Rumah untuk Millennials

Beberapa ekonom salah satunya menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution memprediksi bahwa generasi Millennials tidak dapat membeli rumah di masa depan. Hal serupa juga di nyatakan oleh IMF dalam tweetnya pada tanggal 22 Agustus 2017 “Millenials may never own home…” hal tersebut dibuktikan dengan riset IMF Global Housing Watch yang menyebutkan bahwa orang-orang dewasa di UK, US dan Eropa telah mengalami penolakan pembelian rumah dikarenakan persyaratan finansial yang tidak lolos. Millennials merupakan generasi yang lahir setelah tahun 1982 sampai 2002, jadi bisa diperkiraan generasi ini merupakan anak-anak muda yang berusia 15-34 tahun. Millennials merupakan terminologi yang saat ini menjadi perbincangan di banyak kalangan. Istilah Millennials dicetuskan oleh William Straus dan Neil Howe dalam beberapa bukunya salah satunya yang berjudul “Millennial Rising; The Next Generation” yang di dalam bukunya dia menuliskan bahwa generasi Millennials merupakan generasi yang dapat memberi kontribusi utama yaitu memperkuat institusi kewarganegaraan negara serta infrastruktur fisiknya, selain itu Millennials juga dapat menjadi Generasi Pahlawan, namun Millennials terlebih dahulu harus dapat menghadapi krisis dan mengatasinya. Jika Millennials gagal mengatasi krisis berikutnya, energi besar mereka bisa berubah negatif dan mengarah pada kediktatoran atau berakibat merugikan yang lain. Di Amerika studi mengenai Millennials sudah menjadi perhatian tersendiri seperti studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Brakeley tahun 2011 yang mengambil tema American Millennials: Dechipering The Enigma. Pada tahun 2010 Pew Research Center juga merilis laporan riset dengan judul Millenials: A Potrait of Generation Next yang merupakan riset yang membandingkan antara karakteristik Millennials dan generasi sebelumnya. tidak seperti di Indonesia padahal negara kita memiliki porsi Millennials yang besar sekitar 34,45% dari total populasi. Dalam buku tersebut juga di katakan bahwa Millennials merupakan generasi terbesar dalam sejarah Amerika yang perkembangannya dimulai dari Amerika Utara dan membuat Millennials disana menjadi pemimpin Millennials lintas dunia. Generasi Millennials atau juga sering disebut generasi Y memiliki karakter yang berbeda dengan generasi di zaman sebelumnya yaitu generasi X. Umumnya mereka memiliki karakter individualistik, narsis, tidak fokus, dan malas, namun mereka juga sering dianggap generasi yang optimis, berani dan menyukai tantangan. Millennials atau kids jaman now mendambakan standar hidup yang tinggi, generasi ini memiliki kecenderungan pada teknologi dan sosial media, selain itu generasi ini cenderung konsumtif dan memilih traveling sebagai life style mereka. Sehingga mereka memilki sedikit kesempatan untuk dapat menabung, hal ini dikarenakan gaya hidup mereka yang sering di sebut lebih besar pasak daripada tiang dan konsumtif. Meskipun juga ada anak muda yang mulai menghasilkan uang sendiri dan berhenti bergantung pada orang tua.

Istilah hedon (hedonism) juga sering kali disandarkan pada generasi ini. Kata “hedon” berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepuasan. Hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan (Magnis-Suseno, 1987). Hal yang dikhawatirkan adalah gaya hidup yang berorientasi pada hedonisme dan foya-foya justru menjadi alternatif dan escape dari masalah atau kebosanan di kuliah maupun kerja dan melupakan target-target jangka panjang. Beberapa anak-anak muda memilih untuk menghabiskan hidupnya dengan mencari tujuan-tujuan kesenangan saja atau hedon, apalagi dengan kemudahan pada berbagai hal yang ditawarkan di zaman ini, bahkan jika lapar saja tinggal buka aplikasi dan makanan langsung diantar ke rumah. Gaya hidup seperti pergi ke restoran fancy setiap minggu, berlibur ke luar negeri, mengikuti tren gadget terbaru, terutama ketergantungan dengan sosial media karena mereka lebih memilih informasi dari smartphone dibanding dari TV menyebabkan pengeluaran menjadi membengkak dan paling umumnya pengeluaran untuk membeli paket data internet menjadi sesuatu yang tidak bisa dibendung dan semua itu sering kali demi menuruti keinginan update di sosial media agar seperti anak muda yang lainnya. Mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan dan menuruti apa yang menjadi ke nginan, istilah gaulnya Lagi BM (banyak mau). Namun hal tersebut juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan, apa yang terjadi hari ini dan tren yang seakan-akan dibangun menjadi sebuah standar yang pelan-pelan terkonstruksi di masyarakat adalah gejolak zaman yang memang pasti terjadi karena pengaruh globalisasi, inilah letak dimana generasi X dan Y tidak bisa disama-sama kan atau harus menjadi sama dan menjadi tantangan tersendiri bagi Millennials untuk tetap bisa survive dan menjadi pemenang di masa depan.

Para Millennials harus membuka mata terhadap tantangan yang akan dihadapi generasi ini yaitu pada persiapan masa depan, terutama pada bidang properti. Sudah banyak orang tahu bahwa harga properti setiap tahun melonjak naik sekitar 4%-5%, harga tanah setiap tahun akan naik, apalagi harga properti di daerah kota-kota besar. Sekitar tahun 2020 Millennials terancam tidak bisa membeli rumah di daerah perkotaan. Rumah merupakan kebutuhan primer setiap orang setelah sandang dan pangan, rumah juga menjadi simbol kehidupan yang mapan dan juga menjadi investasi meskipun tidak harus dengan memiliki rumah bisa dengan menyewa/kontrak. Namun ada juga yang menyangkal bahwa tidak perlu untuk membeli rumah di daerah perkotaan karena harganya yang mahal berbeda dengan harga rumah di lereng-lereng gunung dan di pedesaan, faktanya kecenderungan gaya hidup Millennials menyebabkan mereka untuk lebih menyukai tinggal di daerah perkotaan karena kemudahan akses akan banyak hal dan dorongan life style. Millennials dihadapkan pada prediksi menyedihkan bahwa mereka mungkin tidak akan memiliki rumah di masa mendatang hal itu disebabkan generasi ini tidak memiliki cukup tabungan sementara kebutuhan biaya hidup juga ikut naik, sehingga Millennials harus cermat dan mempersiapkan hal ini apabila mereka tidak ingin menjadi ‘gelandangan’ di masa depan.

Generasi Millennials merupakan masyarakat yang digolongkan dengan usia produktif, di mana mereka tentu dapat produktif dan banyak bekerja serta aktif untuk menghasilkan sesuatu seperti memiliki karya, energik dalam bekerja, bersikap mandiri, suka bekerja keras dan bekerja cerdas, tidak mengabaikan spriritualitas dan religiusitas, serta memiliki pandangan hidup dan wawasan ke depan. Diperkirakan tahun 2025 mendatang, Millennials akan menduduki porsi tenaga kerja diseluruh dunia sebanyak 75%. Alternatif yang bisa dilakukan generasi Millennials untuk mempersiapkan masa depannya seperti mulai untuk menabung, investasi, dan memulai bisnis tentu dapat membuka pintu-pintu pemasukan yang lain sehingga tidak hanya memiliki pendapatan dari satu sumber saja yaitu gaji misalnya jika kelak bekerja, apalagi sekarang kesempatan bisnis sudah terbuka lebar apapun bisa di jual online dengan jangkauan pasar yang luas belum lagi dilihat sektor mahasiswa yang konsumtif dan apa-apa dibeli membuat bisnis menjadi terlihat sexy untuk dijalankan, bahkan generasi Millennials cenderung menyukai terjun di dunia bisnis, buktinya banyak kita lihat CEO Start up kekininian seperti Gojek, Bukalapak, Hijup, Tokopedia dan lain-lain, mereka merupakan anak-anak muda yang tergolong kedalam generasi Millennials, mereka mengendalikan masa depan nya dengan memulai bisnis nya sendiri menggunakan platform online dan menciptakan  pasar yang sebelumnya tidak ada dengan berinovasi pada hal-hal baru, ini merupakan kecenderungan Millennials yaitu mereka terlalu depend kepada teknologi namun memiliki pemikiran yang juga out of the box.

Belajar memulai berinvestasi sejak sekarang juga dirasa penting, seperti investasi emas yang bisa dimulai hanya dengan uang lima ribu rupiah meskipun harga emas tergolong fluktuatif tapi sangat menguntungkan dan investasi ini tidak memiliki resiko yang terlalu tinggi serta jangka waktu yang fleksibel. Investasi saham juga bisa menjadi pilihan anak muda untuk berinvestasi namun lebih membutuhkan modal besar dibanding reksa dana dengan minimal pembelian lot saham sebanyak 100 lembar, reksa dana juga merupakan bentuk investasi saham dengan resiko yang rendah serta dengan jumlah pembelian yang relatif murah sehingga menjadi pilihan anak-anak muda karena saat ini ada reksa dana yang bisa dibeli hanya dengan investasi mulai Rp 100.000,00 saja dan lain-lain, apabila dirasa kurang ilmu atau pengetahuan dalam penerapan investasi bisa dengan menciptakan circle yang lebih luas tentang investasi tersebut seperti bergabung dalam kelompok studi pasar modal yang terdapat di kampus, ikut kelas investasi, video dan buku juga banyak bisa di akses secara online apalagi sekarang pemerintah gencar mengajak masyarakat untuk memulai nabung saham dengan kampanye #YukNabungSaham nya, tapi perlu diingat juga bahwa membeli rumah juga sebagian dari investasi. Selain itu perlu adanya kebiasaan untuk hidup hemat yaitu dengan cara membuat pos-pos pengeluaran antara pengeluaran primer dan tersier meskipun hal ini sudah diajarkan sejak kecil tapi ada hal yang perlu diperhatikan lagi bahwa menabung untuk membeli rumah diusia mahasiswa harus menjadi mindset untuk dapat dimasukkan dalam kebutuhan primer jangka panjang saat ini tidak lagi dijangkauan belasan tahun nantinya karena apabila bisa membeli rumah lebih cepat maka lebih baik bukan menunda-nunda karena semakin tertunda harga rumah akan semakin melonjak naik, maka perlu persiapan yang matang untuk dapat membeli rumah diwaktu yang lebih cepat. Sehingga alternatif simpanan seperti yang disebutkan itu bisa menjadi pilihan untuk menyiasati kebutuhan dengan pos pengeluaran besar seperti membeli rumah.

Perlu di perhatikan oleh Millennials atau para kids jaman now adalah hidup hanya bukan untuk now lebih jauh dari itu yaitu tentang tantangan di masa depan, sehingga negara ini dapat memiliki Millennials yang merdeka secara finansial. Generasi Millennials adalah generasi yang menyukai kolaborasi dibanding kompetisi, maka melalui berbagai macam cara kolaborasi antar sesama Millennials bisa menumbuhkan aksi-aksi nyata untuk perbaikan diri bangsa.

 

                                                                        Niken Larasati Adhystya

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *