Roman Belum Selesai

Judul                     : Gadis Pantai

Pengarang          : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit              : Lentera Dipantara

Cetakan               : Maret 2007

Tebal buku          : 272 halaman

ISBN                      : 139789799731289

Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Rembang, Jawa Tengah. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada administrasi Belanda. Dia diambil sebagai gundik dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seks pembesar sampai kemudian pembesar tersebut memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sederajat dengannya.

Mulanya perkawinan tersebut memberi prestise baginya di kampung halamannya. Ia naik derajat menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah ia melahirkan seorang bayi perempuan.

Roman ini menusuk foedalisme Jawa tepat di jantungnya yang paling dalam!

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini, seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi. Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”

Membaca kalimat itu membuat saya tercengang sekaligus mengernyitkan dahi. Apakah kehidupan priyayi sekejam itu daripada laut? Laut yang seringkali dianggap masyarakat kampung nelayan sebagai suatu kekuatan yang tak ada bandingannya, bagi Gadis Pantai, laut justru tidak ada apa-apanya dibandingkan kehidupan priyayi. Setidaknya menurut Gadis Pantai, laut lebih murah hati daripada priyayi.

Pram dengan cerdas menulis novel yang terinspirasi dari kisah neneknya sendiri. Gadis Pantai menceritakan tentang seorang gadis berusia 14 tahun dari kampung nelayan. Ia dinikahkan dengan seorang Bendoro dari Rembang. Kalau zaman sekarang, mungkin, ada banyak pihak yang menolak pernikahan itu, terlebih pernikahan itu dilakukan tanpa tahu Gadis Pantai sudah menstruasi atau belum. Saat membaca salah satu adegan dalam Gadis Pantai, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Gadis Pantai saat ditanya oleh ayahnya perihal menstruasi. Gadis Pantai tidak tahu itu, lalu kenapa masih memaksakan dirinya untuk menikah? Ah, rasa-rasanya protes Gadis Pantai tidak ada artinya.

Pernikahan yang tidak pernah diinginkan oleh Gadis Pantai itu memaksanya untuk terus menghormati Bendoro. Bahkan dengan suaminya itu, Gadis Pantai terus mengatakan, “Sahaya, Bendoro.” Kenapa Bendoro harus ditakuti dan dihormati seperti itu? Gadis Pantai bertanya-tanya. Gadis Pantai juga tidak mengerti kenapa orang tuanya menjadi takut untuk menatapnya hanya karena ia sudah menjadi istri Bendoro. Saya juga tidak mengerti. Apakah menjadi istri Bendoro membuat seseorang tinggi derajatnya? Padahal sebelum pernikahan itu, ayahnya tidak takut untuk memukul Gadis Pantai. Orang tuanya seperti kebanyakan orang tua yang lain; memerintah dan memukul jika anaknya berbuat kesalahan. Tapi kenapa saat status Gadis Pantai berubah menjadi istri Bendoro, semuanya berubah.

Gadis Pantai hanyalah seorang Mas Nganten, seorang “pemuas seks” bagi Bendoro. Gadis Pantai hanyalah istri percobaan sebelum akhirnya Bendoro menikah dengan seseorang yang derajatnya dianggap setara. Gadis Pantai adalah Mas Nganten yang ke sekian, yang jika Bendoro sudah bosan atau Mas Nganten itu melahirkan anak, ia akan diusir.

“Nasib kitalah memang, nak. Nasib kita. Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi.”

Menyakitkan ketika Gadis Pantai melahirkan bayi perempuan, Bendoro itu berkata: “Jadi cuma perempuan?”

”Beribu ampun, Bendoro.” kata Gadis Pantai.

Saya tersakiti membaca itu. Apa yang dimaksud dengan ‘cuma’ perempuan? Apa salahnya jika seorang perempuan lahir? Kenapa pula Gadis Pantai harus meminta maaf karena melahirkan bayi perempuan? Betapa rendah nyawa perempuan daripada lelaki saat itu.

Gadis Pantai adalah sosok perempuan kuat. Ia melakukan pernikahan yang tidak ingin dilakukannya, terpaksa beradaptasi dengan rumah besar yang mengajarkannya sopan santun priayi, membatik, dan aturan-aturan lain yang harus ditaati Gadis Pantai, bahkan ia harus meminta maaf karena melahirkan bayi perempuan.

“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.”

Gadis Pantai bahkan harus rela berpisah dengan anak yang masih disusuinya. Bendoro menceraikannya, mengusir, dan melarang Gadis Pantai kembali ke kota. Namun Gadis Pantai tidak kembali ke kampung halamannya, ia memilih ke Blora, berharap bertemu dengan bujang perempuan terusir yang sudah mengurusnya selama di rumah Bendoro.

Gadis Pantai ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan tanpa sadar terhanyut dalam kehidupan serta emosi Gadis Pantai. Sampai membaca akhir cerita ini, saya merasakan sesuatu yang belum selesai. Apa yang akan dilakukan Gadis Pantai selanjutnya? Karena memang Gadis Pantai adalah cerita yang belum selesai. Novel ini adalah novel pertama dari trilogi sebelum dimusnahkan. Seperti yang ditulis Penerbit Lentera Dipantara dalam pengantarnya:

Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai (unfinished). Sejatinya, roman ini merupakan trilogi. Disebabkan oleh vandalisme Angkatan Darat, dua buku lanjutan Gadis Pantai raib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara.

Pramoedya Ananta Toer sudah berhasil mengkritik feodalisme Jawa yang menyakiti perempuan. Novel ini membuka mata kita bahwa pernah suatu waktu perempuan hanyalah sebuah pemuas, tidak ada harganya, dan tidak memiliki kekuatan daripada lelaki. Wahai perempuan saat ini, beruntunglah kalian karena lahir ketika perempuan tidak dipandang rendah.

Faridatul Mardhiyyah

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *