Travel Naratif Media Baru Bercerita

SURAKARTA, LPMMOTIVASI.com- di Ruang Seminar FISIP UNS Gagas Media mengadakan seminar kepenulisan bertema Travelling. Acara yang termasuk dalam rangkaian roadshow Gagas Media Goes to Campuss ini memilih UNS sebagai kampus ke-9 yang dikunjungi dengan mendatangkan dua penulis andalannya yaitu Mahir Pradana dan Anida Dyah. Tamu tambahan yang hadir dalam acara ini adalah pihak Tripanzee, sebuah laman online social travel. Senin, (18/05).

Dalam seminar kali ini Gagas Media memaparkan bahwa pihak Gagas Media sedang concern menerbitkan jenis bacaan non fiksi naratif. Pengembangan segmen tulisan ke arah non fiksi naratif bertujuan untuk mencari bentuk tulisan yang lebih beragam karena awalnya fokus Gagas Media lebih ke novel. Selain itu, non fiksi naratif juga diharapkan mampu menghapus anggapan orang bahwa bacaan non fiksi adalah bacaan berat. “Penulisan non fiksi kebanyakan kaku sehingga kami berupaya membuat buku non fiksi yang ketika dibaca bisa seenak buku fiksi,” Papar Mudin Em selaku bagian promosi di Agromedia yang membawahi Penerbit Gagas Media (18/05).

Lebih spesifik, kali ini Gagas Media membidik tema travelling untuk dikembangkan dalam buku non fiksi naratif. Anida Dyah, penulis buku Perjalanan Adalah Cerita mengaku bahwa buku travelling miliknya berawal dari sebuah blog. Kemudian editor Gagas Media tertarik dan mengajak bekerja sama. “Mungkin mereka melihat ada hal berbeda dari cita-cita di blog saya.” Paparnya (18/05). Dalam seminar, wanita lulusan Universitas Parahyangan Jurusan Arsitektur ini memaparkan bahwa tulisan perjalanannya bukan bercerita tentang tips bagaimana cara bepergian ke suatu tempat. Melainkan tentang budaya, kearifan lokal, serta karakter masyarakat di negara yang ia kunjungi.

Sementara itu, buku Home and Away karya Mahir Pradana juga bercerita tentang perjalanannya selama berkuliah di Negara Swiss. Dalam buku travel naratifnya tersebut, ia banyak mengaitkan ceritanya dengan geliat dunia sepak bola di Negara Swiss. Selain karena ia penyuka bola, ia memilih tema sepak bola juga karena banyak pengalaman menarik terkait dunia sepak bola Swiss. Seperti sistem pembelian tiket bola yang ternyata juga banyak dikendalikan calo seperti di Indonesia, atau pengalaman menonton bola sebagai wartawan ketika Lionel Messi bertanding di Swiss. “Padahal saya nggak ada background wartawan. Saya hanya sempat nulis bola di kompasiana. Mereka nggak tau kalau kompasiana itu opensource. Jadi saya diizinin masuk.”

Lebih lanjut, Mahir memaparkan bahwa fenomena travelling menjadi hits akhir-akhir ini karena pengaruh media sosial. Di media sosial setiap orang bisa memposting apa pun, termasuk foto-foto travelling mereka. “Orang kalau melihat, apalagi mebaca pasti jadi pengen,” imbuhnya.

Bagi Anida, buku bertema travelling dirasa tidak akan membosankan pembaca. Ia mengaku salah satu yang menjadi pertimbangan editornya adalah karena pengalaman perjalanannya belum banyak dialami oleh orang lain. “Seperti misal kehidupan nomaden, bagaimana cara saya memutuskan berpindah, kenapa saya nggak takut, dan lain-lain,” ungkapnya.

Mudin Em selaku bagian promosi Agromedia mengatakan bahwa tema Travelling trennya akan tetap ada karena semua orang pasti ingin jalan-jalan. Walaupun Gagas Media akan tetap mengikuti tema yang berkembang di pasar, tapi bila dilihat dari segi kebutuhan maka tema travelling akan tetap dibutuhkan. “Mungkin lima tahun ke depan nggak akan seramai ini. Tapi mungin needs-nya masih ada,” imbuhnya.

 

_Aristi

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *