Penyebab dan Penularan Qif-19

AK-47, FKIP UNS- Outbreak Covid-19 sudah dideklarasikan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat secara  Global (Global Public Health Emergency) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020. Coronavirus adalah jenis virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan hingga berat. Ada setidaknya dua jenis Coronavirus yang diketahui dapat menyebabkan penyakit dengan gejala berat, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab Covid-19 ini dinamakan Sars-CoV-2 .

Ali (80), tokoh agama Desa Pantirejo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah menyebutkan bahwa Qif-19 dalam bahasa Arab bermakna hentikanlah atau setop, sedangkan Corona berarti berhubungan atau berterusan. Pesan tersebut diteruskan dari Habib Ali Bin Abdurrahman Bin Muhammad Bin Ali Bin Abdurrahman, dari Jakarta yang menjadi panutan Ali. Pada dasarnya, Covid-19 dengan Qif-19 adalah sama, hanya saja berbeda dalam pemaknaan bahasa Arab utamanya untuk umat muslim karena diharapkan ketika mengganti penyebutan dapat menjadi doa agar pandemi Qif-19 ini segera berhenti. Dikatakan juga bahwa ucapan adalah doa, sehingga dengan sebutan yang benar menurut umat muslim, diharapkan pandemi dapat segera berakhir. Selain harus berusaha mencegahnya secara fisik, diharapkan pula untuk senantiasa berdoa agar wabah ini segera diangkat oleh Allah SWT.

Menurut data, hingga saat ini (Minggu, 13 September 2020), total kasus Qif-19 sudah menginjak angka 215.000, dengan rincian 152.000 sembuh dan 8.650 orang meninggal dunia. Pandemi Qif-19 memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. Beberapa pelaku usaha juga menghentikan total operasional mereka. Angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga meningkat. Pada 1 Juni 2020, Indonesia mulai menerapkan New Normal, yaitu masyarakat memulai tatanan kehidupan baru dan seolah bangkit kembali. Hal ini diharapkan dapat menstabilkan perekonomian di beberapa tempat, seperti pasar, pusat perbelanjaan, dan perkantoran dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Apakah masyarakat akan tetap mematuhi protokol kesehatan selama pemberlakuan New Normal tersebut? Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang tidak terlalu peduli mengenai Qif-19. Hal ini terlihat pada masyarakat yang tidak menggunakan masker ketika beraktivitas, tidak menjaga jarak, berkerumun, hingga berlibur ke tempat wisata. Alasan masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan antara lain: alasan ekonomi, sudah bosan di rumah, merasa dirinya tidak dekat dengan orang-orang penderita Qif-19, merasa imun tubuhnya kuat,dan masih banyak lagi. Tidak sedikit pula masyarakat yang menyalahkan pemerintah karena dirasa kurang tegas menindak para pelanggar dan penanganan Qif-19 yang dianggap sepele oleh pemerintah di awal kemunculannya.

Dari kasus tersebut, terlihat bahwa masyarakat dan pemerintah belum bisa berdampingan dan cenderung saling menyalahkan. Pemerintah diharapkan mampu membuat aturan danĀ  kebijakan terkait protokol kesehatan yang dapat dipatuhi masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga perlu menyadari bahwa untuk mencegah penularan Qif-19 harus dimulai dari diri sendiri. Mari bersama patuhi protokol kesehatan dengan selalu menggunakan masker, menjaga jarak, selalu mencuci tangan, dan menjaga imun tubuh.

_Mara

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *