Surat Terbuka Buat Dosen yang Menulis tentang Aksi BEM UNS

Asalamuallaikum pak Dosen..
Membaca tulisan bapak tentang aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa yang diorganisir oleh BEM itu saya jadi terharu. Ternyata ada juga yang memperhatikan kegiatan mahasiwa sampai sebegitu detailnya. Saya sebagai salah satu mahasiswa walaupun tidak tergabung dalam BEM sungguh mengucapkan terimakasih pak. Karena bapak sudah perhatian pada teman – teman saya apalagi sampai memikirkan bagaimana masa depannya.

Sebenarnya saya tidak tahu apa motiv bapak menuliskan hal tersebut. karna jika orang lain yang membacanya mungkin akan mempunyai pikiran yang berbeda – beda dari mulai menertawakan aksi BEM yang tidak penting, sampai kesal karena aksi tersebut dinilai tidak berpikir panjang (itu juga kalo yang baca adalah yang menjadi bagian dalam aksi tersebut). tapi jangan khawatir pak karena pasti ada yang berpikir sama seperti saya yang berterima kasih karena aksi tersebut mendapat perhatian dari bapak. Jika tidak ada minimal saya sudah berpikir demikian pak.
Tapi ketika bapak bilang negara tidak dibangun dengan corong toa dan teriak teriak dijalan mungkin bapak sudah melupakan sejarah pak. Apa bapak tau pak kita berhasil merdeka salah satunya juga berkat teriak – teriak di jalan pak? Apa bapak berpikir bahwa Indonesia bisa merdeka semata – mata karena perang dengan senjata bambu runcing pak? Saya kira tidak pak. Memang mahasiswa pada saat itu tidak hanya berteriak – teriak tapi juga membuat tulisan – tulisan di media masa tentang kemanusiaan yang anti terhadap kolonialisme dan juga berhasil mengorganisir para buruh untuk melakukan mogok kerja, membuat partai dan berhimpun. Apa itu yang bapak harapkan dari mahasiswa? Mahasiswa pernah seperti itu loh pak.

Pak kalau bapak sudah lupa tentang hal itu atau bahkan mengatakan bahwa kita beda jaman dengan mereka coba kita maju sedikit lagi. Pak bapak tau Soekarno presiden pertama Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, lengser juga karena mahasiswa loh pak. Juga Soeharto dengan orde barunya yang dikenal dengan bapak pembangunan, mahasiswa pun turut andil dalam melengserkan beliau. Dan itu semua dilakukan dengan cara berteriak – teriak di jalan. Dengan menggunakan corong toa dan jas almamater dari universitasnya masing – masing. sedikit mirip lah dengan aksi yang dilakukan BEM UNS kemarin. Di negara – negara lain pun sama pak mereka menyuarakan suaranya dengan teriak – teriak di jalan. Orang Palestina pun seperti itu. Benar memang aksi memang tidak jadi satu – satunya alat untuk menyuarakan aspirasi banyak cara lain yang lebih elegan yang bisa dilakukan ketimbang teriak – teriak hanya dengan segelintir orang.

Tapi saya tidak habis pikir kenapa bapak menyambung – nyambungkan aksi tersebut dengan kehidupan sehari – hari mahasiswa seperti itu pak? Justru kalau bapak bilang kajian BEM lemah saya bisa bersepakat dengan bapak. Namun sayangnya bapak malah mengkaitkan aksi tersebut dengan kehidupannya sebagai anak kos – kosan. Saya jadi sedikit berpikir pak, apakah lebihnya jadi orang yang tidak peduli sama sekali dengan negaranya dibanding orang yang ikut aksi kemarin? Toh sama saja mereka harus berpikir tentang kos – kosan, karir dan percintaannya pak. Saya jadi takut ada mahasiswa yang tidak peduli dengan lingkungannya membaca tulisan bapak lalu dia merasa lebih baik dari mahasiswa – mahasiswa yang tergabung dalam BEM. Tuh kan tulisan bapak itu efeknya besar loh pak. Apalagi sampai menjadi viral begitu. Apa bapak nggak takut mahasiswa yang baru belajar peduli terhadap negaranya dan mencoba mengkritik pemerintah jadi minder. Tuh kan orang kaya gitu jadi berkurang karena tulisan bapak jadinya? Bisa jadi kan seperti itu?

Kita mungkin bersepakat jika mengatakan tugas mahasiswa adalah belajar. Namun apa kita harus lulus dulu baru bisa berunjuk rasa seperti itu? Mungkin jika bapak menyarankan kepada BEM kalau mereka harus lebih giat membaca, berdiskusi, menulis dan berjejaring lagi – lagi saya akan sependapat dengan bapak. Tapi pak menurut saya ketika ada orang yang berpendidikan apalagi beragama, dia diam ketika melihat ada penindasan dan ketidakadilan di negaranya mereka telah berkhianat pada masyarakat. Itu sih menurut saya loh pak.

Afzal_

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *