Sakit Hati karena Opini : Kekerasan Bukan Jalan Ninja Sempurna, Kanda

Menulis adalah keberanian…”

Mungkin itulah yang menjadi tameng reporter LPM Progres untuk menuliskan opini bertajuk “ Sesat berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law”. Kejadian tidak menguntungkan akhirnya diterima oleh reporter LPM Progres seusai melakukan diskusi dengan HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra yang tidak terima atas tulisan tersebut. Mungkin alergi dengan suara ketikan keyboard laptop dan suara goresan pena di kertas, alih-alih menerima tawaran untuk membantah opini yang tidak diterima itu, reporter LPM Progres malah mendapat ancaman dari parang yang meradang. Tentu bukan sekadar ancaman tak bermakna. Tak lama dari itu, reporter LPM Progres mendapat pukulan balasan sakit hati karena opini yang ia tulis. Sangat mengejutkan ketika opini mampu membuat attitude seseorang merosot sampai dasar jurang, luar biasa. Mungkin itu sebabnya C.S. Lewis mengungkapkan bahwa “Kamu bisa melakukan segala hal dengan menulis” Termasuk membuat seseorang melupakan segala kesopanan dan kecerdasan yang sangat dielu-elukan. Namun, sehebat apapun pengaruh sebuah tulisan, kontrol diri harus tetap diutamakan. Jangan sampai emosi yang meletup-letup menjadi bumerang bagi diri-sendiri, karena kemarahan selalu dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.

Kasus kekerasan terhadap reporter LPM Progres mengingatkan kita akan kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis yang selalu mengisi kolom pemberitaan. Undang-Undang Pers yang menjadi lampu merah agaknya selalu siap diterobos kapanpun. Hukum yang ada tidak pernah menyelesaikan kasus kekerasan terhadap jurnalis dengan tuntas. Hal ini tentu membuat para oknum berani berbuat keji terhadap jurnalis karena memang tak ada kata jera.

Dilansir dari Detik.news, menurut catatan AJI (Aliansi Jurnalis Independen), sebanyak 53 kasus kekerasan terhadap jurnalis terjadi dalam dua peristiwa besar di taun 2019. Pertama, saat demonstrasi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu pada 20-21 Mei 2019 dan kedua, saat demonstrasi mahasiswa pada 23-30 September 2019.Tentu hal ini menggores duka di dunia jurnalistik. Kekerasan bukan jalan yang bermartabat untuk menyelesaikan permasalahan. Bukan pula jalan ninja untuk menunjukkan kemarahan atau memperlihatkan kehebatan seseorang. Kekerasan terhadap jurnalis akan terus menghantui jika tidak ada orang yang mengingatkan dengan perlawanan.

 

Lulun Safira_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *