya adalah mulut busuk yang disangga oleh uang. Tentu sangat memprihatinkan bagi kita, orang kalangan menegah.

Walaupun tidak merasakannya, akan tetapi kita mengetahui dan kita pasti kecewa dengan putusan hukum yang ada. Bahkan presiden pun diam, dibungkam oleh salah satu partai. Keturunan orang-orang China banyak berkuasa di negeri ini.

Mereka tidak peduli dengan landasan negeri ini, tetapi mereka hanya peduli berapa banyak uang yang diberikan kepada mereka. Setelah uang terebut diberikan, barulah mulut-mulut kotor hakim berbicara, memutarbalikkan fakta yang terjadi.

Begitulah supremasi hukum bekerja di negeri ini. Uang, uang, dan uang menjadi nomor 1, mengalahkan sumpah yang mereka buat sebelum mereka menduduki tahta negara. Mereka lupa janji dan sumpah mereka hanya karena segelintir uang.

Sungguh sangat mengecewakan bagi negara ini dan bagi para pendiri bangsa ini. Hanya satu solusi dari isu ini, yaitu pergantian penegak hukum. Tentunya digantikan dengan orang-orang yang jujur, adil, dan tidak tergila-gila akan uang.

Memang jarang, namun semoga generasi muda bangsa ini dapat menegakkan kembali keadilan di negeri ini yang sudah hilang. Hilang karena ketidaktegasan dan kerakusan para pejabat negara. Banyak pihak yang berharap sembuhnya keadilan di negeri ini.

Keadilan yang semestinya tegak, sekarang hancur hanya karena pecahan rupiah semata. Sungguh mengahrukan di negeri yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 ini.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama kembali menegakkan arti dari keadilan itu dan menegakkan arti dari supremasi hukum itu sendiri. Jika bukan kita, tidak mungkin arti dari kata ‘keadilan’ itu sendiri akan tegak dan akan lurus kembali.

Adib_

Sumber gambar : Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.