TALIJIWO, SENTILAN KEHIDUPAN

 

Sujiwo Tejo merupakan seorang penulis sekaligus budayawan yang tidak lagi diragukan karya-karyanya. Budayawan yang terkenal dengan sebutan Presiden Jancukers ini memang seorang yang nyentrik dan orisinil. Nama Sujiwo Tejo semakin dikenal ketika pemikirannya menjalar sampai ke media sosial khususnya twitter. Ia kerap memposting dengan menggunakan bahasa yang terkadang aneh tapi justru hal tersebutlah yang mengena di hati para pembacanya karena sesuai dengan realita dalam kehidupan.

Banyak sekali karya dari Sujiwo Tejo yang menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah buku berjudul Talijiwo. Buku ini merupakan kumpulan cerita dalam kehidupan sehari-hari sosial masyarakat, baik itu tentang pasangan suami-istri, pemuda-pemudi yang sedang jatuh cinta, kekeluargaan, dan politik. Bahasa yang digunakan membuat kita berusaha untuk menangkap maksud setiap kalimat. Setelah membaca dan memahami buku ini maka kita akan terbawa emosi seperti merasa jengkel, marah, bahkan hingga tertawa sendiri. Buku ini berisi tentang kehidupan sosial masyarakat yang pastinya menarik. Pembawaan ceritanya bersifat santai dengan menggunakan bahasa yang sederhana serta perpaduan bahasa jawa tradisional.

Ada beberapa subjudul yang menurut saya paling menarik, diantaranya cerita Puasa. Menceritakan tentang keluarga pasangan Nono, Nunuk, dan anaknya Ninik yang kerap melakukan rekreasi ke berbagai tempat. Kala ini Nunuk dan Ninik telah sepakat janji dengan Nono akan bertemu di restoran padang di Mojokerto, tetapi Nono terlambat karena ada urusan dengan atasannya. Ninik merasa kecewa karena waktu itu merupakan hari terakhir restoran tersebut mempertahankan keasliannya. Mulai besok restoran tersebut akan mengamalkan kebhinekaan dengan mempekerjakan karyawan restoran padang dari berbagai daerah.
Selain itu di buku ini juga menceritakan tentang bosnya Nono yang sangat tertib dalam bekerja dan rajin berpuasa. Hal tersebut berdampak pada para karyawannya. Bagi para karyawan yang sedang tidak berpuasa atau memang tidak berpuasa harus rela merasakan lapar karena tidak ada jadwal makan dengan alih-alih menghormati bosnya sedang berpuasa. Dalam cerita ini perihal toleransi antar sesama sangat ditonjolkan. Sebagai warga negara yang memang memiliki kepentingan dan latar belakang yang berbeda sudah seperti sebuah keharusan jika kita harus saling menghargai satu sama lain.
Cerita selanjutnya yaitu Sandyakala. Menceritakan tentang dua sejoli yang sedang kasmaran merasakan indahnya jatuh cinta. Jendrowati dan Sastro merupakan mahasiswa beda jurusan tetapi berasal dari perguruan tinggi yang sama. Kursi rotan di halaman kafe depan telaga kampus merupakan tempat kesukaan Jendrowati. Mereka selalu bertemu di tempat tersebut untuk sekedar berbincang berdua sampai menutup sore. Mahasiswa lain telah menganggap bahwa mereka adalah pasangan yang akan hidup bersama bahagia selamanya. Hingga pada suatu sore Satro bertanya kepada Jendrowati mengenai mas kawin apa yang dia inginkan jika menikah nanti. Dengan maksud bercanda Jendrowati menjawab apa saja asal bukan uang palsu. Jendrowati menjawab seperti itu karena saat itu sedang marak-maraknya pemalsuan dokumen negara.
“Kenapa aku suka senja, Kekasih? Karena negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kurang perenungan..” Talijiwo.

Dari puisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kebanyakan manusia sekarang hanya bersantai menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna dan terlalu sibuk dengan kepentingannya sendiri. Maka dari itu, diharapkan dengan membaca buku Talijiwa ini kita bisa mulai belajar untuk peka terhadap hal-hal disekitar dan juga tentang sosial masyarakat.

Keunggulan:
Talijiwo merupakan buku yang berisi kumpulan cerita yang isinya romantis, mengena, dan memiliki banyak makna. Membahas tentang kehidupan sehari-hari pada pasangan suami-istri, sepasang kekasih, kekeluargaan, sosial masyarakat, dan juga politik. Pada halaman-halaman tertentu diselingi dengan gambar yang tentu akan semakin menarik untuk dibaca. Isi dari buku ini mengajak para pembacanya agar bisa lebih peka terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kekurangan:
Penggunaan bahasa yang mungkin masih awam tak jarang membuat para pembaca kesulitan memahami makna dari buku Talijiwa. Buku ini mengandung berbagai aspek dan masalah, bagi para pembaca yang kurang mampu berpikir kritis tentu akan merasa kesulitan atau bahkan bosan sehingga cenderung untuk menghindari membacanya.

 

Tutus Puspa Asih

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *