BEM SOLO RAYA MENGGUGAT, REVOLUSI DIGAUNGKAN

Kamis (14/04) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Solo Raya menggelar aksi di depan bundaran Gladak Jalan Slamet Riyadi, dalam aksi ini masyarakat tidak dilibatkan dalam menyampaikan aspirasinya.

Aksi yang diadakan oleh BEM se-Solo Raya pada sore hari di bundaran Gladak Jalan Slamet Riyadi ini bertajuk “Solo Raya Menggugat” dengan beberapa tuntutan diantaranya; menstabilkan harga minyak goreng dan bahan pokok lainnya, menuntut pemerintah mengkaji ulang kenaikan harga BBM dan terjaminnya ketersediaan BBM untuk masyarakat luas, dan menuntut pemerintah mengkaji ulang terkait UU IKN dan penundaan proyek IKN.

Dalam sebuah orasi yang disampaikan oleh perwakilan mahasiswa, ia menyebutkan “Pemerintah sibuk memindahkan ibu kota, sedangkan banyak masyarakat yang menderita. UU tentang IKN disahkan dalam waktu yang sangat singkat,” ujarnya.

Kemudian tentang kelangkaan BBM subsidi yaitu solar dan Pertalite, hal ini disebabkan oleh para pengguna BBM non subsidi seperti Pertamax yang beralih menggunakan Pertalite sehingga terjadi kelangkaan BBM subsidi di berbagai tempat.

Sama halnya dengan minyak goreng, seperti yang diucapkan oleh seorang orator “Indonesia merupakan negara penghasil sekaligus pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia, akan tetapi di negara kita sendiri minyak goreng justru mengalami kelangkaan dan kenaikan harga,” ucapya.

Terdapat indikasi kelangkaan minyak goreng disebabkan oleh pemerintah dan partai yang menimbun komoditas ini, namun secara tiba-tiba mereka memberikan bantuan berupa minyak yang harganya jauh di bawah harga pasar.

Berbeda dengan tuntutan yang disebar di media sosial, dalam sebuah orasi dikatakan “Kami menolak penundaan pemilu dan konstitusi menjadi 3 periode,” ujar salah satu orator.

Hal ini membuktikan terjadinya perbedaan tujuan yang tersebar dengan yang ada di lapangan. Seperti teriakan revolusi oleh orator dan para mahasiswa.

Pada aksi ini masyarakat tidak dilibatkan dalam mengikuti serangkaian acara aksi. Menanggapi aksi ini, BEM UNS menyatakan sikap tidak turun atas nama lembaga dalam aksi tersebut dikarenakan aksi kali ini terkesan eksklusif dan membatasi massa yang mengikuti aksi tersebut.

Padahal keresahan yang dibawa pada aksi kali ini adalah keresahan bersama oleh karena itu, seharusnya setiap orang berhak menyampaikan aspirasinya.

Syahla_

Alif_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.