Roh Menari

Sebuah keinginan telah terlampaui. Seorang wanita yang hampir menjadi perawan tua, dibatas akhir usia yang hanya selisih dua hari menuju masa kelam menjadi perawan tua akhirnya telah ia temukan seorang pendamping hidup yang akan menemaninya di masa-masa penantian menuju alam baka. Ibarat nyawa yang akan dicabut, rohnya sedetik lagi akan sampai di ubun-ubun dan mati. Ia berhasil menang di waktu-waktu menjelang pemainan selesai. Beruntunglah kau, wanita luwes nan molek.

***

Suara lesung penghancur padi, bunyi merdu burung pipit, dan injakan demi injakan kaki menuruni bukit adalah pertanda pagi baginya. Ia bangun lekas-lekas dari dipan dan kasur yang menemaninya tidur. Penghuni rumah yang lain, tak lain dan tak bukan adalah Ibu dan adiknya, Rahayu yang telah memiliki seorang anak laki-laki telah berpeluh keringat di sumur dan dapur yang berkepul-kepul oleh asap pembakaran ranting-ranting pohon di sekitar rumah. Aroma sayur gudangan dan nasi panas telah membelalakkan mata merahnya, dan tak kenal malu segera duduk di kursi panjang persis di warung-warung jalanan dan mereka menyebutnya ruang makan. Piring gembreng segera ia tampar mendekat, dan ceting nasi tak luput dari rampokannya, beserta nampan berisi gudangan yang masih panas.

“Mandi saja belum, kok sudah makan besar.” Suara membumbung tepat saat ia telah memuluk nasi gudangan dengan tangan untuk yang kedua kalinya. Sudah jelas, itu adalah suara Rahayu, suara tidak terima dengan kelakuannya.

“Diam kamu, mbakmu ini semalam nari sampai larut malam. Wajar saja, jika pagi-pagi terasa lelah dan lapar.” Ibu memang selalu begitu, selalu membela kelakuannya di depan Rahayu. Jika ditelisik, ini buah dari rasa bersalah dan menyesal Ibu di masa lalu.

***

Musik gamelan samar-samar melayang dari arah sebuah panggung di depan rumah Pak Mulyo, seorang camat di tempat itu dan menyebar ke seluruh penjuru desa. Gerakan gemulai Wulandari dan dua kawannya sesuai dengan tempo gamelan yang dimainkan Pak Parjo dan kumpulan laki-laki tua. Beratus-ratus pasang mata mengamati setiap gerakan para penari. Bondan nama tariannya. Tidak sembarang perawan di desa ini dapat tampil menari Bondan sepertinya, harus mendapat utusan langsung dari Nyai Parinah, seorang penari senior yang paling senior di desa. Konon Nyai Parinah ini sudah menari hingga luar negeri, melanglang buana sampai ke negeri Jepang, semua bisa ditarikan Nyai dan paham betul makna dan pantangan-pantangan setiap tarian. Ia saja harus berguru dengan Nyai Parinah minimal seminggu tiga kali. Wulandari adalah anak dari seorang penari, neneknya adalah seorang penari, tetangga samping rumahnya adalah penari, bahkan desanya di juluki desa perawan menari, saking banyaknya penari perempuan di desa itu. Dari sekian banyak tari-tarian tradisional Jawa Tengah hanya Tari Bondan yang membuat Wulandari jatuh cinta. Ia  sewaktu kecil juga belajar Tari Merak, Gambyong, Serimpi, dan tari lainnya, namun Wulandari hanya menemukan roh menari di Bondan saja. Tidak kelain hati.

Kau yang tidak menari atau menari hanya beberapa waktu saja jangan berharap dapat bertemu dengan roh menari. Wulandari saja bertemu dengan roh menari saat dirinya menginjak usia baligh. Saat itu malam hari, di pendopo depan rumahnya ia menari Bondan sendirian, malam itu ia tak ingat malam pada hari apa, namun bulan purnama sedang memaksa timbul di langit legam. Saat memejamkan mata, tubuhnya seperti kemasukan roh dan tubuhnya bergerak sendiri, tidak bergerak asal-asalan dan serampangan seperti orang kesurupan. Bukan itu, tapi roh menari memperindah lekuk gerakan tangannya, yang tadinya Wulandari merasa ragu dan tak sesuai nada, roh menari ajarkan yang benar. Tubuhnya seperti melayang beberapa senti dari lantai, padahal orang yang lewat pendopo akan melihat tidak ada yang aneh dari Wulan. Ketika musik pengiring tari berhenti, roh menari akan hilang bak kain tersapu ombak. Wulandari tidak akan berbicara dengan roh menari, seperti yang dilakukan orang-orang pintar di televisi yang berbicara dengan roh atau jin, mengucapkan terima kasih sekalipun tak bisa. Apalagi bertanya sesuatu. Tidak mungkin terjadi, ibarat air laut berubah rasa menjadi manis. Padahal Wulandari punya pertanyaan penting, baiklah akan kuberitahu apa pertanyaannya, apakah ketika Wulandari bukan perawan desa atau kembang desa ia tak dapat menari Bondan?

Sebelum tampil di depan khalayak, Wulandari harus mematut diri dengan saksama. Bedak, lipstik, pemerah pipi dan pensil alis menjadi kebutuhan pokok seorang penari, setelah kostum bermotif berwarna hijau, sampur warna merah dengan manik-manik di ujungnya, setagen, jarik dan properti menari di genggaman. Menjadi seorang penari membuat Wulandari pandai bersolek dan memoles diri agar membuat pangkling orang-orang. Jika dihitung-hitung, sudah ratusan kali ia menari Bondan dan tak pernah bosan. Ketika masih kembang desa, ia akan banjir pujian dan punjungan tentunya. Warga akan memberikan sembako ke rumah dan amplop berisi uang warna biru. Tapi itu dulu.

***

Tahun akan berganti tahun, akan selalu ada tangga naik dan tangga turun. Wulan bukan lagi kembang desa. Ariyanti telah menggantikan peran krusialnya di desa. Wulan sesungguhnya sudah tak layak menari Bondan. Namun di lain sisi Wulan masih seorang perawan yang menjadi syarat seorang boleh menari Bondan. Maka mau tak mau, suka tak suka dan benci tak benci, Wulan masihlah seorang perawan desa yang akan turun pangkat.

Jika kau baca kisah ini secara saksama, Wulandari adalah seorang kakak yang telah dilangkahi oleh adiknya, Rahayu. Bahkan adiknya telah memiliki seorang bocah cilik tanpa bapak yang berani bertanggung jawab. Rahayu memang malang, ia tak mengalami masa emas menjadi gadis desa, ia hanya mengalami masa kanak-kanak dan perempuan dewasa dengan gendongan anak laki-laki. Malang nasib Rahayu, maka lebih malang pula nasib Wulandari. Ia tak pernah mendapat kesempatan nikah tanpa dilangkahi. Nikah dengan normal. Untunglah, Wulandari memiliki roh menari yang tak disadari telah menguatkan.

Jika umurnya telah genap dua puluh lima tahun, ia akan mendapat julukan perawan tua atau perawan tak laku. Kata Ibu, usia dua puluh lima tahun adalah batas akhir seorang perawan menikah. Jika tidak terjadi, ia adalah perawan tak laku. Orang zaman nenekmu dulu juga begitu bahkan lebih cepat, usia dua puluh tahun adalah usia yang dianggap terlambat untuk menikah dan jika sudah menikah memiliki anak sebanyak-banyaknya adalah sebuah kewajiban seorang suami istri dan kebanggaan pula bagi si istri karena telah dilahirkan menjadi wanita yang subur, dewi kesuburan.

Berpikir Wulandari sangat berbeda, suatu sore yang tidak begitu senja, ia pernah berkata pada Ibunya, “Bu, aku ingin menari Bondan hingga ajal. Hingga kelak aku bertemu roh menari di alam lain dan mengucapkan terima kasih padanya. Aku tidak ingin menikah, Bu.” rengek seorang Wulandari di usia dua puluh tahun, sebuah usia yang tidak ada kata sedih maupun pedih.

“Kau sangat rela berkorban demi adikmu, ditinggal kawin adikmu. Ibu bangga karena kau tetap menjadi kakak dan anak Ibu, kau tidak melarikan diri seperti Narsih yang dilangkahi dua adiknya. Bangga sekaligus kecewa, seharusnya kau tidak berpikir tidak ingin kawin. Kau akan mati dengan gunjingan.”

“Hanya gunjingan tidak akan membuatku mati, Bu. Aku dilindungi roh menari. Bondan adalah jodohku, ia suami untukku.” Tatapan keduanya menerawang ke atas awang-awang.

***

Selisih dua hari menuju usia dua puluh lima tahun, tepat sebelum usia dua puluh lima tahun. Wulandari menemukan laki-laki di pematang sawah. Seto namanya. Laki-laki yang menyelamatkan Wulandari dari bencana perawan tua tanpa Wulandari inginkan. Tapi Wulandari memang mencintainya, yang kedua setelah Bondan.

***

Setelah musim panas digantikan dengan musim hujan, Wulandari telah mati dengan Seto adalah cinta yang pertama, yang kedua Bondan. Wulandari mati di malam hari saat bulan purnama bersama roh menari.

 

Yolanda Agnes Aldema

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *