Teman Terbaik

Hampir seharian ini, kerjaanku hanya berguling-guling di atas kasur. Libur terlalu lama sungguh membosankan. Aku sudah seperti orang yang jobless banget. Beberapa menit lalu, aku menghubungi orang tuaku, menanyakan kapan mereka kembali. Siapa tahu saja mereka mau mengajakku liburan seperti keluarga-keluarga lain. Tapi nyatanya aku terlalu berkeskpektasi tinggi. Lagi-lagi mereka sibuk dengan kerjaan. Ya sudahlah, lagipula tidak ada salahnya kan menikmati waktu di rumah saja, sendirian.

Aku kembali melanjutkan aktivitasku menonton video One Ok Rock. Gila sih, ini band favorit aku banget. Apalagi kalau di rumah sendirian, nonton video One Ok Rock dengan volume keras, sambil ikut nyanyi dengan suara sumbang, berasa lagi konser gitu. Ketika lagi asyik-asyiknya menirukan suara Taka, ada notifikasi dari WhatsApp di layar ponselku.

Ting!

Woy Amber, gue ada di bawah sekarang. Keluar lo!

Aku buru-buru lompat dari kasur menuju jendela kamar, melihat ke bawah, dan benar saja ada seorang cowok yang melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Aku langsung menutup gorden, mengambil ponsel dan berlari menghampiri cowok itu.

—–

“Tumben lo ngajakin gue?” tanyaku sambil memasukan cilok gratisan ke mulut.

“Kan lo satu-satunya fakir miskin tempat gue bersedekah.” Ucapnya enteng membuatku ingin mencolok matanya dengan tusuk cilok.

Tapi benar juga sih, aku pun mau diajak berkat iming-iming akan ditraktir semua yang aku mau. Siapa sih di dunia ini yang nggak suka gratisan? Pasti semua orang suka, termasuk aku. Kami terus berjalan sembari aku menghabiskan cilok yang tersisa satu. Kakiku berhenti di depan tukang penjual permen kapas. Mendongakkan wajah menghadap Leo dan menunjukan senyum paling lebar. Tidak lama kemudian dia menyerahkan permen kapas padaku.

Kami akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku dekat penjual permen kapas. Dari sini, kami bisa melihat orang-orang berlalu lalang. Ada seorang ibu yang berjalan sembari memegang permen kapas sepertinya, sementara pria dewasa di sebelahnya menggendong anak kecil yang sepertinya masih balita. Ada juga sepasang kekasih yang terus bergandengan tangan, sambil sesekali mampir ke toko pakaian sekadar melihat-lihat sejenak. Rasanya, sudah sangat lama aku tidak pergi ke pasar malam seperti ini. Kalau bukan karena Leo, aku juga tidak akan di sini. Apalagi kalau ke sini sendirian, berjalan di tengah-tengah muda-mudi yang memadu kasih.

Ewwh! Kasihan sekali, kalau dipikir-pikir.

“Bagi dong, masa lo embat sendiri.” Leo menarik permen kapasnya dan langsung menelannya. Aku memelototi Leo, tidak suka atas tindakannya itu.

“Lihat, gara-gara lo, permen kapas gue abis,” ujarku sembari menelan sisa permen kapas.

“Itu kan juga gue yang ngebeliin.” Leo memeletkan lidahnya ke arahku.

“Berarti lo nggak ikhlas ngasih ke gue?” ujarku

“Memang.”

Ucapannya barusan membuatku langsung memukul bagian belakang kepalanya pelan. Untung dia temanku, tidak heran kalau seperti itu.

“Eh liat deh,” ujar Leo membuatku berhenti memukulnya. “Cewek dan cowok di sebelah sana, menurut lo mereka berantem gak?” Dia menunjuk sepasang kekasih yang baru saja keluar dari toko baju. Si cewek yang memiliki rambut pirang sebahu berjalan cepat, sedangkan si cowok yang badannya agak sedikit gendut, berusaha menyeimbangkan cara jalan si cewek tanpa berniat berjalan di sampingnya.

Aku mengerutkan dahiku heran. “Enggakk.”

“Kenapa?”

“Ya emangnya apa yang bisa ngebuat mereka berantem di pasar malem kaya gini? Nggak keren amat masa berantem di tempat kaya gini,” ujarku asal.

“Ada dong. Bisa aja, si cewek pengen beli baju, tapi si cowok nggak mau bayar. Terus ceweknya merajuk. Lalu dia keluar dari toko itu, meninggaklkan cowoknya di belakang. Sementara si cowok itu nggak tahu mau berbuat apa, jadi dia hanya mengekor si cewek aja.” Aku hanya memutar bola mata malas mendengar penjelasan Leo yang  asal-asalan.

“Bisa-bisanya ya lo ngurusin hal begituan,” ujarku tidak tertarik.

“Coba deh, lo perhatiin lagi cewek yang duduk di sana. Menurut gue, dia baru aja putus sama pacarnya, terus dia kesini biar merasa tenang. Tapi, nyatanya keadaan ramai begini malah membuat dia semakin merasa sepi.” Aku menoleh, melihat ke arah cewek yang duduk di bangku tak jauh dari kami. Dia sendirian, duduk sembari menundukan wajahnya.

“Apa sih, kenapa lo jadi ngobrolin hal kaya gini. Tujuan lo ngebawa gue kesini kan buat traktir gue, bukan malah mengomentari orang lain,” ucapku. Lagipula, apa untungnya sih, memperhatikan orang lain. Seperti gak ada kerjaan aja. Aku yang jobless, begini-begini  nggak akan mau kalau menghabiskan waktuku untuk mengamati orang lain. Nggak guna, deh.

“Hahahaha…. ya deh iya. Kan gue cuma bosen aja,” ujar Leo. “Eh, tadi kan gue udah ngebeliin lo apa yang lo mau. Sekarang lo harus nemenin gue naik itu,” katanya, sambil menunjuk ke salah satu wahana yang ada di pasar malam ini. Aku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah wahana bernama bianglala itu memutar seperti kincir angin.

“Enggak, gue nggak mau.”

“Ayolah, lo kan temen baik gue, temenin gue yuk,” ujarnya sembari menyeretku. Aku berusaha sekuat tenaga menahan kakiku di atas tanah, serta berpegangan pada pinggiran kursi yang kami duduki.

“Justru itu. Karena kita temen baik, harusnya lo tahu kalau gue nggak akan pernah mau naik yang begitu-begituan,” ujarku. Aku buru-buru melanjutkan. “Udah deh, lo naik sendiri aja, gue nungguin lo di sini. Atau lo ajak siapa pun cewek di sekitar sini,” ujarku asal, yang penting aku tidak akan naik wahana seperti itu. Jujur saja, aku memang takut ketinggian. Rasanya kalau berada di tempat-tempat tinggi membuatku tidak bisa bergerak sedikit pun alias mati rasa. Jantungku akan berdetak berkali-kali lebih kencang, otakku memikirkan hal yang tidak-tidak. Hal yang aku bayangkan ketika berada ketinggian adalah ‘gue akan mati saat ini juga’. Mungkin kalian yang mendengar ini akan menganggakpku berlebihan.

“Ngawur lo, udah ah ayooo!”

Leo menarik tanganku dengan sekuat tenaganya. Bagaimanapun tenaga cewek dan cowok itu beda. Dia berdiri di depan loket untuk membeli karcis, kemudian mendorongku masuk ke dalam salah satu sangkar ketika penjaga menghentikan bianglala itu berputar. Lagi-lagi aku berusaha kabur, tapi dia menarik bajuku. Membuatku tidak bisa berlari.

Selama bianglala itu berputar, aku tidak berani membuka mataku. Aku hanya berpegangan erat pada salah satu besi sambil berkomat-kamit, berharap setelah ini aku masih bisa menebus dosaku di bumi ini.

Ibu, Ayah maafkan Amber. Aku selalu merepotkan kalian.

Hoeek….

“Hahahahaa….” Suara tawa Leo sangat mengganggu indra pendengaranku. Tapi aku tidak bisa menyumpal mulutnya itu dengan sandal. Rasanya pusing sekali. Bahkan begitu aku turun, aku langsung memuntahkan segala isi dalam perutku. Termasuk cilok dan permen kapas gratisan yang belum ada satu jam ku makan.

Urrrghhh…. menyebalkan.

 “Nih, minum dulu,” ujarnya sambil menyerahkan sebotol air mineral. Aku langsung menegaknya hingga tersisa setengah saja.

“Maaf,” katanya dengan nada menyesal. “Kapan-kapan lagi ya?”

“Gila lo! Nggak mau lagi gue nemenin lo ke sini!” 

Love you Amber, ahahahaha..”

Aku terdiam, menatapnya heran. Kenapa sih dengan orang ini?

“Sekarang, temenin gue yuk! Abis ini gue anter lo pulang.” Aku memicingkan mata, menebak kalau-kalau dia akan berbuat hal yang serupa. Dia buru-buru menjelaskan.

“Gue mau beli kado buat Jessi,” ujar Leo cepat.

Otakku buru-buru mengingat, siapa cewek yang Leo maksud? Lima detik kemudian, aku baru ingat kalau cewek itu adalah cewek yang sedang PDKT dengannya.

“Oh,” ujarku tak bersemangat.

Kami memasuki toko yang menjual boneka. Katanya, cewek itu sangat menyukai panda. Jadi, dia berniat membelikan boneka hewan itu. Aku hanya menurut ketika Leo menggelandangku memasuki toko itu. Menjawab dengan anggukan ketika dia meminta saran.

“Menurut lo ini bagus nggak?” tanya Leo, menunjukan boneka panda berwarna coklat. Aku hanya mengangguk.

“Mending gue beli yang ini atau yang ini?” Dia mengangkat dua boneka bergantian, boneka panda berwarna coklat dan hitam yang besarnya hampir sama dengan tubuhku. Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan bahasa tubuh, menunjuk yang berwarna hitam dengan mengarahkan dagu.

“Kenapa  sih? Lo kok tiba-tiba bisu begini?”

Sialan, kata-kata cowok ini memang selalu tajam. Dia nggak tahu ya, begini-begini aku juga cewek tahu. Walaupun potongan rambutku cepak, gayaku seperti cowok, tapi aku kan juga punya perasaan.

“Pulang yuk! Gue ngantuk.” Sejujurnya aku nggak ngantuk. Tapi entah kenapa tiba-tiba malas aja. Pengin cepet-cepet selesai. Aku berjalan mendahului dia, membuat Leo buru-buru memilih dan membayarnya ke kasir.

Kami sampai di depan pagar rumahku. Aku melepas helm dan menyerahkan padanya. Kemudian berjalan melewati pagar. Berbalik lagi untuk mengucapka terima kasih.

“Makasih ya, gue jadi nggak kesepian malam ini,” ujarku.

“Yo, man! Gue kan tahu semua isi hati lo.” Aku hanya tersenyum simpul sambil melambaikan tangan. Dia bersiap melajukan motornya, tetapi mengurungkannya tiba-tiba.

Thanks ya, lo emang teman terbaik gue. Love you!” serunya sembari menjalankan motor.

Sekarang aku tahu, arti kata ‘I Love You’ yang sering dia ucapkan.

I love you too.”

_Vina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *