Bahaya FoMo Mengintai Anak Muda

Definisi FoMo

FoMO atau yang juga disebut dengan istilah Fear of Missing Out adalah sebuah sebuah kondisi kecemasan yang semakin marak dengan adanya media sosial seperti diantaranya Instagram, Twitter, Facebook, dan media sosial lain yang kemudian berubah menjadi bagian penting bagi kehidupan sehari-hari. FoMO dapat diartikan sebagai rasa takut karena merasa tertinggal sebab tak turut serta mengikuti aktivitas atau tren tertentu. FoMO membuat individu merasa tertinggal dan presepsi dimana orang lain melakukan kehidupan yang lebih baik dibanding dirinya. Fenomena FoMO ini telah ada sejak lama, akan tetapi semakin banyak muncul setelah sosial media muncul dan banyak digunakan.

Dampak FoMO pada bidang akademik

Dampak FoMo pada bidang akademik  antara lain dapat menimbulkan perasaan negatif yang menganggu konsentrasi belajar seseorang, misalnya saja seseorang khawatir ketika merasa ketinggalan pelajaran dan terus menerus gelisah sehingga tidak dapat berpikir secara jernih. Selain itu FoMO juga menimbulkan turunnya rasa percaya diri seseorang, hal tersebut dapat menghambat proses belajar karena perasaan negatif yang terus menghantui itu dapat merembet pada masalah psikologis, seseorang akan menganggap dirinya gagal dan pesimis terhadap hasil pekerjaan nya. Hal ini dapat menyebabkan stres yang berdampak pada penurunan kualitas belajar serta hasil yang di dapatkan di jenjang pendidikan. Seseorang yang telah mengalami FoMO akan melupakan kepentingan dirinya sendiri dan seakan-akan memiliki dunia lain yang lebih penting, hal inilah yang mengakibatkan seseorang sulit berkonsentrasi dalam proses pembelajaran sehingga produktivitas atau prestasi akademiknya menurun. Dampak buruk FoMO pada bidang akademik ini salah satu faktor utamanya adalah media sosial yang sangat marak digunakan oleh semua kalangan masyarakat. Media sosial dikatakan lumrah digunakan oleh anak-anak bahkan orang lanjut usia sekalipun. Kebanyakan penderita FoMO merasa tertinggal atau tersaingi dengan kehidupan dunia maya seseorang, yang pada dasarnya tidak selalu benar dengan kenyataan. Kecanduan media sosial ini sangat mempengaruhi hasil proses pembelajaran seseorang, bila digunakan dengan tepat maka akan membantu meringankan pekerjaan namun jika penggunaan media sosial ini berpotensi menjadi penghambat seseorang dalam meraih nilai akademik, maka berkemungkinan seseorang itu menderita FoMO yang menganggu kinerjanya dengan rasa gelisah, sulit tidur, serta gejala-gejala lain yang dapat menurunkan produktivitas serta prestasi yang seharusnya dapat dicapai.

Dampak fomo bagi kesehatan Mental

Pengidap  FoMo ini pada umum nya menyerang pengguna media sosial, seperti yang diketahui bahwasann nya semua orang menggunakan media sosial. Tak terkecuali dengan peserta didik. Dalam kasus FoMo yang dialami oleh peserta didik biasanya adalah FoMo Pencapaian atau goals. Melaui media sosial ini biasa nya digunakan oleh para peserta didik untuk menampilkan sebuah pencapaian yang berhasil mereka raih. Atau singkat nya Media sosial ini menjadi tempat aktualisasi diri.  Orang yang mengalami FoMo biasanya sengaja memasang gambar, tulisan, atau bahkan mempromosikan diri yang belum tentu benar untuk terlihat update. Ironisnya, banyak kalangan yang menganggap kebahagiaan mereka di media sosial dirasa palsu. Tentu saja hal ini dapat berakibat buruk pada orang yang mengidap FoMo khusus nya Remaja atau pelajar. Yang pertama adalah menimbulkan kegelisahan tiap kali diri nya tidak mengakses sosial media dan bahkan menyebabkan gangguan tidur. Gangguan tidur ini pada akhirnya akan mengakibatkan dampak buruk lain nya bagi peserta didik. Yang kedua adalah kecanduan, bagi penderita FoMo akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari penggunaan media sosial sebab media sosial sudah sangat menjadi candu bagi hidup nya. sehari tanpa media sosial akan mengakibatkan kegelisahan dan terus menerus ingin mengakses media sosial.

Pengidap FoMo akan selalu merasa dirinya tertinggal dan selalu merasa kurang, peserta didik akan kurang bisa menikmati hidup secara apa ada nya karena terlalu terpaku pada hal-hal yang ada di sosial media. Mereka akan menilai dirinya adalah orang yang tidak bahagia padahal presepsi tersebut belum tentu benar. FoMo berdampak pula pada kecemasan hingga depresi, berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh University of Pennsylvania menyatakan bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk memainkan sosial media mengalami tingkat keparahan depresi dan kesepian. FoMo dapat pula memicu tindakan-tindakan berbahaya yang mungkin dapat dilakukan oleh pengidap FoMo. Terakhir FoMo dapat menurunkan rasa percaya diri. Hal ini tentu saja berdampak buruk pada kesehatan mental peserta didik. Sebab dalam mengikuti pembelajaran peserta didik harus siap fisik dan stabil mental nya agar dapat maksimal menerima pembelajaran dan meningkatkan potensi diri nya. pesrerta didik yang mengalamai FoMo akan terganggu mental nya dan tentu saja dapat berdampak pada segala aspek kehidupan nya.

Cara mengatasi fomo

  1. Belajar menerima diri sendiri

Langkah pertama untuk mengatasi FOMO adalah dengan menerima diri sendiri. Penting menyadari bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, kebahagiaan dan kesedihan. Jadi wajar jika memiliki kekurangan dan tertinggal dari orang lain bukan suatu kesalahan. Jangan membandingkan diri dengan orang lain.

  • Membatasi penggunaan media sosial dan  smartphone

Media sosial dapat memperburuk sindrom FOMO. Unggahan orang lain dapat memicu perasaan FOMO. Oleh karena itu, penggunaan media sosial harus dibatasi dan gunakan seperlunya saja.

  • Memperbanyak pertemanan di kehidupan nyata

Seseorang yang merasa dalam keadaan sulit atau tertekan biasanya akan mencari dukungan dari orang terdekatnya.  Maka dengan memperbanyak teman di kehidupan nyata perlahan akan menjauhkan seseorang dari perasaan FOMO.  Dengan pertemuan dan berbicara secara langsung akan terasa lebih nyaman.

  • Membuat diary

Terkadang seseorang yang merasa FOMO akan mengunggah sesuatu di media sosial hanya untuk mencari perhatian dan validasi. Daripada mengunggah di media sosial lalu merasa semakin terpuruk karena respon publik yang tidak sesuai ekspektasi, lebih baik menulis diary untuk mencurahkan isi hati.

  • Menghargai diri sendiri dan bersyukur

Penting untuk dapat menghargai diri kita sendiri karena dengan begitu maka dapat meningkatkan perasaan bersyukur atas apa yang dimiliki. Perasaan iri dan merasa kekurangan akan berkurang jika seseorang fokus dan bersyukur pada hal-hal baik yang dimiliki.

Penulis: Rajid Dhiva Amalya, dkk

Sumber gambar: google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.