Sistem Baru, Untung-untungan

Perubahan sistem penilaian maupun ujian dikarenakan perubahan pimpinan birokrasi di atas sana. Kadang saya bertanya mengapa baru akan dimulai sekarang, setelah dua tahun saya kuliah. Dan bahkan akan ada UTS atau evaluasi akhir, padahal di luar sana saya membanggakan UNS karena tak ada evaluasi semacam itu. Jika ada evaluasi di akhir, maka materi perkuliahan akan menumpuk di akhir dan menjadi beban pikiran, seperti zaman SMA saja. Berbeda dengan UKD kita bisa setiap saat belajar. Sementara untuk sistem UTS, nantinya dikhawatirkan mahasiswa akan belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saja untuk ujian besoknya dengan jumlah materi yang sangat banyak. Nilai yang diperoleh pun belum tentu mencerminkan kualitas seseorang. Bukankah kita belajar dilihat dari prosesnya bukan sekadar hasil akhir?

Persoalan lain adalah soal penilaian. Ada A+, A, A- dan seterusnya. Terkadang penilaian beberapa dosen terhadap siswa hanya asal acak saja, kemudian katanya objektif malah dikurangi sebagian. Di mana letak keobjektifan itu, ya? Pada akhirnya siswa yang rajin atau pandai malah memiliki nilai yang kurang, sedangkan yang tak pernah masuk dan kurang rajin malah mendapatkan nilai yang baik daripada yang rajin tadi.

Satu lagi soal presensi kehadiran. Setiap kehadiran langsung diinput ke Tata Usaha (TU). Apabila kita masuk tetapi tidak presensi, kita dianggap tidak masuk. Tentu yang terlewat untuk tanda-tangan merasa dirugikan. Sementara data di TU  tidak bisa diperbaiki. Walaupun sebenarnya aturan itu mengantisipasi kecurangan, tapi asal tahu saja masih banyak kecurangan yang terjadi. Kita sebut saja TA atau titip absen. Mereka yang sering titip absen, berleha-leha sedangkan temannya yang masuk berduka karena terlewat untuk tanda tangan presensi. Mohon ini juga menjadi pertimbangan. Hal ini seharusnya menjadi sebuah catatan yang harus dievaluasi dari pihak birokrasi atau bisa saja mengadakan penilaian kerja dosen oleh mahasiswa setiap prodi, agar aspirasi tersebut dapat tersampaikan.

Lilis Kholisah

Pendidikan Bahasa Indonesia 2013

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *