Sajak Semangkuk Bubur

April. Aku berdiri menyender pada pagar kayu bercat merah di pinggir taman Kema Sakuranomiya. Mankai1 dari hampir 1000 pohon sakura yang bergerumbul tiap koloni dengan cantiknya membelah langit musim semi. Aku mendongak, sambil memejamkan mata juga merasakan angin lembut hasil kibasan bunga-bunga kecil di atas tubuhku.

 “Kirei!2

Sahutku dalam hati. Ah, Osaka tak henti-hentinya membangkitkan gairahku untuk berlama – lama disini. Tepatnya tiga tahun sudah aku bekerja di salah satu kota metropolitan terbesar di dunia. Senang, juga tenang karena aku sedang menjalani sebagian impianku untuk…

Untuk… Apa?

Ah!

Aku membuka kedua mataku, melihat sekelilingku yang dipenuhi tawa kanak-kanak yang sedang menunjuk sesuatu di atas mereka. Mungkin bunga sakura, atau hanya langit? Entahlah, tapi yang aneh sekarang adalah aku. Tiba-tiba limbung di tengah kerumunan, di bawah keindahan.

Aku menunduk, sebuah kelopak merah muda jatuh di atas sepatu hitamku mengantarku pada kilas balik hidupku belasan tahun lalu.

Tenggelam dalam kosong.

Samar-samar terdengar sebuah nyanyian yang sangat lekat aku ingat.

Selamat ulang tahun,

Selamat ulang tahun,

Hari ini, aku….

Selamat ulang tahun, Nanda…

Selamat ulang tahun…

Aku kaget bukan main, buru-buru aku mengeluarkan smartphoneku dan langsung aku buka kotak masuk emailku. Benar saja, ada dua buah email masuk. Dua-duanya dari Risma, adik perempuanku satu-satunya.

Aku buka email pertama. Tidak ada subjek, dan terdapat lampiran sebuah foto kue ulang tahun bertingkat tiga, dengan krim coklat membaluti hampir seluruh bagiannya. Kemudian aku baca di dalam badan pesannya.

Selamat ulang tahun, Nanda.

Hari ini Nanda berumur 25 tahun, semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan dilimpahi berkah yang luar biasa banyak. Ibu dan Risma disini selalu mendoakan Nanda supaya Nanda tidak pernah terjatuh dan menangis tanpa Ibu dan Risma.  

Aamiin.

 

Salam hangat dari Ibu dan Risma.

Aku bangkit dan senyumku mulai merekah seperti mankaimankai di atasku. Sambil terus tersenyum aku berjalan menuju sebuah kursi dijangkauan pandangku. Lalu, aku membuka email kedua yang dikirim sekitar 2 jam setelah email pertama. Ibu dan risma ternyata terlalu berlebihan membuatkanku kue bertingkat tiga begitu, memang siapa yang akan menghabiskan?

Aku mulai membaca badan email kedua. Aku tersentak. Pertanyaanku barusan tertulis di salah satu bagian isi pesan tersebut.

Malam Mas,

Maaf, Risma tidak bisa seperti Ibu yang buruburu mengucapkannya 2 jam lalu. Risma baru bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” ya sekarang mas, pergantian malam dan pagi di sini, bukan di Osaka sana. Kalau mas tanya alasannya, jelas karena Risma terbiasa mengucapkannya sekarang.

Mas sudah lihat kiriman Ibu tadi? Ibu membuatkan kue sebesar itu khusus buat mas. Sebenarnya ada yang ingin Ibu sampaikan layaknya di pesanpesan Ibu yang sebelumnya, tapi sepertinya mas tidak kunjung mengerti juga. Ya sudah Risma langsung sampaikan saja sekarang kepada Mas Nanda.

Mas ingat dua kali ulang tahun mas sebelumnya? Apakah yang Ibu kirim buat Mas? Semangkuk bubur sumsum dengan saus gula yang menggenang seperti yang mas selalu minta pada Ibu. Apa yang ingin ibu lewatkan mas? Perasaan rindunya pada anak sulungnya yang waktu itu sudah satu tahun tidak dilihatnya. Itu kali pertama.

Apa mas mengerti? Tidak. Lalu tahun kedua, Ibu mengirimkan gambar yang sama dan kali itu Ibu meminta Risma mengambil gambar tiga mangkuk bubur yang berjejer di atas meja makan. Siapa sangka mas, Ibu bisa begitu lugu mengirimi gambargambar yang bahkan tidak pernah sampai maknanya kepada mas.

Risma bahkan tidak sanggup buat mengirimi mas email lagi hari itu, karena seberapa banyak pun bubur yang ibu buat sepertinya tidak berarti apaapa buat mas.

Dan tahun ini, Ibu beberapa hari terlihat memikirkan sesuatu. Setelah Risma bertanya, Ibu menjawab dengan berat kalau Ibu bingung hadiah apa yang akan Ibu berikan pada Mas tahun ini. Dua kali Ibu membuat hal yang menurut Ibu, Mas akan suka tapi tetap tidak ada yang berhasil.

Jadi, kemarin Ibu membuat kue besar itu dengan susah payah, bahkan berjamjam sampai Ibu lupa waktunya makan siang. Kata Ibu, kue itulah yang bisa membuat mas mengerti.

Ibu memang tidak pernah menuliskan perasaannya lewat tulisan kepada mas. Ibu juga meminta Risma untuk tidak bilang apaapa kepada mas. Tapi, melihat harapan ibu yang sepertinya hanya menjadi email lama yang tenggelam di kotak masuk mas, Risma merasa harus menyampaikan perasaan Ibu langsung kepada mas. 

Pulanglah mas, lagipula siapa yang akan menghabiskan kue sebesar itu?

 

Sekian dari Risma, Mas. Maaf kalau kedatangan email Risma menganggu Mas.

Malam, Mas Nanda.

Semoga Mas selalu dalam lindungan Tuhan.

 

Aku begitu terkejut setelah membaca email kedua itu. Sebesar itu kah? Sebodoh itu kah  aku? Begitu durhakanya kah aku?

Aku koyak seketika.

Aku tiba-tiba terisak. Tiba-tiba menyesali tiga tahunku di Osaka. Sungguh tidak aku sangka ternyata sudah terlewat rindu Ibu padaku, dan aku tidak menyadari sedikit pun perasaannya. Perasaan tiga tahunnya yang baru terasa menyengat sekarang tidak pernah aku cium sebelumnya. Mungkinkah aku terlalu terlena dengan keindahan sakura setiap ulang tahunku tiba hingga aku lupa Ibu dan Risma. Atau sekedar khilaf dengan ambisi kerjaku yang menggelora, atau apa? Aku sampai tidak habis fikir kenapa bisa aku mengacuhkan perasaan Ibu yang berkali-kali Ibu lewatkan.

Kini semuanya berputar-putar. Aku teringat Ibu, Risma, dan semangkuk bubur yang sering Ibu buatkan di ulang tahunku. Otakku tiba-tiba memutar sebuah drama masa laluku di luar kendaliku.

***

“Ibu, kenapa setiap ulang tahun Nanda selalu mendapat bubur sumsum ini dari Ibu?” Kata seorang anak kecil sambil melahap bubur sumsum di depan Ibunya.

“Bukannya Nanda suka sekali dengan bubur ini?”

“Iya, Ibu… Nanda suka,” menelan bubur di dalam mulutnya yang masih tersisa “Tetapi, teman-teman Nanda semuanya mendapat kue yang besar sekali ketika ulang tahun mereka tiba. Kenapa Nanda tidak?” Katanya polos, Ibu hanya tersenyum sambil mulai mengelus rambut anak kecilnya itu.

“Sini, biar Ibu ceritakan,” sang Ibu mendekat sambil mendekap anaknya yang masih saja menikmati bubur sumsum yang tinggal setengah mangkuk.

“Nanda tahu tidak kalau Ayah Nanda juga suka sekali dengan bubur sumsum ini?”

Anaknya mengangguk.

“Ayah pernah bercerita pada Ibu, kalau ada makna dibalik bubur ini.” Ibunya mengusap kembali kepala si anak dengan lembut “Begini. Dulu, kakek Nanda sering bercerita pada Ayah kalau bubur sumsum ini sebenarnya adalah makanan yang punya arti bagi Indonesia.”

“Kenapa bu? Apa dulu kakek selalu makan bubur ini ketika perang?”

Ibunya tertawa kecil “Tidak, Nanda. Nanda tahu kan warna bendera Negara kita?”

“Merah putih!” kata anak kecil itu berapi-api.

“Betul. Dulu, sewaktu Indonesia belum merdeka, untuk mengibarkan bendera kita saja, para pejuang kita harus gugur. Banyak sekali yang dikorbankan. Kita berjuang sampai titik darah penghabisan,”

“Kenapa harus begitu, bu? Bukannya itu hanya kain?”

“Jika merah dan putih saja, mereka memang hanya kain yang tidak berarti, tetapi ketika mereka disatukan menjadi bendera merah putih, maka di dalam bendera itu sudah tertanam jiwa dan raga dari seluruh Bangsa Indonesia. Dan apa yang akan kita lakukan untuk menegakkan jiwa dan raga kita? Apalagi kalau bukan mengibarkan bendera merah putih di tanah yang kita miliki?”

Ibunya mengambil mangkuk bubur yang kedua, kali ini dia menyuapi anaknya.

“Nanda ingat apa arti merah dan putih pada bendera kita?”

“Merah artinya berani, kalau putih artinya suci,” katanya bersemangat.

“Iya, betul sekali. Coba kalau mereka hanya berdiri masing-masing. Kalau orang hanya mempunyai keberanian, hidupnya tidak akan tenang dan diberkahi oleh Tuhan. Dan begitu pula orang yang hanya mementingkan kesuciannya tetapi tidak memiliki keberanian, bagaimana dia akan maju? Iya kan?”

“O…” Anak kecil itu ber-oh-oh selayaknya dia mengerti.

“Sama seperti bubur sumsum yang sedang Nanda makan ini, sayang. Apakah Nanda mau kalau memakan bubur atau gulanya saja?”

“Tidak. Mana mungkin seenak kalau dimakan bersamaan seperti ini?”

“Begitu maksud kakek, Nanda. Jadi, karena Nanda sudah mengerti. Berikan keberanian dan kesucian Nanda untuk Indonesia. Ya, sayang? Ibu, Ayah, dan Kakek juga ingin Nanda mencintai negeri ini seperti kami”

“Iya, bu. Nanda akan mencintai Indonesia seperti yang Ibu bilang,” Anak itu berhenti sejenak “Tapi, bu. Kalau Nanda cinta Indonesia, berarti Nanda tidak boleh pergi ke luar negeri? Nanda tidak boleh meninggalkan Indonesia? Padahal Nanda sangat ingin,”

“Tidak, Nanda. Boleh. Sangat boleh. Tapi ingat Nanda, pergilah dengan selalu membawa merah dan putih di dalam diri Nanda. Pergilah dengan keberanian Nanda, tapi jangan lupakan negeri ini, karena Negeri ini selalu ingin Nanda kembali. Juga selalu jaga hati Nanda supaya tetap bersih dan tidak berkurang sedikitpun cinta Nanda kepada Indonesia…

…Keberanian Nanda seluruhnya ada di raga Nanda” sang ibu memegang kedua pundak anaknya “Dan kesucian serta cinta Nanda, ada di dalam sini” Ibunya menunjuk ke arah dada sang anak. “Kalau nanda pergi kemana-mana jangan tinggalkan salah satunya ya?”

“Iya, ibu, Nanda Janji. Kalau begitu Nanda akan makan buburnya banyak- banyak supaya merah dan putihnya lebih banyak lagi masuk ke dalam diri Nanda.” Anak kecil itu tersenyum lebar, kemudian tertawa dan mengambil semangkuk lagi bubur yang ada di panci.

***

Tubuhku gemetar.

Merah dan Putih.

Aku melupakan janji yang aku ucap sendiri. Terlena oleh gemerlap Osaka, tenggelam di ranting-ranting pohon sakura. Betapa bodohnya aku, betapa hina hingga aku sekarang tidak lagi suci, tidak lagi seperti dulu dalam mencintai Indonesiaku. Bahkan untuk merasakan pesan Ibuku pun aku tidak bisa, bagaimana aku akan teringat negeriku?

Aku menangis tanpa suara. Malu pada negeriku, malu pula pada Osaka yang aku puji-puji di atas ketidaksucianku. Perasaanku membuncah, sangat riang menusuk ranah logikaku. Dadaku makin sesak, perasaan bersalahku tidak dapat aku bendung dan maafkan.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil meremas jemari tanganku.

Ojisan, doushite naku no desu ka?3 Seorang anak kecil dengan mata sipit memandangiku polos. Sebuah payung di genggamannnya bertengger cantik di pundaknya, sebuah bandana mankai melingkari kepalanya. Manis, hingga aku terpaku dan lupa mengusap air mataku.

“Rin!” Seorang bapak tua memanggilnya dari kejauhan. Anak itu berlari dan cepat-cepat meraih tangan bapak itu. Dan dia menoleh ke arahku sekejap.

Nanimonai, hontou4” Aku tersenyum. Meskipun aku yakin dia tidak mendengar, tapi dia ikut tersenyum.

Arigatou. Terimakasih sudah menenangkanku.

Aku bangkit. Aku berlari melawan arus. Aku tahu harus kemana sekarang. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sebagai Nanda, juga sebagai anak Indonesia.

To : risma@xyz.com

From : nanda@xyz.com

Selamat pagi Ibu,

Selamat pagi juga Risma,

Ibu, Risma, seminggu lagi mas Nanda akan pulang ke Indonesia. Maafkan Nanda karena tidak sempat meluangkan waktu untuk Ibu. Tolong buatkan bubur sumsum ya bu. Tapi, kali ini Nanda minta gula merahnya sedikit saja, Nanda ingin Ibu juga menyiapkannya untuk Risma dan Kakek.

Terimakasih sebelumnya bu.

Tunggu Nanda di Indonesia.

 

Peluk dan Cium,

Nanda

 

Kenapa aku meminta gula merahnya sedikit saja, padahal aku sangat suka sekali manisnya dan selalu ingin gulanya menggenang di atas bubur? Aku sekarang mengerti satu hal, betapa bubur sumsum itu sangat berpengaruh di hidupku. Aku dulu terlalu banyak meminta gulanya, sehingga aku kini menjadi seorang yang sangat berani melalang buana, sampai lupa janji, bahkan lupa diri. Keberanianku sudah cukup, kini kesucianku akan cinta yang musti aku pupuk. Lewat bubur putih yang Ibu buatkan untukku. Agar merah dan putih disini kembali. Menjadi satu, tidak ada yang tertinggal, dan tidak akan ada yang hilang.

Fajar.

Serunai pohon menggaung di telingaku. Pagi ini aku sampai di kampung halamanku, diantar ojek yang menjemputku dari jauh hening desa. Aku kini jauh dari keramaian kota, dari hiruk pikuk Osaka, dan rindangnya pohon sakura. Aku rindu mereka, tapi lebih penting untuk menyucikan diriku dahulu disini. Menebus dosaku yang telah melupakan kulitku, yakni tempat aku dilahirkan dan akan dikuburkan.

Aku berdosa.

Ya.

Dan aku akan menebusnya.

Tok…tok…tok….

Tak berapa lama, engsel pintu pun bergerak diiringi suara ‘kretek’ pintu tua. Kemudian muncul sesosok wanita berwajah keriput tersenyum kepadaku. Matanya berkilau diterpa sinar lampu, dan ia perlahan mendekat padaku.

Tanpa jeda lagi, aku dipeluknya erat.

Sangat erat.

Hingga aku sulit bernapas.

Dan saat itu pun aku keluarkan kata sekaligus air mata penebus dosaku padanya.

“Ibu… Maafkan Nanda”

Untuk ibu yang kini memelukku, juga untuk Ibu pertiwi. Peluklah aku layaknya anakmu yang masih meminta air susu.

1 Mankai : Sebutan untuk buka sakura pada fase mekar seluruhnya.

2 Kirei : Indahnya! (Jepang)

3Ojisan, Doushite naku no desu ka? : Paman, mengapa anda menangis? (Jepang)

4Nanimonai, hontou : Tidak apa – apa, sungguh.

Badru_

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *