Think Positively

Pada situasi pandemi saat ini, banyak dijumpai fakta dan data bahwa tingkat stres meningkat tajam. Orang yang biasanya bebas pergi ke sana-sini harus berhenti. Mereka yang gemar berkegiatan di luar untuk sekadar mencari angin segar, diharap bersabar. Program kerja (Proker) tahunan pun harus tertahan. Semua hal ini, tidak dapat dielak akan membuat jiwa seseorang perlahan sakit. Dimulai mengutuk keadaan sampai memaki sang virus yang tak kunjung tergerus. Istilah sakit jiwa memang sering terdengar. Padahal, ada pula sehat jiwa yang malah seharusnya kita latih bersama.

Kesehatan jiwa dipengaruhi beberapa kriteria. Salah satu dari beberapa kriteria sehatnya jiwa adalah berpikir positif (Kompas.com). Mungkin ada yang kerap mendengar bahkan menyerukan gerakan: be positive! Akan tetapi, memang praktik nyata tidak semudah mengoar. Sadar atau tidak, susahnya praktik berpikir positif atau positive thinking ini karena dua hal, cemas dan takut. Manusia, yang mana adalah kita, selalu meresahkan kedua hal itu. Kecemasan akan apa yang sudah kita lakukan, tak jarang membuat kita berpikiran macam-macam. Sebaliknya, ketakutan akan masa yang akan datang juga tidak kalah meresahkan. Pemisalan yang bisa diambil dapat dicontohkan seperti ini. Sebagai mahasiswa yang tengah diamanahi menjadi ketua suatu program kerja tahunan, kamu telah mempersiapkan segala hal. Rapat siang malam demi titik terang. Akan tetapi, boom! Pandemi global. Semua rencanamu rusak. Satu hal yang pasti terjadi adalah panik, stres, dan mungkin menyalahkan takdir Tuhan. Padahal, kita mengenal Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan kalimat masyhurnya, “Aku akan senang bila rencanaku terlaksana. Akan tetapi, aku akan berkali-kali bahagia bila tidak terlaksana. Sebab, itulah rencana Allah.”

See? Alih-alih terpuruk dalam penyesalan dan saling menyalahkan, bukankah lebih bijak berpikir hal baik apa di balik ini semua? Ada suatu idiom yang sangat cocok saat situasi seperti ini,every cloud has a silver lining. Setiap situasi sulit dan sedih yang kita alami, pasti punya aspek positif di baliknya. Bukankah dengan seluruh kegiatan disentralkan dari rumah, kita lebih memaknai suatu jumpa? Bukankah dengan lamanya tidak bertemu sapa, kita makin menghargai tatap muka?

 

Umi Zulaiah
Pendidikan Bahasa Indonesia UNS 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *