Terjadi Lagi : Kritik Kampus Berbuah Pemanggilan

LPMMOTIVASI.COM- M, mahasiswa fakultas Ilmu Budaya UNS mengkritik kebijakan kampus melalui artikel yang ia tulis di laman Mojok.co. Pukul 20.30 WIB. Setelah tulisannya naik, M mendapat panggilan telefon dari pihak kampus untuk mengklarifikasi artikelnya.

Berita mengenai rencana akan dikirimkannya kuota sebesar 10GB kepada setiap Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) memang sudah menyebar luas, bahkan juga termuat dalam berita-berita di media sosial. Hal ini menjadi kabar baik bagi seluruh mahasiswa UNS karena dengan adanya kuota tersebut mampu mengurangi beban mahasiswa sekaligus menunjang sistem perkuliahan daring yang direncanakan sampai akhir bulan April mendatang. Namun, pada kenyataannya pihak UNS tidak memberikan kuota sebesar 10GB seperti yang dijanjikan, melainkan diganti dengan pulsa sebesar Rp. 50.000 secara merata kepada seluruh mahasiswa karena beberapa kendala. Tentu, banyak mahasiswa yang merasa kecewa. Kekecewaan ini diutarakan oleh salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dalam artikelnya di laman Mojok.co pada tanggal 11 April lalu. M mengemukakan bahwa artikel yang dimuat di laman tersebut bertujuan untuk mengkritik inkonsistensi yang ada pada Pimpinan Universitas, dimana sasarannya adalah Birokrat Kampus.

Artikel itu akhirnya tersebar sampai ke telinga pihak kampus. M menjelaskan, pada pukul 20.30 WIB setelah artikelnya dipublish, ia mendapat panggilan telefon dari pihak kampus yang meminta klarifikasi atas artikelnya. Tepat pada tanggal 13 April 2020 pukul 10.00 WIB, pihak Dekanat mengundang M untuk memberikan klarifikasi atas artikel yang ia tulis. Ia juga menjelaskan bahwa pihak kampus meminta untuk menarik artikel tersebut dikarenakan terdapat kesalahan data.
“Mengenai data, ntah itu data yg mana karena tidak dijelaskan lebih lanjut,” ujar M (14/4).

Sebelumnya M sudah menawarkan opsi kepada pihak kampus untuk menulis artikel sanggahan karena menurutnya sudah menjadi etika umum jika tidak sepakat dengan suatu artikel maka melakukan sanggahan dengan artikel.
“Ya saya setujui saja karena berada dalam tekanan saat itu, lagi pula untuk penarikan kan merupakan wewenang dari redaktur. Setelah saya diminta mengirim permintaan penarikan sudah bukan kuasa saya lagi,” tambah M (14/4).

Arifin selaku presiden BEM UNS mengungkapkan bahwa kritik yang dilakukan oleh M melalui artikel adalah bagian dari kebebasan mimbar akademik mahasiswa. Ia juga menambahkan, lingkup kampus perlu dihidupkan dengan dialektika seperti itu. Menurut Livia, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, kritik berupa artikel merupakan bentuk hak menyampaikan aspirasi mahasiswa terhadap kampus. Ia juga menyayangkan adanya penekanan dari pihak kampus.

“Terus tanggapan mengenai tulisan itu, bagus karena ada pihak yang berani mengutarakan aspirasinya. Tapi kalau dilihat dari tulisannya saya menilai ada sedikit provokasi juga sih, jadi 50:50 lah,” tambah Livia (12/4).

M berharap semoga ke depannya tidak ada lagi inkonsistensi kebijakan karena sudah beberapa kali hal itu terjadi dan semoga hal ini bisa menjadi titik awal perubahan yang lebih baik untuk UNS.

 

Nanda_
Lulun_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *