dari Kusir Andong sampai Penjual Soto

Usahanya dalam mencari nafkah tidaklah mudah, namun hal tersebut tidak menghalangi semangat Asnawi, seorang penjual soto ini dalam mencari nafkah demi membiayai istri dan kedua anaknya.


Di usianya yang sudah mulai renta ini, Asnawi masih memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani kesehariannya sebagai penjual soto. Selama 23 tahun ia menjalani pekerjaannya, tak terlihat sedikit pun rasa ingin menyerah dari dirinya. Tak heran jika di era pandemi ini pun dagangannya terjual habis setiap harinya.


Namun di balik keberhasilannya saat ini, usaha Asnawi dalam mencari nafkah tidaklah mudah. Semua ini berawal dari pengaruh banyaknya transportasi umum serta kendaraan bermotor di Indonesia. Pria berusia 64 tahun yang dulunya bekerja sebagai kusir andong ini pun mulai sepi penumpang. Masyarakat lebih memilih untuk menaiki transportasi umum karena biaya yang lebih murah, dan tentunya lebih cepat sampai ke tujuan.


Sayangnya, pada tahun 1998 krisis moneter melanda Indonesia mengakibatkan banyak kegiatan perekonomian di Indonesia mengalami kelumpuhan. Semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Mbak Yah, Istri Asnawi yang bekerja sebagai pemasok tauge di Pasar Gotongroyong pun ikut merasakan dampak dari krisis moneter pada waktu itu. Pak Bambang, juragan tauge yang telah menjadi langganannya mengalami kebangkrutan. Keinginan untuk menyerah pasti ada. Namun pasangan suami istri ini lebih memilih untuk bertahan demi membiayai kedua anaknya.

Dengan bermodalkan mampu membuat tauge, Asnawi dan istrinya pun memutuskan untuk berjualan soto. Setiap harinya mereka mendorong gerobak dengan berjalan kaki berkeliling kampung serta perumahan.
Seiring dengan bertambahnya usia, Asnawi mulai merasa lelah dan tidak kuat jika harus berkeliling dengan jarak yang begitu jauh. Atas kerja keras yang dilakukannya, ia berhasil mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah kios di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang. Walaupun sudah mendapatkan sebuah kios, saat berangkat dan sepulangnya dari kerja Asnawi tetap harus berjalan kaki mendorong gerobak soto sejauh 500 meter. Ia berangkat pukul 8 pagi setiap harinya. Per harinya ia bisa menghabiskan 1 sampai 2 kilogram beras. Setelah sotonya habis terjual, barulah ia kembali ke tempat persinggahannya.


“Rata-rata 1 kilo beras per hari, mbak. Kalau hari Sabtu dan Minggu agak ramai, biasanya tambah setengah kilo. Kalau hari libur dan hari besar biasanya bisa habis 2 kilo beras,” katanya.


Di usianya yang sudah menginjak kepala enam ini, kesehatan Asnawi pun perlahan mulai menurun. Asam urat yang dideritanya membuat Asnawi merasa kesulitan dalam menjalani kesehariannya. Ia pun memutuskan untuk menambah karyawan dalam membantu istrinya bekerja. Meskipun begitu, setiap dua hari sekali ia tetap bersemangat untuk membeli bahan-bahan untuk membuat soto di Pasar Borobudur.


“Sudah 2 tahun ini asam urat saya sering kambuh, Mbak. Akhirnya saya menambah satu karyawan biar istri saya ada yang membantu. Saya hanya membantu membeli bahan buat sotonya saja,” jelas Asnawi.


Di tengah pandemi sekarang ini, Asnawi bersyukur karena ia tidak begitu merasakan dampak yang signifikan. Nama Soto Seger Pak Nawi yang sudah banyak dikenal masyarakat sekitar, dengan rasa sotonya yang enak dan harganya yang murah membuat dagangannya selalu terjual habis.

Ulya_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *