Harga Minyak Naik, Rakyat Makin Panik

Kenaikan harga minyak goreng dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dikondisi pandemi selama bulan Ramadan membuat rakyat pusing tujuh keliling.

Hari itu, Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) dipenuhi puluhan kendaraan yang berbaris rapi dari ujung ke ujung. Sebenarnya pemandangan ini biasa dan wajar, mengingat bahwa kebutuhan BBM adalah kebutuhan primer setiap orang.

Namun ada sebuah kejanggalan dalam barisan kendaraan tersebut. Para pengendara motor hanya berbaris di stasiun Pertalite.

Stasiun minyak Pertamax hanya diisi oleh pengendara mobil dan truk. Padahal biasanya stasiun pertamax juga selalu penuh dan ramai, namun kali ini Pertalite menguasai para pengendara motor.

Usut punya usut, ternyata alasan stasiun pertalite dipadati oleh pembeli dikarena kenaikan harga Pertamax yang sangat tinggi. Pada mulanya harga Pertamax Rp9.000 per liter, kini menjadi Rp12.500 per liternya.

Kenaikan yang cukup drastis dan secara tiba-tiba ini membuat masyarakat menurunkan daya beli Pertamax. Masyarakat yang biasanya bisa membeli dengan minimal harga Rp10.000 kini harus menaikkannya dengan harga Rp15.000 jika ingin mendapatkan Pertamax.

Di satu sisi, kondisi ekonomi masyarakat tidaklah sama. Tidak semua rakyat ingin mengeluarkan harga sebanyak Rp15.000 untuk membeli bahan bakar.

Maka, mereka memilih alternatif lain, yaitu Pertalite yang untungnya tidak ada kenaikan harga. Harganya memang tidak naik, namun masyarakat harus siap menunggu lama demi mendapatkannya.

Beberapa masyarakat yang lelah atau malas mengantri kemungkinan akan memilih minyak eceran berkemasan botol yang dijual di pinggir jalan. Harapan mereka minyak eceran tetap bisa dijangkau secara ekonomis.

Namun semua itu patah karena minyak eceran kini juga mengalami kenaikan. Salah satu penjual minyak eceran mengungkapkan, ‘’Minyak sekarang 15 ribu, soalnya ini Pertamax,’’ ungkap penjual.

Pemerintah mengkonfirmasi bahwa kenaikan harga Pertamax salah satunya adalah karena konflik perang Rusia-Ukraina. Keadaan memaksa rakyat untuk mendapatkan minyak dengan mengorbankan semuanya dari pagi hingga malam.

Petugas SPBU tidak berhenti mengisi kendaraan dengan cairan-cairan minyak. Tangan mereka terus menerus menerima, menghitung, dan memberikan uang kembalian kepada pelanggan.

Selain BBM, minyak goreng pun juga mengalami kenaikan yang sangat drastis. Beberapa bulan lalu rakyat dikejutkan dengan pernyataan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi yang menurunkan harga minyak goreng di tanah air menjadi Rp14.000 per liter.

Sontak saja minyak menjadi buronan, khususnya di kalangan ibu-ibu. Seluruh sendi rakyat berburu minyak goreng ke semua tempat, bahkan ada beberapa yang bertindak anarkis.

Ada yang menyelundupkan minyak goreng, ada yang melakukan serangan fisik ke pelanggan lain, dan ada pula yang mengkudeta minyak. Minimarket sudah bukan menjadi tempat belanja lagi, melainkan medan perang.

Ungkapan “siapa cepat dia dapat” berlaku di situasi ini. Karyawan-karyawan minimarket hanya bisa diam dan pasrah melihat peperangan di tempat kerja mereka. Ingin mencegah tidak bisa, jika melawan malah diamuk ibu-ibu.

Orang bijak mengatakan bahwa kekuatan 10 ibu-ibu setara dengan 100 pasukan kerajaan Majapahit.

Disini teori ekonomi juga telah diterapkan, yaitu ketika permintaan (demand) banyak namun persediaan (supply) sedikit maka harga akan naik. Kini jika kita masuk ke minimarket atau supermarket minyak goreng dibanderol dengan harga yang lumayan fantastis, yaitu berkisar Rp40.000 sampai Rp50.000 untuk dua liter.

Kenaikan ini membuat beberapa masyarakat memburu minyak goreng secepat mungkin. Minyak goreng menjadi buronan utama dalam perbelanjaan, bahkan sudah mencapai ke tahap kondisi bernama panic buying.

Bukan itu saja, minyak goreng pun juga banyak yang tidak didistribusikan kepada masyarakat dengan berbagai alasan. Ada yang menyelendupkan, ada pula produsen yang enggan mendistribusikan, dan stok yang tidak cukup.

Harga minyak goreng dan BBM yang naik tidak membuat masyarakat membaik, justru semakin panik. Khususnya di bulan Ramadan seperti ini, keduanya menjadi hal primer yang harus ada dan wajib tersedia di setiap keluarga.

Kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga perminyakan harus segera dikaji ulang dan dicari jalan keluarnya agar taraf hidup rakyat dapat meningkat.

Guntur_  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.