Skripsi Dihapus? Hanya Wacana, bukan Berita!

Wacana yang menyuarakan tentang pernyataan dari Menristek dan Dikti RI, Muhammad Nasir merancang penghapusan skripsi di perguruan tinggi sedang dibicarakan apalagi oleh mahasiswa strata satu yang sedang pusing-pusingnya memikirkan skripsi untuk proses kelulusannya. Alasan keluarnya wacana kebijakan itu adalah salin-menyalin skripsi masih marak terjadi dan jual-beli ijasah. Semua disebabkan atas nama kelulusan yang cepat tanpa harus bersusah payah memikirkan judul penelitian, tema penelitian, yang tepat untuk skripsi yang akan diajukan pada dosen pembimbing. Cara-cara serupa ini memanglah menjadi momok di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Belum jelas apa motivasi dari wacana skripsi yang akan dihilangkan itu.

Bukankah tidak baik jika sebuah wacana itu disebarluaskan sebagai pernyataan resmi dari pemerintah apalagi dari Menristek dan Dikti jika belum tentu benar disahkan? Mengingat kementrian memegang peran penting di pemerintahan. Apabila berhubungan dengan institusi pendidikan, seharusnya yang memberi pernyataan resmi dan bisa dipertanggungjawabkan adalah Mendiknas. Bila hendak meniadakan skripsi, maka harus dilakukan kajian komprehensif, sisi buruk skripsi (bila memang ditemukan), kelemahan-kelemahan dalam pembuatan skripsi, hubungan dosen pembimbing/penguji dengan mahasiswa terbimbing/teruji selama proses pembuatan, pengesahan skripsi itu sampai mahasiswa tersebut kenapa bisa lulus.

Kampus di Indonesia, sekarang ini mungkin saja dibanding-bandingkan dengan kampus-kampus di luar negeri seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan juga Singapura, dan lain-lain yang telah lama menghapus skrispi untuk mahasiswa strata satu sebagai tugas akhir perkuliahannya. Mereka berasumsi bahwa Indonesia mengalami kemunduran dalam pendidikan karena tidak mengikuti perkembangan seperti yang diterapkan di kampus-kampus luar negeri. Mereka berasusmsi lagi kalau lulusan luar negeri adalah lulusan yang terbaik karena di mata mereka, lulusan tersebut mampu mencari pekerjaan dengan mudah di luar kampusnya. Padahal belum tentu, kebijakan yang diambil oleh pemerintahan di negara-negara tersebut memberikan lulusan yang terbaik dan berhasil di dunia kerja.

Mengenai jual-beli ijazah yang marak terjadi, itu bukan 100% kesalahan dari institusi dan pegawai-pegawainya, juga dosen-dosennya, akan tetapi kesalahan dari personal mahasiswa yang menginginkan cara cepat untuk memakai toga diacara wisuda. Selain jual-beli ijazah, jual-beli skripsi juga marak terjadi pada mahasiswa yang kurang beruntung dalam melaksanakan proses membuat skripsinya, atau bahkan sudah lelah karena dosen pembimbing yang sulit ditemui atau dimintai saran mengenai skripsinya. Sesuai dengan pengalaman yang saya dengar dari kakak tingkat yang sedang mengurus skripsinya, berbagai halangan seakan merintang ketika menyusun lembar demi lembar skripsinya. Akhirnya, dengan bantuan uang orang tua atau bahkan orang tua tak tahu menahu tentang itu, membeli tumpukkan lembar-lembar HVS A4 70gr yang dijilid hard cover dengan mudah tersedia yang sudah jelas tentu dilegalisasi oleh semua dosen pembimbing.

Suka cita bersorak dari mahasiswa semester 5 seperti saya apabila wacana tersebut memang terwujud dan diresmikan. Akan tetapi jika benar skripsi dihapus, mahasiswa semester 5 juga harus mencicipi kebijakan baru sebagai ganti penghapusan skripsi tersebut yang mungkin saja lebih susah dalam menjalaninya daripada menghadap dosen, mengadakan penelitian, ujian skripsi dan lain-lainnya. Situasi akan lebih canggung apabila mahasiswa semester 5 adalah yang pertama dalam uji coba penghapusan skripsi tersebut. Entah akan berhasil melewati proses menuju lulus wisuda atau tidak, yang penting mahasiswa harus tetap melewati proses tersebut tanpa mengeluh dan tidak boleh memohon agar kebijakan tersebut dicabut kembali karena itu tidak akan mungkin jika sudah diresmikan.

Proses dalam penyusunan skripsi seharusnya menjadi proses yang dinikmati oleh setiap mahasiswa strata satu dalam memeroleh gelar sarjananya. Dalam menyusun skripsi, yang terpenting adalah prosesnya, yaitu prinsip penting yang menjadi unsur utama dalam riset, yakni integritas dan cara berfikir ilmiah. Menyusun skripsi bukan hanya melulu mencari buku di perpustakaan berhari-hari atau penelitian ke sekolah-sekolah bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tetapi cara berfikir ilmiah dan cara menulis ilmiah yang diaplikasikan agar terintegrasi pada isi di setiap kalimat-kalimatnya. Apabila isi dari skripsinya padu dan masuk akal, maka akan mudah bagi dosen pembimbing meluluskan mahasiswa bimbingannya. Lagipula, mereka sudah mendapatkan ilmu mengenai cara menulis ilmiah yang baik dan benar di masa perkuliahannya.

Dosen pembimbing bukan hanya satu-satunya yang menjadi faktor penentu kelulusan, tetapi yang justru menjadi penentu adalah dari personal mahasiswanya. Urusan ingin membuat skripsi dengan usaha agar cepat lulus atau malas menyusun dan memilih nanti, adalah masalahnya. Terkadang, dosen sudah memberikan berbagai jalan keluar untuk mengatasi masalah mahasiswanya tersebut tapi mahasiswanya sendiri yang urung melaksanakan. Cerita megenai dosen pembimbing yang sulit ditemui karena banyak alasan untuk menyulitkan mahasiswanya, semoga tak pernah terjadi karena citra dosen akan tercemar apabila masalah itu dimunculkan ke publik.

Bagaimana dengan rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta mengenai penghapusan skripsi ini? Menurut artikel yang dimuat disitus Joglosemar, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Ravik Karsidi belum menentukan sikap terkait wacana Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir yang menghapus skripsi sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1. Menurut rektor UNS, Prof Ravik Karsidi, beliau belum bisa berkomentar detail terkait wacana tersebut, karena sampai saat ini hal tersebut masih bersifat wacana yang belum direalisasikan. Belum juga menjadi keputusan menteri. Namun di UNS sendiri, sampai saat ini skripsi masih diwajibkan bagi mahasiswa S1. Wacana penghapusan skripsi, menurut Rektor Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati tidak sepakat dengan wacana penghapusan skripsi sebagai syarat meraih gelar S1. Ini membuktikan, bahwa penghapusan skripsi tetaplah menjadi wacana bukan berita nyata.

Menurut saya, sebagai mahasiswa semester 5 yang sedang mengalami masa-masa belajar sungguh-sungguh agar selamat dalam menyusun skripsi, penghapusan skripsi mungkin akan membuat senang, tetapi juga akan menimbulkan tanda tanya besar. Tanda tanya besar itu adalah, tugas apa yang akan diberikan untuk tugas akhir perkuliahan, apa lebih parah dari penyusunan skripsi atau lebih baik dijalani daripada skripsi? Tentang setuju atau tidak setuju, belum bisa diberikan jawaban pasti sekarang karena kebijakan penghapusan skripsi hanya wacana saja, bukan pernyataan resmi.

Skripsi, satu kata penuh kontroversi bagi mahasiswa tingkah atas. Skripsi, bukan sebuah kata kerja tapi membuat mahasiswa bekerja keras untuk melahirkannya dalam sebuah karya ilmiah sebagai tanggung jawabnya sebagai mahasiswa selama kuliah 4 tahun di kampus. Skripsi, penentu bagi mahasiswa akhir yang berhubungan dengan apa yang selama ini dia lakukan, dia pelajari dan dia pahami selama di kelas maupun di luar kelas. Skripsi, satu kata saja bisa membuat pusing kepala, sakit perut, seluruh emosi termasuk marah, senang, kesal, sedih dan lain-lainnya diekspresikan setelah mengahadap layar laptop dan menghadap wajah dosen. Akan tetapi, tentang sebuah keberhasilan, bukan suatu yang tabu jika dibicarakan setelah usaha dan putus asa yang pernah ditelan mentah-mentah dalam melakukan suatu proses bisa mencairkan ketegangan dan kegundahan itu dengan seragam toga, ijazah kelulusan, dan foto kelulusan.

                                                                                                                                    Dyah T S

                                                                                                                                    Pendidikan Bahasa Indonesia

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *