Solo Darurat Agraria

lpmmotivasi.com- Senin malam (27/05/2019) berbagai elemen mahasiswa berkumpul dalam sebuah forum “Solo Darurat Agraria” di danau Universitas Sebelas Maret. Agenda ini merupakan keberlanjutan dari aksi kolektif sebelumnya pada 31 Maret di Balai Kota yang membahas mengenai kasus-kasus Agraria di Solo Raya. Acara ini bukan suatu aksi, tetapi merupakan forum yang berisi mahasiswa dari setiap elemen. Forum ini menerima organisasi internal maupun eksternal kampus, mereka datang sebagai bagian dari suatu organisasi kemanusiaan dimana organisasi tersebut membela atau sebagai tempat untuk merespon isu-isu agraria di kota Solo. Ada beberapa Organisasi yang hadir dalam forum tersebut, seperti PMII, HMII, Jebres Demangan, Kentingan baru dan masih banyak pihak yang terlibat.

Dalam rapat kali ini, banyak hal yang di bahas, tetapi lebih intinya adalah masalah Agraria. Terbentuknya aliansi persatuan dari berbagai elemen mahasiswa ini merupakan upaya baru untuk merespon banyaknya kasus agraria di Solo, ditambah dengan belum adanya kelompok persatuan mahasiswa. “Di solo Raya ada banyak masalah, nah ini upaya baru kita untuk merespon itu karena penting. Di kota-kota lain juga terbentuk aliansi persatuan itu, sedangkan di Solo belum terbentuk,” ujar Edo Juan Pratama sebagai Koordinator acara.

Isu-isu yang di sampaikan dalam forum ini antara lain soal penggusuran yang ada di kentingan baru, Jebres Demangan ataupun yang ada di Semanggi, Jagalan, dan juga mengenai kritik kebijakan pembangunan kota soal PKL, jalan raya, fly over di Purwosari hingga isu mengenai agraria.

Salah satu peserta forum, Chintami yang hadir sebagai bagian dari PMII, mengungkapkan alasannya hadir dalam acara ini. “Ya jelas mahasiswa itu punya andil dalam ngomongin gerakan dan perubahan. Kalau kita merasa hari ini sedang tidak baik-baik saja ya kita memang harus ikut dalam forum-forum yang seperti ini,” terangnya. Tidak dapat di pungkiri jika persatuan ini tidak setuju dengan pemerintah. Hal ini didasari juga dengan cara berfikir pemerintah yang tidak sesuai dengan rakyat. “Apalagi itu tanah-tanah tidak bertuan, tanah yang sengketa. Tanah itu milik siapa? Tapi kenapa rakyat yang kasusnya itu belum jelas tau-tau rakyat harus di gusur. Akhirnya siapa yang dirugikan? Rakyatlah yang banyak dirugikan. Tapi keuntungan ada pada investor,” jelas Edo.

Di akhir acara juga disepakati untuk pembuatan group whatsapp, hal ini untuk mempermudah keberjalanan agenda kedepannya. Harapan dari adanya kegiatan ini tidak lain untuk mahasiswa agar terus merespon isu di kota Solo Raya. “Kita pengen bangun kelompok aliansi besar mahasiswa yang fokus pada isu agraria,” ungkap Edo. Tidak hanya harapan untuk keberlanjutan acara pada malam ini. Akan tetapi harapan-harapan untuk Solo sendiri di sampaikan oleh peserta. “Ya Solo ini yang berkeadilan, sejak dalam pikiran dan perbuatan. Kalau kita ngomongin adil itu artinya luas tapi kemudian hari ini kita berpihak pada orang yang tertindas maka adililah dan berikan keadilan,” kata Chintami.

 

 

Mar’atul Hidayah

Fitroh Nur Fauziah

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *