Pergeseran Makna Mahasiswa

Pagi, seperti pemuda milenial pada umumnya, aku lebih dahulu membuka gawai untuk melihat berita yang sedang viral di media sosial dibanding untuk sekedar beranjak dari tempat tidur. Saat membuka Instagram  seketika aku sedikit tertarik dengan satu video yang dibagikan oleh salah satu akun media sosial. Ya, video ini adalah video mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oknum aparat kepada seorang mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi di sebuah institusi pemerintahan. Hal ini mengetuk rasa di diriku sebagai sesama mahasiswa, bagaimana hal itu bisa terjadi dan pasti tak ada asap jikalau tak ada api Tapi tunggu dulu, ada hal lain yang lebih menarik perhatianku, itu adalah kolom komentar. Setidaknya ada ratusan komentar warganet yang biasa kita sebut seperti itu menghiasi kolom komentar video tersebut. Kolom komentar menjadi hal unik dan menarik tersendiri. Berbagai komentar tentang pro dan kontra dan siapa yang menyulut atau siapa yang tersulut seperti bola liar. Tapi, ada satu hal yang membuat saya sebagai seorang mahasiwa dan sebagai seorang yang dekat dengan dunia pergerakan menjadi sedikit risih, tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang mahasiswa. Dari komentar yang ada banyak warganet berpendapat bahwa tugas mahasiswa harusnya belajar dan cukup dengan cepat lulus. Ini merupakan pandangan dangkal bagaimana seorang mahasiswa berlaku sebagaimana harusnya. Sejatinya perguruan tinggi adalah tanah gembur yang memungkinkan berbagai macam pemikiran tumbuh, sebagaimana dituliskan oleh Soe Hok Gie bahwa mahasiswa harus memainkan peranan sebagai cowboy. Bukan cowboy yang arogan, tapi cowboy yang datang menumpas ketidakadilan di masyarakat dengan ilmu yang didapatnya dan pengabdianya. Dari komentar-komentar seperti inilah yang semakin menambah pergeseran makna hakikat seorang mahasiswa. Bukankah hakikat mahasiswa sendiri terikat oleh tri dharma perguruan tinggi? Seorang mahasiswa tak hanya memiliki tanggung jawab menuntut ilmu untuk dirinya sendiri, tapi lebih luas lagi bagaimana ilmu itu bisa bermanfaat bagi masyarakat yang akan datang.

 

Komersialisasi Pendidikan

Semakin ke sini pergesaran makna itu makin terlihat jelas di antara gemerlap persaingan dunia kerja. Dilansir dari Pikiran Rakyat, Maret 2018, Kemenristekdikti mencatat sekitar 8,8 % dari 7 juta total pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Para mahasiswa di perguruan tinggi hanya berorientasi mendapat pekerjaan yang layak dengan egosentrisnya.  Lantas apa yang salah dengan mindset mengenai pendidikan tinggi kita sekarang ini? Paradigma mengenai seorang mahasiswa telah begeser dimulai dari dalam institusi pendidikan tinggi itu sendiri. Bagaimana muculnya lembaga pendidikan berduyun-duyun saling berkompetisi satu sama lain dalam penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa tak ubahnya komoditas. Ya, komoditas. Mahasiswa dibebankan biaya tinggi untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi secara tidak langsung. Hal ini memunculkan stigma bahwa pendidikan memang hanya bisa dinikmati oleh oleh orang-orang yang mempunyai banyak uang. Hal ini dapat diartikan sebagai komersialisasi pendidikan yang mana menurut Frederik Van Hayek, “Komersialisasi pendidikan merupakan keadaan pendidikan yang berpegang pada masyarakat industri dan selera pasar.” Sementara menurut Habibie pada tahun 2005 bahwa komersialisasi pendidikan telah mengantarkan pendidikan sebagai instrumen untuk  melahirkan buruh-buruh bagi sektor industri, bukan sebagai proses pencerdasan dan pendewasaan masyarakat. Hal ini terbukti sekarang ini meskipun sudah banyak dan pemerataan institusi pendidikan tinggi, tetapi hanya mencetak buruh-buruh untuk industri. Hal ini memang tak terelakkan lagi sebagai hasil dari tingginya biaya pendidikan tinggi dan hasil pergeseran makna seorang mahasiswa.

Hendrawan Hanif Prasetya

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *