Pilih Cupu dengan ‘Kupu-kupu’, atau Bisa Terbang dengan ‘Kura-kura’?

Tujuan utama masuk ke dalam perguruan tinggi adalah memperdalam ilmu yang kita percaya dapat membantu mentukan pekerjaan di masa depan nanti. Oleh karena mind-set ini, banyak mahasiswa yang menjalankan aktifitas di dalam kampus hanya kuliah, belajar dan tentu tujuan akhirnya adalah menimbun Indeks Prestasi (IP) segendut mungkin. Hal ini wajar apabila mahasiswa baru yang melakukan aktifitas kupu-kupu, alias ‘kuliah-pulang- kuliah-pulang’ tersebut. Namun menurut hemat saya, apabila hal tersebut masih dilakukan oleh mahasiswa yang telah menginjak semester dua keatas, mahasiswa tersebut melewatkan berbagai pengalaman emas. Dan pengalaman emas itu terdapat dalam berbagai aktifitas yang termuat didalam organisasi-organisasi di kampus, baik organisasi internal maupun eksternal.

 Tahukah? Penentuan pekerjaan di masa depan bukan hanya bisa diperoleh di buku-buku tebal dan kamus-kamus ilmu murni yang biasa kita buka untuk menyelesaikan tugas di kampus. Pengalaman-pengalaman untuk bekal di dunia kerja dan di dunia masyarakat justru banyak ditemukan selama seorang mahasiswa aktif dalam dunia organisasi. Begitu banyaknya pengalaman dan ilmu yang kita dapat saat masuk dalam dunia organisasi.

Soft-skill sudah biasa terdengar bagi para mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi, memang soft skill bisa didapat saat sebagai mahasiswa lain menghabiskan waktu luangnya untuk mencari penghasilan untuk tambahan biaya kuliah. Penguatan karakter, leadership, management waktu, perluasan jaringan, adalah hal yang sudah banyak orang sampaikan. Tapi menurut pengalaman saya, bukan hanya itu. Ada sisi sosial yang menguat saat kita berada dalam dunia lain di organisasi yang kita geluti. Keluarga, kesibukan, pengalaman, pengendalian diri, bahkan tempat pelampiasan. Itu antara lain hal-hal yang tidak bisa ditemukan apabila hanya menjadi seorang mahasiswa ‘kupu-kupu’.

Mahasiswa yang aktif dalam organisasi sering disebut mahasiswa ‘kura-kura’ alias kuliah rapat-kuliah rapat. Memang kesibukan yang umumnya ditemui dalam organisasi adalah padatnya jadwal meeting. Jangan salah, rapat disini bukan membicarakan hal-hal sepele, tidak penting ataupun hal yang hanya menyita waktu saja. Jauh didalam pembahasan rapat yang sering alot, kita belajar bersosialisasi. Kita secara otomatis akan terikat dalam sebuah rasa sosial yang besar. Dalam rapat, kita bisa melatih kemampuan berbicara, belajar untuk memahami pemikiran banyak orang untuk mencapai sebuah tujuan yang sama. Para remaja yang umumnya masih labil dalam mengatur emosi, di dalam sebuah aktifitas rapat saja, emosi itu akan ditempa. Diperindah dengan saling memahami pendapat dan meredam dengan halus kekecewaan atas gagasan yang tidak diterima. Menerima hasil keputusan forum karena itulah jalan terbaik untuk mencapai tujuan akhirnya.

Rapat akan terus berkelanjutan, saat sebuah organisasi sedang merintis sebuah acara untuk mengaktualisasikan eksistensi organisasi. Dalam intensitas pertemuan anggota organisasi yang semakin tinggi, timbullah kedekatan satu sama lain. Hal-hal kecil yang tidak akan ditemukan dalan kelas perkuliahan adalah untaian kata-kata menyemangati yang mengalir begitu saja. Mungkin terdengar sepele, namun bagi mahasiswa yang sedang surut untuk menjalani kuliah, kata-kata itu bak angin yang berhembus saat kegerahan. Meski kadang gurauan-gurauan itu menyebalkan, tapi terbukti menghibur. Dan berbagai adonan rasa  itulah yang menimbulkan rasa ketagihan dari diri kita untuk kembali lagi ke tempat organisasi beraktifitas yang akrab disebut dengan ‘sekre’.

Dari sekre itu kita menemukan ‘rumah baru’ dan ‘keluarga baru’. Teman-teman yang memiliki karakter masing-masing, dengan kekocakannya yang bisa menghibur disaat lelah selepas memeras otak di kelas perkuliahan. Makan siang bersama dan menghiasi dinding-dinding kantin kampus dengan sejuta obrolan yang bahkan tidak penting untuk dibicarakan seorang yang telah menyandang gelar ‘mahasiswa’. Namun justru itu yang membuat seorang mahasiswa, mahasiswa perantauan khususnya, menemukan kesibukan baru, menemukan keluarga baru yang setia membantu melepaskan penat, melonggarkan masalah yang melingkar selama di perkuliahan.

Bahu membahu menjalankan amanah organisasi, mengisi aktifitas sore hari dengan deadline-deadline program kerja, adalah segudang aktifitas positif yang sangat dianjurkan bagi seorang pemuda yang masuk di dunia perguruan tinggi. Bukan hanya berkutat dengan deadline tugas, laporan, dan makalah yang setia menemani di setiap harinya. Aktifitas-aktifitas di organisasi membuat pikiran kita terbuka. Memahami bahwa banyak pekerjaan yang bisa didapat selain pilihan pekerjaan yang di suguhkan oleh program studi yang kita perjuangkan saat ini. Dengan mengikuti organisasi, hari-hari selama perkuliahan lebih berwarna bila dibandingkan dengan yang selepas kuliah lalu pulang dan istirahat di kost. waktu menjadi sangat berharga saat mengikuti organisasi. Jadi, apabila mengikuti organisasi di dalam kampus bisa mendapatkan segudang pengalaman dan sejuta manfaat, mengapa tidak dilakukan? Bisa terbang dengan gelar ‘kura-kura’, mengapa masih memilih merangkak dengan ‘kupu-kupu’ ? Semoga bermanfaat ya.

_Swastika Dwi Rahmani

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *