Sistem Blokir Dana Bidikmisi Menuai Pro-Kontra

Sistem pencairan dana bidikmisi kembali menuai berbagai tanggapan dari mahasiswa. Menurut Kabag Kesma, sistim blokir dana setiap bulan dinilai sebagai upaya pendisiplinan mahasiswa.

LPMMOTIVASI.com, Sistem pencairan dana Bidikmisi yang ada di UNS adalah dengan pencairan Rp 600.000,00 per bulan. Pemberlakuan semesternya berbeda dengan pemberlakuan yang ada di UNS. “Sistemnya bukan memblokir tetapi mendisplinkan kembali, artinya sesuai dengan peraturan haknya mahasiswa itu Rp 600.000 per bulan. Pemberlakuaan semesternya berbeda dengan pemberlakuan yang ada di kita, semester yang di pakai adalah yang ada di dikti, kalau kita semester Februari sampai Juli tetapi kalau keuangannya itu Maret sampai Agustus,” ungkap Ketua Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Joko Sugiyatno, Kamis (28/5).
Menurut Joko, sistem pemblokiran ini digunakan untuk mendisiplinkan mahasiswa agar uang beasiswa tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya. “Hal ini adalah langkah untuk mendisiplinkan kembali. Ada sesuatu yang sebenarnya sudah tercukupi ternyata bisa hidup sampai nanti, atau justru kita malah mengajari mahasiswa hutang yang belum haknya. Ini kan bantuan biaya hidup! Ya kalau nanti dia masih hidup!” tutur Joko.
Menurut penuturan Joko, sistem pemblokiran ini sudah disosialisasikan sejak awal baik ke mahasiswa maupun ke bank terkait. “Nah saat mahasiswa di displinkan mahasiswa kaget, padahal sudah ada sosialisasi sejak awal,” ungkapnya.
Dalam realisasinya ada masih ada pemblokiran yang tidak serentak, ada yang bisa membuka blokiran dan ada yang tidak bisa. “Waktu itu saat temanku membuka blokiran bisa. Tapi entah kenapa ternyata saat aku buka blokiran enggak bisa,” terang Mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Delima, Jumat (29/5). “Kalau misalnya di buka ya di buka semua, jangan satu-satu. Kalau seperti itu tidak adil,” imbuhnya.
Menanggapi tidak serentaknya pemblokiran, menurut Joko hal tersebut terjadi karena adanya ketidaksamaan waktu antara pemberian dana dari dikti yang langsung ke rekening penerima biasiswa dengan warta dari UNS. Sehingga menimbulkan kesan tidak serentak. “Namanya warta dengan ATM, duluan mana? Misalnya pemberitahuan dari dikti ini sudah cair tanggal 3, ndelalah malamnya si anak tadi membuka ATM padahal kita belum melakukan pemblokiran, Nah uang tadi langsung diambil”, jelas Joko.
Sistem blokir dana Bidik misi ini menuai pendapat berbeda dari beberapa mahasiswa. Beberpa menyetujui dengan sistem sebulan sekali. Sebagian lebih setuju jika keluar langsung satu semester agar dapat mengantisipasi kebutuhan mendadak.
Banyak tanggapan dari mahasiswa mengenai pemberlakuan sistem ini. “Ya kalau memang mau pemblokiran enggak papa tapi kalau misalnya kita ke centernya terus minta dibuka, ya minta tolong dibuka lah. Lha misalnya kalau kita memang udah enggak punya duit, terus mau minta dari rumah kan juga enggak enak. Kan dari rumah sudahdari bidikmisi, padahal di sini kebutuhannya bukan cuma untuk makan,” tutur Delima. Mahasiswi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Indah Trismiati sedikit banyak sependapat dengan pendapat Delima. Ia tidak setuju mengenai kebijakan turunnya beasiswa bidikmisi secara berkala sebesar Rp 600.000.00. Menurutnya, pemblokiran uang sebanyak Rp 600.000/bulan tersebut membuat bingung saat dalam keadaan mendesak. “Jika 3,6 juta langsung turun, itu menguntungkan saat sedang benar-benar dibutuhkan sehingga uangnya bisa digunakan saat itu juga. Akan lebih baik jika sistemnya bisa diubah dengan tidak ada pemblokiran perbulan,” ujarnya.Berbeda dengan pendapat Delima dan Trismiati, menurut mahasiswi Falkutas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia, Puput Puji Lestari lebih baik jika pembekuan dilakukan sebulan sekali. ”Pembekuan satu bulan sekali itu lebih jelas daripada tiba-tiba 3 bulan baru cair, padahal kita tidak tahu bulan-bulan mana yang membutuhkan uang lebih. Kalau setiap bulan Rp 600.000,00 kita bisa tahu ke depannya harus menyisihkan uang seberapa banyak untuk kejadian isidental sehingga ada persediaan uang dan lebih bisa membagi uang tersebut,” ungkapnya, Kamis (28/5).
Bahkan karena kurangnya uang, beberapa mahasiswa bidikmisi terpaksa meminjam uang milik temannya, seperti Maulina Kartika dari Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya. “Kalo duit nggak cukup biasanya pinjem temen, pas duit bidikmisi udah keluar baru diganti. Bulan berikutnya ngirit, kadang orang tua juga ngasih sih.” Kata Maulina yang ditemui di taman samping gedung SPMB.
Pihak mawa memberikan jalan keluar bagi mahasiswa bidikmisi yang memerluhkan biaya untuk keperluan mendesak. Menurut Joko selaku Kabag Kesma, mahasiwa boleh mengajukan permohonan untuk pengambilan uang di rekening. Dengan membuat surat pernyataan dan di sertai dengan alasan yang logis. ”Jadi, jika ingin membuka pemblokiran bisa dengan membuat surat pernyataan asalkan dia bisa mempertanggungjawabkan pemakaian uang tersebut”, terangnya lebih lanjut.

                                                                                                                                                                                           Dwi_Erisya

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *