Dua Belas Tahun Berjualan, Baru Pertama Merasakan Penjualan Turun

Ngatinem menuturkan tidak menyangka warungnya akan sepi. Ia merasa selama 12 tahun berjualan, warungnya selalu ramai dan tidak pernah sepi.

Mendirikan warung makan di sekitar kampus terbilang menjanjikan dan menggiurkan. Begitu pula di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), ada banyak warung makan tersebar di area sekitar kampus. Hal ini dikarenakan tempat yang strategis dan banyak peminat, khususnya mahasiswa.

Biasanya warung makan menyediakan berbagai sayur matang dan lauk pauk lainnya. Rumah Lauk Monggo Pinarak salah satunya, pernah menjadi favorit mahasiswa pada masanya.

Ngatemi merupakan sosok penjual nasi sayur dibalik Rumah Lauk Monggo Pinarak. Warung ini berada di  Jalan Halimun, Jebres. Tempat ini terbilang cukup sempit, karena hanya muat 4-6 orang makan di tempat dan berada di tengah kompetitor lainnya.

Ia pertama kali membuka warungnya pada tahun 2010. Kesehariannya diisi dengan berjualan nasi dan lauk pauk. Sesekali ia juga menerima pesanan dalam jumlah besar.

Meski sudah di usia senja, Ngatemi masih memiliki semangat tinggi dalam berjualan.  Ia selalu tersenyum dan bersikap ramah pada pembeli yang datang. Pelayanan yang menyenangkan ini selalu membuat pembeli ingin datang lagi. Sebelum masa pandemi, warung makan milik Ngatemi bisa mencapai 3-4 kali menanak nasi.

Dalam mengelola warungnya, Ngatemi tidak sendiri. Ia dibantu anak-anaknya untuk berbelanja bahan dasar di pasar. Sedangkan memasak dan melayani pembeli dikerjakan Ngatemi seorang diri. “Saya selalu dibantu sama anak-anak mba. Anak yang belanja, saya yang masak,” ujarnya saat diwawancarai langsung pada Minggu (26/06). Ia membuka warung pada pagi buta dan tutup pada selepas maghrib.

Rumah Lauk Monggo Pinarak memiliki menu favorit yaitu lotek dan juga nasi kuning. Selain itu menyediakan ayam kecap, gorengan, semur gereh (ikan asin), dan masih banyak lainnya.

Tidak hanya makanan saja, Rumah Lauk Monggo Pinarak menyediakan minuman seduh, makanan ringan dan juga air mineral. Namun untuk saat ini, warung sederhana milik Ngatemi tidak lagi menjual lotek karena sepi pembeli.

Seperti masyarakat pada umumnya, Ngatemi juga merasakan dampak dari pandemi covid-19. Selama 2 tahun ia menutup warung dan hanya menerima pesanan saja.

“Waktu pandemi itu saya sampai tutup warung 2 tahun mba. Ini baru buka lagi, mau berdiri lagi. Ya baru sebulanan lah,” jelasnya. Ia mulai membuka kembali warungnya karena mulai banyak mahasiswa luar domisili Solo Raya, datang dan menetap di kostnya lagi. Meski begitu, selama 1 bulan ini tidak pernah masakannya terjual habis.

Ngatemi awalnya tidak menyangka warungnya akan sepi. Ia merasa selama 12 tahun berjualan, warungnya selalu ramai dan tidak pernah sepi. Ngatemi mengungkapkan salah satu penyebab warungnya sepi pembeli.

“Selain karena pandemi ya sekarang kan orang orang pakai online gitu to mba. Lah saya kan ga paham HP, jadi ya ketinggalan,” ujarnya dengan nada sedih.

Ngatemi merasa ia tertinggal perkembangan zaman. Sedangkan ia juga tidak mampu belajar menggunakan gawai. Inilah yang menjadi penyebab terbesar warungnya yang sepi.

Ia tidak bisa bersaing dengan kompetitor atau warung lainnya, yang sudah maju menggunakan aplikasi pesan antar makanan. Meskipun begitu, dibantu sang anak, ia menjual olahan kentang crispy secara online hingga pengiriman luar kota. “Lumayan mba, buat nambah-nambah,” ujarnya.

Meskipun tidak banyak pembeli, Ngatemi selalu berusaha membuka warungnya untuk saat ini. “Mau mempertahankan apa yang ada aja lah mba,” ucapnya sambil tertawa.

Ia menjadikan warung miliknya sebagai cara ia bertahan dalam masa-masa sulit ini. Ia hanya ingin bertahan, meskipun belum banyak peminat seperti dulu.

Selain berjualan di warung, Ngatemi masih menerima pesanan nasi kuning dan juga nasi kotak. “Kebanyakan dari ISI mba yang pesan,” tambahnya. Ngatemi juga bersyukur memiliki banyak kenalan yang sudah mapan.

Berkat kenalannya, warung miliknya masih berdiri. “Yang sekarang sering nglarisi malah kenalan dari jauh mba, yang sudah mapan,” jelasnya.

Kedepannya, Ngatemi berharap warungnya kembali ramai seperti dulu. “Ya saya sih pasti berharap bisa ramai lagi ya mba, paling tidak bisa untuk balik modal,” ujarnya penuh harap. Selain itu, ia juga berharap tahun ini mahasiswa mulai masuk kost lagi dan memulai perkuliahan tatap muka. Karena hal itu sekaligus memberinya harapan agar warungnya kembali ramai.

Fiki Zahwa_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.