Desa Tumang: Desa Pengrajin Tembaga di Lereng Gunung Merapi

Desa Tumang dikenal sebagai desa sentra industri kerajinan tembaga dan kuningan di Boyolali. Desa yang terletak di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali ini dapat dicapai dari jalur Solo-Selo-Boyolali ataupun melalui jalur Boyolali-Ampel ke arah barat. Desa Tumang ditetapkan sebagai salah satu desa wisata pada masa pemerintahan Presiden Megawati. Penetapan Desa Tumang sebagai salah satu desa wisata pada tahun 2002 tersebut menjadikan nama Desa Tumang, Boyolali menjadi semakin terangkat. Salah satu alasan penetapan desa wisata tersebut karena Desa Tumang terletak dalam jalur wisata SSB yaitu Solo – Selo – Boyolali, sehingga dapat semakin mengangkat nama kota Boyolali.

Produk yang dihasilkan dari tembaga dan kuningan tersebut beberapa diantaranya berupa keperluan rumah tangga, seperti seperangkat gelas, teko, dan dandang. Seiring dengan perkembangan zaman, tembaga dan kuningan ini pun mulai dikembangkan menjadi kerajinan dalam bentuk kesenian, seperti hiasan dinding, lampu hias, dan ukiran.

Salah satu pengrajin tembaga dan kuningan di Desa Tumang adalah Bapak Beni Daryanto. Bapak Beni mengaku sudah menjadi pengrajin tembaga secara mandiri sejak tahun 2001. Ruang tamu rumahnya difungsikan sebagai display room dan di samping rumahnya ada sebuah bengkel tempat dirinya dan para pekerjanya membuat kerajinan dari tembaga.

Ketika baru merintis usahanya, Pak Beni memasarkan produknya dengan mengikuti berbagai pameran. Lama-kelamaan, produknya mulai dikenali dan pesanan mulai berdatangan. Lama pembuatan setiap produk kerajinan yang dibuat Pak Beni sangat bervariasi, ada yang bisa selesai dalam hitungan hari, ada yang bahkan berbulan-bulan baru bisa diselesaikan.

“Untuk satu item lampu, katakanlah untuk lampu meja atau lampu kamar atau lampu dinding kecil per satu hari mungkin jadi. Tapi kalau untuk yang lampu besar itu bisa sampai dua minggu, bisa satu bulan untuk satu item,” terang Pak Beni.

Salah satu proyek terbesar yang pernah di kerjakan oleh Pak Beni adalah pengerjaan Kubah Masjid Mujahidin Pontianak yang memiliki diameter 40m. Proyek ini dikerjakan oleh Pak Beni dengan kurun waktu yang bisa dibilang cukup lama yaitu mencapai 9 bulan pengerjaan di tempat produksi. Bukan hanya itu, Pak Beni juga mengerjakan instalasi masjid selama 6 bulan lamanya. Untuk pemasangannya sendiri ditenagai oleh produsen, yaitu dari tim Pak Beni. Karena ini merupakan proyek yang besar, Pak Beni beserta timnya harus mengerjakan proyek ini secara teliti dan detail sehingga menghasilkan hasil yang maksimal dan sempurna.

Harga yang dipatok untuk setiap item juga sangat bervariasi, tergantung dari lama pengerjaan dan tingkat kesulitan. Ada yang dihargai sekitar Rp 500.000,00 per itemnya, ada juga yang bisa mencapai Rp 50 juta per itemnya.

Di tengah pandemi COVID-19 ini, Pak Beni mengaku sedikit kesulitan dalam memasarkan produknya. Hal itu dikarenakan klien dari Pak Beni sendiri kebanyakan berasal dari luar Pulau Jawa.            

“Untuk pesanan kita tetap berkurang karena, kan, tamu yang dari luar daerah itu dibatasi dan sedangkan pasar kita itu, kan, banyak yang dari Bali, dari Kalimantan. Itu yang mempengaruhi pemasaran kita,” tuturnya

Sekar Kinasih

Program Studi Komunikasi Terapan

Universitas Sebelas Maret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *