Berawal Dari Keresahan, Menjadi Kesenangan

Dua puluh enam tahun telah berjualan bubur kacang hijau, Rohmat “Semua perkerjaan pasti ada seninya,”.

Pekerjaan memang menjadi hal krusial dari zaman dahulu. Dimana semua orang berlomba-lomba dalam mencari dan mendapatkan perkejaan. Rohmat (62), penjual bubur kacang hijau yang berada di area Pasar Gede ini telah berjualan bubur selama 26 tahun.

Ia merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Ia bercerita jika menjalani kehidupan yang bisa dibilang sulit. “Saya itu dulu kerja di pelayaran di Jakarta, terus saya jualan bubur di Geblegan, 13 tahun saya pindah sini,” tutur Rohmat.

Perjuangan kerasnya dalam memenuhi nafkah untuk keluarganya sangat jelas terlihat. Ia juga sempat bercerita setelah keluar dari pelayaran beliau susah mendapat pekerjaan lagi, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan bubur kacang hijau.

Usianya yang sudah terbilang senja tak mempengaruhi semangatnya dalam bekerja. Kakinya yang lemah, rapuh dan tulangnya yang sudah mulai tua tak menjadi halangan untuk ia bekerja.

Setiap hari ia harus berkeliling menjajakan dagangannya. Namun juga sesekali ia menetap. “Saya itu kalau besoknya jualan, siap-siapnya malam mas, membuat bahan dan lain-lain saya lakukan malam, kadang hingga pagi,” ujar Rohmat.

Dengan gerobak yang terbilang sudah tua, ia berkeliling menjajakan dagangannya ke masyarakat luas. Namun pada hari Sabtu dan Minggu pagi Rohmat menetap di dekat Pasar Gede.

Ia bercerita jika pada hari Sabtu dan Minggu dagangannya selalu habis di siang hari. “Kalau hari Minggu gini biasanya sekitar jam sepuluh sudah habis,” tutur Rohmat.

Beredarnya penjual-penjual bubur kacang hijau yang menggunakan campuran bahan non alami merupakan motivasi Pak Rohmat dalam berjualan namun dengan menggunakan bahan alami.

Ia mengungkapkan jika saat ini banyak sekali penjual-penjual bubur yang menggunakan zat kimia dalam buburnya. Misalnya gula, santan, dan yang lainnya.

“Sekarang itu banyak yang pakai campuran bahan mas, kayak gula, itu kan tidak hanya gula jawa yang dipakai, tapi ada campurannya,” ujar Rohmat.

Memang tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini kebanyakan penjual menggunakan berbagai cara supaya apa yang mereka jajakan ke masyarakat itu enak dan banyak digemari.

Walaupun seperti itu, Pak Rohmat menjual buburnya dengan semua bahan yang alami. Ia mengungkapkan juga bahwa ia mencari gula jawa yang asli dan enak itu tidak hanya di Solo, tetapi ia mencari hingga ke Temanggung.

“Saya biasanya mencari bahan di Pasar Legi, tetapi kalau di Pasar Legi habis, saya nyari sampai ke Temanggung, saya bener-bener mau bahan yang alami dan tidak merugikan pelanggan,” ujar Rohmat.

Sungguh perjuangan yang luar biasa dari seorang Rohmat. Ia merelakan diri hingga ke luar Solo hanya untuk mencari bahan yang alami untuk bubur kacang hijaunya.

Karena dia tahu jika menggunakan bahan yang kurang alami akan merugikan pembeli. Namun, ia juga mengungkapkan kendala saat berjualan bubur pada saat ini.

Kelangkaan ketan hitam yang benar-benar murni menjadi hambatan untuk Rohmat. “Sekarang ketan hitam itu ngga ada yang benar-benar asli, pasti ada campuran beras hitam, padahal harganya lebih mahal beras hitam,” ujar Rohmat.

Mahalnya beras hitam yang menjadi campuran dari ketan hitam merupakan hambatan bagi Rohmat.

Dengan usia yang sudah tidak muda, ia terkadang harus berkelana demi mencari ketan hitam yang murni. Walaupun terkadang jika tidak mendapatakannya, ia memberikan campuran beras hitam ke ketan hitam tesebut.

Dalam sehari, Rohmat mendapat keuntungan yang lumayan, meskipun ia tidak mau menyebutkan nominalnya. “Kalau dalam sehari itu keuntungannya ya lumayan mas, bisa buat bernapas,” ujar Rohmat. Dengan sedikit melucu, Rohmat menyampaikan nominalnya dalam konotasi yang lain.

Di akhir obrolan, Rohmat menyampaikan harapannya, supaya dagangannya bisa tetap laris dan ia tetap bisa berjualan untuk mencukupi kehidupannya. Walaupuan Rohmat mempunyai anak, tetapi ia tetap berusaha untuk mencari uang sendiri.

“Anak saya itu jualan mie ayam, jadi kami sekeluarga pedagang semua, harapannya nanti semoga dagangan saya dan anak saya bisa jadi satu ruko, bubur kacang hijau dan mie ayam,” ujar Rohmat dengan sedikit melucu.

Adib_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.