Dark Comedy: Nikmat tapi Menyiksa

Kita merupakan makhluk hidup yang memiliki perasaan. Sedih, senang, maupun cemas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Perasaan senang biasanya diidentikan dengan nuansa riang, gembira, serta penuh tawa.

Berbicara tentang tertawa, pasti langsung terlintas di pikiran kita pada lelucon, komedi, atau guyonan. Komedi pada saat ini sudah dapat dikatakan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Sebab kita lihat saja dari banyaknya orang-orang yang mendapatkan sesuap nasi dari melemparkan sebuah candaan.

Tidak ada masalah jika sebenarnya komedi dijadikan bahan komersil. Ini dikarenakan dalam merancang suatu bahan candaan diperlukan upaya memeras otak yang melelahkan.

Orang yang mempertontonkan komedi di depan umum dapat diibaratkan seperti orang yang kepalanya sudah diciumkan dengan ujung pistol. Apa yang keluar dari mulut mereka sangat berpotensi menusuk hati suatu golongan tertentu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun juga mengiyakan hal ini dari definisinya yang menyatakan komedi sebagai suatu sandiwara ringan yang penuh dengan kelucuan yang meskipun kadang-kadang menyinggung dan berakhir pada kebahagian.

Banyak orang saat ini yang justru dalam berkomedi menekankan pada singgung-menyinggung tersebut yang melahirkan istilah dark comedy. Ranah yang disinggung pada gaya komedi ini pada suatu hal yang dirasa tabu untuk kita tertawakan.

Masa kini justru gaya komedi seperti ini diminati oleh orang-orang. Masifnya konten-konten yang diantarkan dengan komedi ini menjadi salah satu faktor banyaknya peminat komedi ini.

Lingkungan pada saat ini yang penuh dengan penderitaan juga membuat semakin melimpahnya bahan baku untuk membuat candaan seperti ini. Pada dasarnya sebenarnya dark comedy ini seperti menertawakan penderitaan orang lain.

Lantas pantaskah kita menertawakan penderitaan orang lain? Penulis sendiri tidak memungkiri memang terkadang dark comedy ini menggelitik. Namun, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Konsumsi yang berlebihan dari dark comedy ini dapat mematikan rasa empati dan simpati kita pada sesama.

Sebab kita melihat suatu penderitaan orang lain sebagai lumbung tawa kita. Untuk mengatasi hal tersebut tidak mungkin kita menyumpal lakban pada mulut para pekerja komedi tersebut. Cara membatasinya ada pada diri kita sendiri bagaimana kita mengelola perasaan dan pikiran kita agar nurani kita tidak terbutakan

Gaya komedi seperti ini akan menjadi emas apabila jatuh di tangan yang tepat. Namun, banyak orang hanya asal ikut-ikutan saja.

Tentu ini menjadi fenomena yang meresahkan. Mereka yang ikut-ikutan ini melemparkan dark comedy dengan tidak dibungkus rapi. Sehingga terkesan seperti hanya menghina, menyindir, atau merundung dengan bersembunyi di balik istilah dark comedy.

Apabila ini diteruskan maka gaya komedi seperti ini lambat laun dapat mati dan kemungkinan paling buruknya dilarang. Sebab dark comedy abal-abal ini kerap kita temui di media sosial yang mana banyak orang dapat melihat.

Dengan begitu orang-orang akan merasa tidak nyaman dengan gaya komedi seperti itu dan beranggapan bahwa dark comedy hanyalah berisi hinaan. Akibatnya para pekerja komedi yang sungguh-sungguh memahami apa itu dark comedy akan kehilangan salah satu sumber daya komedi mereka.

Selain itu juga lingkup komedi mereka menjadi sempit karena berpotensi menginjak ranah tersebut tanpa disengaja.

Sebenarnya dark comedy menjadi hiburan yang mengasyikan dan mengasah rasa dan pikiran kita. Suatu dark comedy yang tidak menyimpang akan disampaikan tidak dengan eksplisit.

Maksud yang ingin mereka sembunyikan akan tersembunyi dalam permainan kata-kata yang ditampilkan. Salah satu contoh dark comedy yang dikemas secara apik dapat kita temukan dalam film Dr. Strangelove: Or How I Learned To Stop Worrying And Love The Bomb yang dirilis pada tahun 1964.

Film ini menggambarkan secara konyol suatu perang yang di dalamnya berisi orang-orang pemegang kontrol nyawa warga sipil yang munafik, penuh obesesi, dan buta loyalitas.

Ini menunjukkan sebenarnya gaya dark comedy ini bisa saja dinikmati oleh siapa saja asalkan dapat disampaikan dengan baik, serta dikonsumsi sesuai takaran agar tidak membuat kita sebagai manusia yang keras hati.

Abel_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *