SUM

Aku menghela nafas kuat-kuat. Semilir angin yang menerbangkan ujung kerudung tak mampu membuat nafas berang yang ku keluarkan mereda. Jariku mengetuk alas gubuk tua di tengah sawah.

Tuk… tuk… tuk.. tuk..tuk.tuk.tuk tuk tuktuktuktuktuk brak!

Geram. Itulah yang sedang ku rasakan. Mataku menatap lurus dengan tajam. Masih belum paham sebenarnya apa yang membuat para penyabet gelar orang-orang pintar berbuat seterkutuk itu. Tahta dan pengakuan digadang-gadang menjadi dewa penyelamat kehidupan bumi. Apakah dalil itu yang mereka jadikan landasan segala tindak terkutuk tak berdasar yang mereka lakukan? Aku masih tak mengerti. Ketika mbah Sum mulai mengorek lagi kehidupan pahitnya masa lalu, aku tersadar bahwa kekuasaan adalah candu dunia. Candu yang dijadikan raja hingga mampu mengalahkan sisi kejujuran dan kemanusiaan.

Mbah Sum mendekat ke sisi kosong sampingku dibawah gubuk tua. Peluhnya tampak terlihat ketika menatap kearahku sembari menyodorkan kelapa muda. Kulitnya terlihat renta. Mbah Sum terlihat amat tua. Tapi dibalik itu semua, siapa yang tidak menganga mengetahui fakta bahwa nenek tua ini masih kuat untuk menanam padi disawah? Atau memanjat genteng untuk membenarkan atap bocor?

            “Wes kebiasaan waktu ning penjara Nok” ujar mbah Sum.

            “Telulas tahun ning penjara Nok. Aku jane kepingin guyu. Wong dudu kesalahanku. Aku iki jaluk bali tanah, ora urusan karo PKI.” mbah Sum tersenyum sesaat setelah menyeruput air kelapa muda. Ia menaikkan kakinya ke atas gubuk untuk bersila. Mbah Sum menatapku lamat-lamat. Kemudia ia menceritakan kisah-kisah pilu dan pengorbanannya di masa lalu. Bagaimana ia kenyang merasakan dinginnya jeruji besi dengan nasi jagung yang selalu jadi penghalau laparnya. Mbah Sum menceritakan cerita yang sempat tertunda karena azan dhuhur tadi. Sambil ditemani semilir angin yang melambai-lambai dan dua buah kelapa muda penggugah dahaga, mbah Sum bercerita tentang suaminya.

            “Mereka enak Nok dikasih tunjangan. Sampai saiki namaku masih tercatat ning Batalyon. Iku pak Lurahe pekok wedi karo bojoku,” ujar mbah Sum sembari terkekeh di akhir ceritanya. Mbah Sum menengadahkan sedikit kepalanya ke atap gubuk tua ini, seakan mengingat kemarahan suaminya saat mengetahui ia dipenjara karena dituduh PKI. Mbah Sum bercerita, waktu itu, suaminya minta cerai dan akan menikah dengan istri barunya. Padahal perceraian bukan karena perselingkuran tidak diperbolehkan oleh Batalyon. Aku tersenyum. Senyum miris penuh geram tentunya. Ketika pangkat dijadikan sebagai penentu sebuah strata di masyarakat, maka tak heran jika keadilan banyak yang terbengkalai. Panji-panji keadilan yang berusaha ditegakkan oleh warga desa yang serba biasa ditumpas habis oleh kepalsuan dan hukum-hukum koyak yang sengaja disambung-sambungkan. Label PKI yang waktu itu digadang akan ditumpas habis seakan ditancapkan oleh siapa saja yang sedang berusaha menentang kekuasaan. Tak peduli benar atau salah, ketika mbah Sum berteriak lantang menjaga tanah sawah miliknya, maka label PKI begitu seenaknya tertancap di bahu kiri. Membuat ia dipenjara 13 tahun dengan dalih konyol yang sama sekali tak berdasar. Mbah Sum adalah seorang petani yang menjadikan tanah dan sawah sebagai ladang kehidupan. Waktu itu ia menjadi salah satu perempuan yang berontak pada peraturan pemerintah yang mengambil tanah warga desa 50 ubin perorang secara sepihak.

Mbah Sum menerima. Entah karena sudah lelah berteriak atau saking kenyangnya melihat kebobrokan dimana-mana. Mbah Sum memilih diam dipenjara dengan harapan ketika ia keluar, kesejahteraan menyapa desanya.

Lulun Safira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *