Forum Diskusi

Diskusi tentang buku karya Achdiat K Mihardja saat ini berlangsung sangat panas. Pelototan-pelototan yang bermakna intimidasi saling mengurung orang-orang dalam forum diskusi itu. Cuaca dingin selepas hujan angin tak membuat nuansa panas dan mencekam dalam forum terkurangi. Malah-malah diskusi berlangsung semakin panas hingga membuat gerah dan geram seketika. Mereka mendiskusikan habis-habisan isi dan makna dari novel Atheis yang sangat booming. Dalam novel itu, Hasan sebagai tokoh utama memiliki kebimbangan atas kepercayaan yang dianutnya. Ia merasa terombang-ambing dalam dua bisikan hati yang memilih apa yang dianut dan diajarkan oleh ayahnya sejak kecil atau memilih memenangkan logika dan penalaran sahabat kecil yang baru saja bertemu dengannya setelah sekian tahun. Rusli namanya, sahabat Hasan yang kini telah menjadi seorang atheis dan memiliki cita-cita untuk menerapkan dan memperjuangkan ideologi Marxisme-Lenimisme untuk diterapkan di Indonesia.

Ahlan menatap sisi kanan ketika profesor tua itu berbicara lantang tentang teori-teori ketuhanan. Ia mengambil sebuah bolpoin merah dan menuliskan satu kata besar di kertas sobek bersamaan dengan kata-kata lain yang terlebih dahulu telah ia tulis. Remaja laki-laki itu tersenyum puas ketika kata yang ia inginkan telah terlukis apik di kertas sobek itu.

            “Apa yang kau tulis? Orang gila?” Ahlan menoleh menatap laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya. Laki-laki itu memakai sweter hiitam kebesaran, sama persis dengan sweter yang dikenakan Ahlan.

            “Lalu apa? Aku hanya menulis kesimpulan sesuai yang mereka minta Praha,” jawab Ahlan dengan mengedipkan mata.

            “Cukup Prof. Tama, terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Baik, sekarang kita akan mendengarkan pendapat dan sanggahan dari Prof. Aida, silakan Prof.” Moderator kembali berjalan kearah Prof. Aida untuk menyerahkan mikrofon. Profesor itu berdiri dan sedikit menunduk dan tersenyum kepada bapak bupati untuk kemudian mengawali prakata pendapat dan sanggahannya.

            “Aku sangat terganggu dengan perkataan Prof. Tama yang menyatakan bahwa manusia yang mempunyai otak pastilah menyadari bahwa dalam dirinya ada kekuatan yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Aku balikkan pernyataannya bagaimana manusia bisa tau bahwa ada ruh lain yang mengendalikannya sementara ia menyakini ruh terkuat sebagai pengendali jasad dalam dirinya adalah ia sendiri? Apakah dengan ini dapat kita simpulan bahwa Tuhan yang digaungkan adalah diri sendiri? Seperti ini misalnya.” Prof. Aida berdiri dan naik ke atas meja. Ia menggerai rambutnya dan mengibaskan rambut itu seraya meliuk-liukkan badan dan tangannya. Senyum menghiasi wajah perempuan itu yang tengah menari. Semua mata pria yang berada di ruang diskusi itu tertuju kearah Prof. Aida. Bahkan pak bupati ternganga saking terpesona dengan tarian Prof. Aida.

            “Aku bahkan tak hanya bisa mengendalikan tubuhku, tapi juga tubuh orang lain,” imbuh Prof. Aida setelah turun dari meja dan duduk di tempat semula.

            “Ijin menanggapi moderator.” Seorang pria tiba-tiba berdiri meminta instruksi dari moderator. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak dengan bawahan celana hitam dari benang sutra. Pria itu berdiri dengan dua pria lain berbaju hitam yang sedari tadi berdiri di belakangnya.

            “Aku akan memberi pujian penghargaan terlebih dahulu kepada Prof. Aida atas sanggahannya. Begini, manusia tentu memiliki kekuatan untuk merubah apa yang ada pada dirinya. Itulah yang disebut sebagai kekuatan diri. Maka aku sangat setuju atas teori dari Darwin yang menyebutkan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi menjadi manusia modern dan-“

            “Hei bodak! Jika begitu kenapa kau selalu marah jika aku menyebutmu monyet! Pendapatmu itu tentu tak berimplementasi.” Prof. Tama berdiri memotong perkataan laki-laki berkemeja kotak-kotak itu secara lantang. Ia menatap Prof. Budi dengan sengit. Laki-laki berkemeja itu, Prof. Budi mengedipkan mata kepada pria berbaju hitam yang berdiri di belakangnya. Pria berbaju hitam itu kemudian berjalan mendekati Prof. Tama yang tengah tersenyum-senyum. Ia bersalaman dengan Prof. Tama sembari berbisik hingga Prof. Tama mengangguk dengan wajah berseri-seri.

            “Racun? Apa maksudnya racun Ahlan?” bisik Praha kepada Ahlan dengan muka kebingungan ketika Ahlan menulis kata racun di sobekan kertasnya.

            “Racun yang tengah menjadi ancaman negara kita ini Praha, ketika suara seseorang dibungkam dengan harta kekuasaan.”

            “Baiklah, aku akan melanjutkan ucapanku. Prof. Tama, benarkan kau berpendapat bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan dari tanah?” Prof. Budi melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terpotong karena senggakan Prof. Tama. Ia mengarahkan pandangannya kepada Prof. Tama yang tengah tersenyum-senyum.

            “Betul sekasi Prof. Budi,” jawab Prof. Tama mengangguk-anggukkan kepalanya.

            “Pak moderator, dengan jawaban Prof. Tama ini dapat disimpulkan bahwa jika manusia diciptakan dari tanah, secara tidak langsung bukankah itu menandakan bahwa kita semua bersaudara dengan guci dan gerabah? Maka dari itu Pak Moderator, aku sangat setuju dengan pemikiran Darwin yang menyebut nenek moyang manusia adalah kera. Aku pun salut dengan pemikiran Rusli yang menyatakan bahwa Tuhan itu diciptakan oleh manusia. Ketika manusia tidak mampu untuk menahan beban kehidupannya, maka ia akan mencari penguatan lain sebagai sandaran kekuatan. Oleh karena itu, manusia menciptakan Tuhan. Ideologi Rusli ini sangat realistis bukan?,” ujar Prof. Budi. Semua orang yang bedara di forum diskusi itu tertegun mendengar pernyataan dari Prof. Budi. Bersamaan dengan penuturan akhir itu, suara lonceng pertanda waktu berakhirnya forum diskusi menggema ke penjuru ruangan.

            “Baiklah, suara lonceng telah berbunyi pertanda diskusi kita kali ini telah mencapai akhir. Untuk itu, sebagai moderator saya ucapkan terima kasih atas pastisipasi profesor-profesor hebat dari kota ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Pak Bupati yang telah berkenan mengunjungi dan melihat keberjalanan diskusi profesor-profesor di kota kami. Terakhir, untuk saudara Ahlan dan Praha selaku perwakilan forum pemuda berprestasi, silakah memberikan kertas simpulan kepada pak bupati sebagai pembanding dan penilaian atas integrasi kota ini.” Ahlan dan Praha berjalan kearah pak bupati untuk memberikan selembar kertas simpulan yang tadi telah ditulis Ahlan.

            “Sudahkah kau tulis nomor profesor cantik itu?” bisik pak bupati kepada Ahlan ketika mereka teah berdekatan.

            “Tentu Pak Bupati,” jawab Ahlan dengan mengacungkan jempol.

***

Seluruh profesor-profesor mengantarkan pak bupati keluar dari balai kota yang tadi digunakan sebagai forum diskusi. Setelah itu para profesor-profesor kembali ke rumah masing-masing yang jaraknya tak jauh dari balai kota. Ahlan dan Praha berdiri di tangga kemegahan balai kota. Mereka mengamati profesor-profesor yang berjalan ke rumah masing-masing. Terlihat Prof. Budi bersama dua pria berbaju hitam yang berjalan di belakangnya menuju ke arah sebuah toko bertulis Guci & Gerabah. Prof. Tama dengan wajah sumringahnya berjalan ke arah penjual durian seberang balaikota sambil mengacung-acungkan dua lembar uang seratus ribu. Prof. Aida berjalan ke arah bangunan tinggi berlantai tiga di sebelah taman kota timur toko Prof. Budi. Sedangkan pak moderator terlihat sedang mengeluarkan gerobak yang berisi sayur-sayuran yang tadinya diletakkan di gang sebelah balaikota.

Ahlan dan Praha saling berpandangan melihat mobil pak bupati yang telah hilang ditelan belokan. Mereka berdua bergegas berjalan ke seberang balaikota menutu ke tempat fotocopyan. Sesekali mereka terlihat saling mendorong dan tertawa cekikikan.  

***

Di dalam mobil, pak bupati segera membuka kertas kesimpulan yang tadi diberkan oleh perwakilan forum pemuda berprestasi itu. ia membuka kertas lusuh itu tergesa-gesa. Ketika kertas telah terbuka, alangkah terkejutnya pak bupati mendapati tulisan yang sama sekali tak dimengerti maksudnya.

Kesimpulan :

1. Tukang Sayur

2. Orang Gila Harta

3. Jalang Kota

4. Juragan Gerabah

5. Racun

Telp 080 777 888 999

Pak bupati tidak menghiraukan tulisan yang berada di kertas kesimpulan itu. Yang ia cari hanyalah sebuah nomer seorang profesor muda pandai nan cantik yang telah memikat hatinya. Dengan segera pak bupati mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang tertera di kertas itu. Tak lama kemudian, telefon menyambung kepada suara diseberang sana yang menyambut dengan ramah.

            “Halo, dengan Motel Langsung Puas. Ada yang bisa kami bantu?”

Lulun_

Sumber gambar: google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *