Good People Among to Bad

Hani!” Teriakan itu menggelegar memenuhi kantin. Gadis itu kini menjadi pusat perhatian semua orang.

“Bukan temanku, maaf aku tidak kenal,” ucap Hani sambil menutupi wajahnya. Sahabatnya itu kadang memang membuatnya malu. Kini gadis itu duduk dan menyerobot Es Cappucino milik Hani. 

“Kok dihabisin si Nina, aku kan baru minum sedikit,” sambil memasang muka melas meratapi es yang sudah raib.

“Habisnya aku haus, diluar lagi panas dan pas banget ada minuman nganggur,” tutur Nina.

Hani hanya bisa menghela nafas melihat tingkah sahabatnya itu.

Nina sebenarnya sama seperti gadis pada umumnya. Parasnya cantik, senyumnya manis ditambah lesung pipi di sebelah kanan dan kulit kuning langsat.  Tapi tunggu dulu, sifatnya tidak seperti gadis lainnya. Nina itu tomboy, petakilan, dan out of the box.

“Mau ngapain kesini?” Tanya Hani.

“Mau bakar kantin! Ya makan lah pake nanya,”  ujar Nina sewot.

Nina beranjak ke penjual soto di kantin ini dan kembali dengan semangkuk soto dan 2 gelas capucino. Katanya sih buat ganti punya Hani yang ia minum tadi. 

Nina tuh sebenernya baik, dia tipe sahabat yang kalau ngomong to the point, males basa-basi dan agak nyeleneh.

Mereka berdua dipertemukan sejak masih duduk dibangku SMA, dulu Hani adalah murid pindahan yang cukup pendiam, saat hari pertama tak ada yang mendekati karena penampilannya saat itu cukup aneh dengan kacamata bulat, rambut model bob berponi. Sangat tidak modis.

Mengingat bagaimana mereka menjadi sahabat kadang sedikit membuka luka bagi Hani. Karena pada saat itu yang terjadi adalah Nina menyelamatkan dan membantu Hani bullying masa SMA.

Flashback

Kelas olahraga berakhir dan siswa harus mengganti seragam. Namun saat akan membuka pintu kamar mandi, tangan Nina dicekal seseorang.   Nindi and the genk, mereka berjumlah 4 orang gadis, selain Nindi ada Rara, Sona dan yang terakhir paula.

“Si cupu mau ganti baju ya?” Ucap Nindi nada mengejek kepada Hani.

“Kalau ditanya itu dijawab”, tangan Hani dicengkram kuat oleh Nindi.

“M-maaf aku mau ganti, bentar lagi bel masuk,” ucap Hani terbata-bata.

Hani pun masuk ke kamar mandi dan bergegas mengganti seragam. Sayup-sayup ia mendengar Nindi dan teman-temanya berbicara tapi entah apa ia memilih tak peduli.

Sedangkan di luar kamar mandi,

“Kenapa dilepas gitu aja sih, Nin?” Tanya Rara heran.

“Siapa bilang dilepas. Sona, ambilin aku satu ember air, terus kalian berdua jagain depan ya, jangan sampe ketahuan!” Perintah Nindi.

Mereka bersiap di samping pintu kamar mandi yang ditempati Hani. Saat Hani akan keluar, ia disiram seember air yang membuatnya basah kuyup, namun kemudian Nindi dan teman-temannya kabur begitu saja.

Hani tak lagi bisa menahan tangisnya, ia merasa tidak berdaya. Ia mencoba mengelap sisa air dengan baju olahraganya, namun upaya itu tak memperbaiki keadaannya. Ia bingung bagaimana caranya ia keluar dalam keadaan basah begini.

Saat Hani memutuskan keluar, tiba-tiba saja.

“Kok gak bisa dibuka?” tanyanya pada diri sendiri.

Sebelum meninggalkan kamar mandi, Nindi dan teman-temannya mengunci pintu tersebut dan memasang tulisan “Kamar Mandi dalam Proses Perbaikan” agar tidak ada yang membuka. Hani menggedor pintu dan berteriak meminta tolong. Namun sayang hingga 10 menit tak ada yang membukakan, ia mulai pasrah.

Tiba-tiba gagang pintu bergerak seperti ada yang membukanya. Pintu terbuka menampilkan gadis cantik dengan celana training dan kaos oblong biasa. Seperti bukan siswa disini karena penampilannya tanpa seragam.

Gadis tersebut langsung meminjamkan baju yang ia bawa kepada Hani karena melihat Hani harus segera masuk ke kelas. Hani merasa beruntung akan hal tersebut.   Tak butuh waktu lama Hani berganti baju. Mereka sedikit berbincang, ternyata gadis ini satu kelas denganku tapi saat aku masuk pertama kali ia sedang karantina untuk lomba jadi baru kali ini bertemu.

Mereka jadi sering ngobrol, dan lambat laun mereka jadi akrab dan kemana-mana bersama. Ya, Gadis itu adalah Nina, gadis yang kini menjadi sahabat baik dan orang yang tidak akan meninggalkannya.

Akan ada orang baik di sekitarmu, bila tak kau temukan maka jadilah salah satunya.

Alvia_

Sumber foto: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.