Elynor dan Ladang Dandelion

Elynor, gadis bersurai coklat gelap itu beranjak dari kasurnya ketika hujan mulai reda. Namun, langkahnya terhenti saat wanita bergaun sederhana berdiri menatapnya lelah. Elynor mendengus malas lantas memakai mantelnya, berlalu keluar. “Apakah kau mencuri susu di peternakan Tuan Carlos lagi, Elynor?” tanya Nyonya Emmary keras. Namun, gadis itu tak menjawab dan berlalu pergi. 

“Bagaimana bisa Ibu selalu menipuku dengan air cucian beras yang dimasak dengan gula lalu mengatakan bahwa itu adalah susu terbaik yang diperah di peternakan Tuan Carlos,” ujar Elynor sinis.  

Tak lama Elynor sampai di ujung desa, ia duduk termenung di bawah pohon ek lalu merogoh saku mantelnya mengeluarkan sebotol susu. Elynor mengedarkan pandang ke sekelilingnya, matanya tak kunjung lepas menelisik ladang dandelion luas di hadapannya, seolah ada rahasia di balik bunga rumput yang mulai meninggi itu. Hembusan angin turut menerbangkan benih-benih dandelion yang sangat rapuh, menerpa wajah Elynor kemudian terbang tinggi bersama angin.  

“Pencuri cerdik,” ujar seseorang dari balik pohon ek. Elias, pemuda berkulit putih pucat itu duduk di samping Elynor. “Mengapa setiap hari kau mencuri susu padahal kau tetap minum susu buatan Ibumu?” tanya Elias datar. 

“Tentu saja untukmu, ambilah!” 

“Tidak.” Elias menolak cepat. “Mengapa kau selalu menolak susu pemberianku?” tanya Elynor meninggi. “Karena sejak awal memang bukan untukku,” jawab Elias dingin. “Apa maksudmu?” 

“Susu hasil curian, kau benar-benar menyinggungku,” gerutu Elias. 

“Aku tidak mencurinya, sungguh. Aku menukar lima koin untuk sebotol susu. Hanya saja aku meletakkannya diam-diam di kotak Tuan Carlos,” ujar Elynor meyakinkan. “Aku kasihan padamu, Elias. Kau terlihat kekurangan kalsium, wajahmu pucat dan tulangmu tidak berkembang.” 

“Apa kau tidak melihat dirimu sendiri, Elynor? Bahkan kau tetap saja kurus!”  

“Hei Elias, apa kau juga tidak pernah berkaca? Lihatlah, kau sama sekali tidak menua!” Elias terdiam, ia menatap Elynor lekat. Iris cokelat itu mulai redup, berbeda dengan miliknya. Elynor berkedip, lantas dengan gerakan kilat Elias mengambil alih botol susu gadis itu. “Apakah kau belum sadar, Elynor?” belum sempat gadis itu membuka mulut, dari jarak 200 meter ia melihat ibunya menangis sambil memanggil-manggil namanya. Hingga sampai di tepi ladang dandelion, Nyonya Emmary kembali berjalan, semakin jauh dan hilang di antara bunga-bunga dandelion yang lebat. 

“Mengapa Ibu ke sana?” tanya Elynor. Elias tak menjawab lalu menarik Elynor agar ikut bersamanya menyusul Nyonya Emmary. Ternyata di tengah ladang dandelion itu terdapat sebuah tanah lapang kecil, Nyonya Emmary terduduk di sana, menangis pilu sambil merebahkan kepala di atas tanah yang sedikit tinggi.  

“Nyonya, pulanglah, sebentar lagi hujan akan turun lagi,” ujar Elias hati-hati. Nyonya Emmary tidak menjawab, ia terus menangis. “Elynor menitipkan ini untukmu.” Perlahan suara tangis Nyonya Emmary mereda, wanita itu menoleh lantas menerima sebotol susu yang diulurkan Elias. 

Di tempatnya berdiri Elynor tampak bingung. Yang ia tahu, dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat saat Ibunya pergi melewatinya begitu saja seusai mengucapkan terima kasih pada Elias. Elynor mendekat, ia memindai ukiran nama di atas papan kayu yang memberi rasa sakit amat dalam untuknya. Bak dihantam godam, gadis itu terduduk lemas di rerumputan.  

“Elynor Saveline.” 

“Kau tidak pernah mencuri, semua hanya ilusi mu. Lima koin dan sebotol susu.” 

Seperti diseret oleh mesin waktu, Elynor berdiri di tepi jalan, bersiap menyebrang sambil menggenggam susu yang akan diberikan kepada Ibunya. Beranjak tiga langkah dari tempatnya berdiri, truk pengangkut jerami datang menghantam tubuh kurusnya hingga terpelanting ke ujung jalan dengan bersimbah darah.  

“Sejak awal susu itu untuk Ibumu, Elynor. Tujuan utamamu berubah saat kita bertemu di bawah pohon ek kala itu, kau merasa kasihan dengan wajah pucat ku yang kau kira kekurangan kalsium. Hingga kau membuat ilusi dan lupa dengan apa yang terjadi. Hari ini tepat lima tahun kematianmu, tepat di saat Ibumu berulang tahun.” 

“Kenapa kau bisa melihatku? Tidak mungkin kau juga hantu sebab Ibu bisa melihatmu tapi tidak denganku,” racau Elynor sambil mengusap pipinya. Nihil, tidak ada air mata tapi rasanya sakit sekali.  

Elias menunduk, ia meraba kedua bola matanya lalu menatap Elynor intens. “Aku seorang vampire, 

Elynor. Lihat … ini hanyalah lensa kontak,” ujar Elias menutup rasa penasaran Elynor.  

Della Putri_

Sumber Gambar: google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.