TOILET FKIP MINTA DIPERHATIKAN

LPMMOTIVASI.com—Sarana dan prasarana merupakan salah satu poin dalam indikator standar akreditasi yang ditentukan Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT). Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS sendiri telah terdapat beberapa prodi yang mendapatkan akreditasi A. Namun berbanding terbalik dengan akreditasi yang telah diperoleh, sarana dan prasarana yang ada di FKIP masih tampak mengalami berbagai kekurangan. Salah satunya adalah sarana toilet di FKIP yang bersifat unisex, alias tidak memisahkan toilet bagi wanita dan pria.

Banyak mahasiswa FKIP yang merasa kurang nyaman dengan toilet model unisex tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Diyah Ayu, mahasiswi Pendidikan Sosiologi Antropologi yang meminta agar toilet bagi pria dan wanita dipisah dengan alasan adab sopan santun Indonesia sebagai orang timur. Selain itu, menurutnya, kebutuhan antara perempuan dan laki-laki pun berbeda, “Apalagi di FKIP kan banyak yang berjilbab. Kalau mau benerin kerudung enggak enak juga,” ujarnya pada Rabu (2/9).

Terkait masalah penggunaan dan perawatan toilet, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNS, Doni Wahyu Prabowo turut angkat bicara. Menurutnya, pada Jumat (4/9), pihak BEM sudah menyampaikan pada dekan namun belum ada jawaban karena dekan yang baru masih fokus mengurusi internal persiapan semua perangkat fakultas. Selain itu BEM belum tahu prioritas fakultas seperti apa, karena antara prioritas fakultas dekan sebelumnya dengan prioritas fakultas dekan yang sekarang adalah berbeda. Selain itu ia juga mengaku bahwa pembangunan prasarana toilet memang agak sulit karena terhambat dana.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan II, Bidang Umum dan Keuangan, Dr. Imam Sujadi M.Si, menjelaskan bahwa pada prinsipnya terdapat standar sarana prasarana untuk pendidikan. Pada saat bangunan lama dibangun memang sudah seperti itu tata letaknya. Ia juga merasakan keterbatasan jumlah toilet yang tidak sebanding dengan penggunanya. “Perbandingannya itu kalau jumlah wanitanya 20 harus ada satu toilet. Kalau ada 30 laki-laki, ada satu toilet,” tuturnya, Kamis(3/9). Ia menegaskan bahwa pada saat akan membangun sudah ada penentuan struktur fungsi bangunan. Sehingga bila nanti membangun gedung yang baru, barangkali sudah dipikirkan untuk toilet. Namun untuk bangunan lama baru nanti akan dipikirkan. “Nanti kita pikirkan kedepannya,” ungkapnya. Ia mengatakan bahwa selain struktur bangunan, dana juga turut menjadi hambatan. Dana yang ada saat ini adalah dana tentang pemeliharaan. Sedangkan untuk dana renovasi, ia mengaku belum ada.

Firdha_Oktia

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *