Secercah Ide Untuk Lembaran Fiksi

Pernah menulis cerita fiksi? Cerpen, cerbung, atau bahkan novel?

Salah satu kendala terbesar dalam dunia kepenulisan justru terletak pada hal yang paling mendasar, ide. Sebenarnya, ide itu bisa diperoleh dari mana saja. Pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, benda-benda di sekitar kita atau bahkan perkataan yang tak sengaja mampir di telinga kita. Semua bisa menjadi ide untuk sebuah tulisan, hanya perlu sedikit penyaringan dan jadilah sebuah karya.

Apakah semudah itu?

Jawabanya sering kali, tidak. Terkadang, ketika hendak menulis, sebuah ide luar biasa cemerlang singgah di otak kita. Satu kalimat, dua paragraf, satu halaman dua halaman, lancar. Tapi, ketika hendak memasuki halaman ketiga tiba-tiba ide itu hilang, lenyap, tak tersisa. Lalu, seperti tulisan-tulisan kita yang lain, berhenti di tengah jalan.

Tentu kita tak ingin karya kita yang lain bernasib sama, kan? Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tulisan kita tidak berhenti di tengah jalan. Hanya karena ide yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

Pertama, carilah gambar, di google, majalah, atau yang lain. Tidak harus sesuai dengan apa yang kita tulis. Tidak nyambung justru akan membuat jalan cerita semakin unik dan menarik. Juga, tidak perlu semua elemen di gambar tersebut kita masukkan ke dalam cerita. Cukup ambil beberapa saja. Semisal, gambar pemain bola yang berhasil mencetak gol. Di sana ada gambar rumput, pemain, gawang, bola, penonton, dan masih banyak lagi yang lain. Ambil satu atau dua elemen saja, misal, gambar rumput dan bola. Lalu, dengan objek tersebut kembangkan menjadi sepuluh kalimat.

Kedua, ambil majalah, novel, atau bacaan apa pun. Buka di sembarang halaman. Baca kalimat yang kalian baca pertama kali. Tidak harus di paragraf awal, di manapun boleh. Lalu, satu kalimat tersebut kembangkan menjadi sepuluh atau dua puluh kalimat. Jika sudah selesai, gantilah kalimat tadi dengan menggunakan kalimat kita sendiri. Hal itu untuk menghindari yang namanya plagiat. Dengan begitu, ide baru akan segera hinggap diotak kalian.

Ketiga, cara yang paling sederhana. Manfaatkan indra pendengaran kalian. Tangkap satu kalimat yang pertama kalian dengar dari siapapun. Lalu, kembangkan menjadi sepuluh atau dua puluh kalimat.

Dengan menerapkan beberapa hal di atas, diharapkan tidak ada lagi naskah yang terbengkalai karena masalah ide. Selamat menulis.

Widyastuti Putri

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *