“ISTIMEWA”

Suatu hari, tepat pada tanggal 21 Mei 2021 berangkatlah 7 pemuda pemudi asal Solo ke suatu kota istimewa tepatnya Yogyakarta, kota yang sudah tidak asing lagi orang mendengarnya, kota yang menyimpan berbagai kenangan indah saat berkunjung kesana dan satu lagi, kota yang jika sudah masuk kedalamnya sulit untuk meninggalkannya.

Dimulai pukul 08.00, kami pun bergegas menuju kota tersebut dari rumah mas Sarif dengan mengendarai sebuah mobil pribadi. Sepanjang perjalanan kami pun bercerita riang tentang apapun itu mulai dari keluh kesah hingga terdengar tawa yang memuncak, hahaha unik , yashh itulah kami “random pipel” yang terpenting tidak membuat suasana sunyi.

*perjalanan sudah hampir lama dan saat ini menunjukkan pukul 10.00 an

“Yok, yang mau naik pesawat aku anterin”, ujar mas Sarif (supir kita kala itu, hehehe)

Mendengar kalimat itu, aku mulai mengerti ternyata kita sudah sampai di kota istimewa tersebut ‘yeay’ . Oiya, aku belum memberitahu kalian bahwa kita berencana untuk ke pantai dan aku diantara mereka bisa dibilang paling muda ‘angkatan 2020 beda dengan yang lain yang sudah di angkatan 19,18, dan 17 hehe..

Lanjut yaa, perjalanan ke pantai kita melewati pusat kota yaitu Tugu Jogja dan melewati jalanan Malioboro yang begitu ramai pengunjung tapi tidak lupa protokol kesehatan yaa. Dalam hatiku berkata “Pantas saja ramai, ternyata memang jogja itu istimewa ya dan aku berharap akan ada kenangan indah diakhir perjalanan nanti”.

Tidak lama kemudian, kita sampai di suatu lokasi yang bernama Landasan Pacu Pantai Depok dan dari kami segera mengabadikan momen melewati jalanan tersebut, banyak orang yang sedang berfoto-foto. 15 menit-an kami melalui jalanan yang panjang tersebut dan akhirnya kami sampai tepat saat adzan dhuhur telah berkumandang.

“Shalat dulu yuk abis itu kita makan besar *hahaha” ucap mbak yose yang mungkin kelaparan hehe

~Skip Shalat

Setelah shalat, kami melanjutkan untuk makan di tepi pantai dan yang memesan makanan adalah para lelaki. Sembari menunggu makanan aku diajak mbak gadis untuk ke turun ke bibir pantai daripada bosan hehe..

“Din, yuk kesana mau ga?” ucap mbak gadis sembari menunjuk ke arah pinggir pantai
“Ayo mbak, aku pake sepatu yaa” jawab aku

Dibibir pantai kami menikmati indahnya ombak dan air yang mendatangi kami berdua, tidak lama kemudian makanan datang dan kami dipanggil sama yang lain.

“Weh gila, siapa ni yang pesan makanan sebanyak ini” gerutu mbak Yose yang mungkin bingung apakah ini abis jika dimakan ber-tujuh

“Kan disini rencana makan besar, piye to mbak” ucap mas sarif sembari cengengesan

“Pokok e habisin, ada 2 porsi udang, 1kg kerang, 2 Ikan Nila, 1 porsi cumi, 2 bakul nasi dan 3 teko yang berisi es teh” ucap mas fernanda sembari menunjuk satu persatu pesanan.

wes angel wes” ujar aku sembari geleng-geleng kepala

Saat makan, ada aja drama-drama yang terjadi mulai dari kalau orang yang nasinya habis tiba-tiba langsung ditambahin sama yang lain dan untuk menghabiskan lauk, lauknya dihitung lalu dibagi ber-tujuh jadi perorang harus abisin sekian lauk. Pokoknya motto nya “satu masih makan, semua juga harus tetap makan” yang artinya siapa yang duluan habis akan terus ditambahi makanan sampai semua selesai makannya bareng. Solid sih tapi unik hehehe

Kami menghabiskan waktu 2 jam-an untuk makan. Iya sih lama karena kudu dikuat-kuatin walaupun kenyang hahahaha

Setelah makan, kami ber-6 menuju ke bibir pantai untuk bermain air dan foto-foto. Loh kok cuma ber-6? Yaps, karena yang satu tidak mau turun ke pantai dan lebih memilih menjaga barang-barang hehehe

Kami pun menghabiskan waktu hampir 1 jam-an untuk berfoto-foto dan bermain pasir serta air. Setelah sudah merasa lelah akhirnya kami kembali dan berjalan menuju mobil, lalu setelah itu kami dibawa ke tebing paralayang untuk menyaksikan senja. Namun, kami masih menunggu sekitar setengah jam untuk menyaksikan matahari tenggelam, sembari menunggu kami bercerita-cerita dan saling curhat.

Tidak lama kemudian, langitpun memperlihatkan senja yang begitu sangat indah. Memori mata maupun kamera betah untuk melihat eloknya senja tersebut.

“Anugrah terindah yaa, masya Allah langitnya bagus banget” ucap mbak Gadis dengan mata yang tertuju kepada senja

Lalu kami melanjutkan perjalanan yang aku sendiri pun tidak tau apakah ini langsung pulang ke Solo atau kemana dulu. Diperjalanan, kami berhenti di pom bensin untuk shalat maghrib dan shalat isya. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi dengan menyetel musik-musik jawa yang galau-galau, bisa dibilang malam itu semua yang ada di mobil seketika ambyar hahaha…

Tiba-tiba mobil berbelok lalu parkir dan ternyata kami sudah tepat di kilometer nol yogyakarta.

“loh kok kita disini ?” tanya mas Bayu

wes rapopo mas, jalan-jalan wae sampe malioboro” jawab mbak Hanis

Kemudian, kita menyebrang jalan melalui trotoar melihat beberapa orang melakukan hal yang sama, berjalan kaki lalu berfoto. Kami terus menyusuri jalanan malioboro melihat betapa indahnya jogja dimalam hari. Melihat kanan-kiri dipenuhi orang-orang berjualan mulai dari jajanan pasar hingga baju-baju khas Jogja.

“Capek gais, ini mau jalan sampe mana? “ ucap mbak Yose yang mulai kelelahan tepat saat kami berdiri didepan mall malioboro.

“Mbak beli minum yuk haus” ujar aku yang mulai lelah

“Ayok, yang lain ada yang mau nitip minum?”ucap mbak yose

wes aku manut wae. Beli yang banyak aja buat rame-rame” saran mas bayu

Akhirnya aku bersama mbak yose masuk mall hanya untuk ke supermarket membeli minuman. Tidak lama kemudian mall sudah ada tanda-tanda tutup dan aku melihat jam ditanganku, ternyata sudah pukul 21.00 lebih.

“Jalan balik ke mobil yuk udah malem” ajak mas fernanda

Sepanjang perjalanan jalan kaki ke parkiran, aku, mbak gadis dan mbak hanis mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh khas Jogja berupa bakpia kukus dan dodol.

Tepat sekitar jam 22.00 malam, kami berangkat pulang menuju Solo. Awalnya kami masih bercerita dan nyanyi-nyanyi tapi kok lama kelamaan hening, dan ternyata sudah ada beberap yang tertidur. Didalam perjalanan kami mampir ke toko oleh-oleh lagi dan mampir juga ke indomaret untuk membeli minum adajuga yang numpang ke kamar mandi.

*perjalanan pulang dengan kecepatan mobil yang tinggi*

Sekitar jam 23.30-an kami sampai di rumah mas Sarif.

“Semua, aku langsung aja ya udah malem harus anter Gadis juga” ucap mas Fernanda yang saat itu pulangnya sekalian mengantar mbak Gadis

“Aku juga duluan ya” ucap mbak Hanis yang membawa motor sendiri

yowes aku duluan ya nganter Dinda dulu soal e” ujar mas Bayu yang akan mengantarku pulang kerumah dikarenakan aku tidak membawa motor

“Aku juga deh, bareng-bareng aja motoran nanti pisah dijalan” ajak mbak Yose

“Yo, hati-hati dijalan nanti kalo udah sampe rumah masing-masing kabarin aku yo” ucap mas Sarif sebelum kami jalan pulang.

Diperjalanan menggunakan motor aku berkata dalam hati “Akhirnya jogja telah membuat kenangan indah untuk hari ini”

-TAMAT-

Dinda_

Sumber gambar: google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *