Tangkal Radikalisasi Sejak Dini melalui Program Berbasis Kebinekaan, Budaya Literasi, dan Wawasan lingkungan

Kota Solo merupakan salah satu kota yang menyimpan kekayaan budaya, mulai dari seni musik, seni tari, seni batik hingga seni arsitektur serta segala keunikan khas Jawa yang menawan. Kota yang bermula dari adanya sebuah kerajaan bernama Kasunanan Surakarta yang kini menjelma menjadi bukti sejarah terbentuknya Kota Solo. Di balik keragaman yang dimilikinya, Kota Solo menyimpan berbagai persoalan yang pelik. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain yang dapat dilihat secara nyata yaitu kemiskinan, kriminalitas, dan kekerasan yang dialami anak-anak  di bawah umur.

Perkembangan lingkungan permukiman di daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik karena faktor pertumbuhan penduduk secara alami serta proses urbanisasi. Pertumbuhan penduduk dan terbatasnya lahan di daerah perkotaan menyebabkan semakin berkembangnya rumah petak kecil yang diperjualbelikan dan disewakan kepada para pendatang. Rumah-rumah petak kecil tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan padat dan kumuh yang disebut dengan kawasan kumuh (slum area). Dampak dari perkembangan lingkungan ini, masih menjadi masalah pelik kota-kota besar di negara berkembang, tak terkecuali Kota Solo.

Berdasarkan aliran empirisme yang amat masyhur, doktrin tabularasa menekankan arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabularasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa (John Locke dalam Psikologi Pendidikan, 2002: 1058). Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya. Lingkungan ini dapat dimisalkan seperti lingkungan tempat tinggal, lingkungan bermain anak, ataupun lingkungan sekolah anak.

Lingkungan merupakan faktor yang sangat penting setelah pembawaan dan proses perkembangan anak. Tanpa adanya dukungan dari faktor lingkungan maka proses perkembangan dalam mewujudkan potensi pembawaan menjadi kemampuan nyata tidak akan terjadi.  Hal itulah yang harus diperhatikan bersama dan diperhatikan bagaimana cara yang bisa dilakukan dalam menciptakan lingkungan pendukung yang kondusif dan ideal guna mendukung proses perkembangan anak.

Salah satu kasus yang terjadi akibat pengaruh lingkungan adalah penganiayaan siswa SD di Kecamatan Jebres oleh teman sebaya (Labibzamani, tribunsolo.com, diakses pada 18 Agustus 2017). “Kasus bermula saat wali kelas 3 sedang mengadakan rapat, lalu pelaku penganiayaan merebut ponsel milik korban dan digunakan untuk memotret kemaluan temannya. Kejadian penganiayaan berlangsung saat korban hendak meminta ponselnya tetapi korban justru dianiaya dengan cara dipukul.”

Tidak hanya berhenti pada masalah-masalah di atas, adapun masalah lain yang harus diperhatikan, yaitu lunturnya nilai-nilai luhur kebinekaan di masyarakat. Apalagi dengan banyaknya etnis dan agama yang berkembang di Kota Solo menjadikan masalah kebinekaan rawan terjadi konflik. Konflik-konflik yang terjadi sepatutnya dihindari karena dapat mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Kota Solo pasti belum lupa tragedi kerusuhan yang terjadi di Jalan R.E. Martadinata, Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis 3 Mei 2012. “Kerusuhan dilatarbelakangi oleh adanya gesekan antar ormas sehingga menyebabkan aksi saling serang. Naasnya beberapa korban yang terluka justru bukan bagian dari kedua pihak yang bertikai (salah sasaran)” (ANS, liputan6.com, diakases pada 18 Agustus 2017).

Demi mencegah konflik kebinekaan diperlukan upaya-upaya yang harus dimulai dan diperkenalkan kepada masyarakat sejak awal. Anak-anak sejak dini perlu dikenalkan dan dididik untuk belajar memahami konsep kebinekaan, tidak perlu yang rumit dulu cukup dengan tindakan-tindakan kecil. Tindakan-tindakan yang perlu diajarkan pada anak bisa dalam bentuk sikap saling menghargai terhadap perbedaan yang ada pada teman sebayanya, misalkan saja perbedaan akan suku, etnis, ras, dan agama yang dimiliki oleh temannya.

Selain sikap saling menghormati, anak-anak juga perlu dididik dan dibiasakan untuk menghindari kekerasan yang kerap terjadi, baik disengaja maupun tidak sering terjadi dalam lingkup pertemanan anak. Hal itu biasanya terjadi begitu saja tanpa diketahui oleh pihak orang tua atau guru dan setelah diselidiki tidak jarang kekerasan terjadi karena ada anak yang tersinggung dengan lelucon atau perkataan temannya yang menyinggung suku, etnis, ras, dan agama anak lain.

Pemerintah sebenarnya sudah memiliki solusi untuk memperbaiki perilaku moral peserta didik melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang termuat dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016. Dalam peraturan menteri tersebut, terdapat 5 karakter yang diperkuat, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Selain PPK pada pembelajaran perlu juga diintegrasikan literasi; keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative); dan HOTS (Higher Order Thinking Skill. Pada kenyataannya, hal tersebut belum sepenuhnya diintegrasikan oleh para pendidik dalam proses pembelajaran. Terlebih pada sekolah-sekolah di daerah kumuh, hal-hal tersebut tidak menjadi prioritas, minim sarana dan cenderung tidak mendapatkan perhatian dalam pelaksanaanya. Sehingga, apa yang menjadi amanat pemerintah belum sepunuhnya dapat terealisasi.

Upaya menyokong pemerintah dalam merealisasikan amanat pendidikan di atas, tim melalui PKM Pengabdian Kepada Masyarakat “BINEKA”  menawarkan program-program yang dapat menjadi alternatif solusi dari masalah-masalah tersebut. Program ini bertujuan untuk memperbaiki dan membangun karakter pada anak-anak usia sekolah dasar yang lingkungan pendidikannya berada kawasan kumuh di Kota Solo serta melaksanakan Instriksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Program ini, terdiri dari penanaman nilai-nilai kebinekaan, sikap kejujuran, pembelajaran sikap sosial, pelatihan jiwa kepemimpinan, dan pengenalan budaya literasi.

 

Moh Saeful Bahri

Pendidikan Bahasa Indonesia

Universitas Sebelas Maret

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *