Pelatihan Jurnalistik Monumen Pers Nasional : Jurnalisme Data di Era Digital

SOLO, LPMMOTIVASI.COM- Jurnalisme data sebagai langkah awal media literasi dalam menghadapi banyaknya berita hoax yang beredar di masa pandemi.

Pelatihan jurnalisme data diselenggarakan oleh Monumen Pers Nasional Surakarta pada Kamis, 18 Februari 2021 dengan tujuan untuk mencegah maraknya peredaran berita-berita hoax dari pengambilan sebuah data. Pelatihan ini juga dimaksudkan untuk mencegah adanya disinformasi yang ditulis oleh jurnalis dalam sebuah berita. Seorang jurnalis sudah seharusnya menguasai jurnalisme data agar tidak mudah percaya dengan berita yang beredar dan bisa mencari kebenarannya dengan melakukan pengolahan data yang ada. Pelatihan yang dihadiri oleh 24 Lembaga Pers Mahasiswa se-Solo Raya ini tidak hanya memberikan edukasi mengenai jurnalisme data kepada peserta, namun juga memperkenalkan profil dari Monumen Pers Nasional yang ada di Surakarta.

Pelatihan secara virtual melalui Zoom yang dimulai pada pukul 08.30 WIB ini menghadirkan dua narasumber yakni, Debora Blandina Sinambela dan Nenden Sekar Arum. Ketua Monumen Pers Nasional Surakarta, Widodo Hastjaryo, dalam sambutannya mengatakan bahwa seorang jurnalis harus bersikap hati-hati dalam menghadapi berita hoax yang makin tumbuh subur di masyarakat. “Sudah ada 1426 berita hoax yang beredar mengenai berita tentang Covid-19 yang saya temui” ucapnya saat memberikan sambutan (18/2). Ia berharap dengan diadakannya pelatihan ini, para jurnalis dapat lebih berhati-hati dan bisa mempertanyakan kebenaran data pada setiap berita yang ada.

Co-Founder Indonesia Data Journalism Network (IDJN), Debora Blandina Sinambela menjelaskan bahwa jurnalisme data tidak hanya menyajikan data, namun juga mempertanyakan kebenaran data. Ia menambahkan bahwa jurnalisme data harus kritis terhadap data yang ada dan selalu mempertanyakan angka. Jurnalis dituntut untuk selalu bersikap skeptis terhadap data yang diperolehnya agar terjamin kebenaran tiap data-data yang didapatkannya. Jurnalisme data ini berbeda dengan liputan yang berisikan data, jurnalisme data menggunakan perangkat lunak tertentu dan visualisasi data menjadi bagian yang sangat penting sebagai tahapan akhirnya. Dalam jurnalisme data, pembaca tidak hanya mengonsumsi data tetapi juga terlibat interaksi dengan data ini. Debora menuturkan bahwa jurnalisme data melibatkan 3 tahap. Tahap yang pertama adalah mencari data menggunakan mesin pencari atau aplikasi lainnya. “Jurnalis harus bisa memanfaatkan mesin pencari sebaik mungkin.” terang Debora. Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis data dan diakhiri dengan publikasi data yang disajikan dengan tulisan panjang, infografik, ataupun permainan.

Jurnalis harus mampu bekerja dengan data karena peran jurnalis dalam memberi kejelasan dan menemukan kebenaran dalam data digital sangat dibutuhkan pada masa ini dibanding sebelumnya. “Jurnalisme data dapat dimulai dengan dua cara, yakni pertanyaan mengenai data yang dibutuhkan ataupun dengan data-data yang butuh untuk dipertanyakan,” ujar Debora. Ia juga berpesan bahwa dalam jurnalisme data kita tidak boleh terlalu fokus pada grafis hingga kemudian lupa pada kualitas jurnalisme dan berita yang ditampilkan menjadi nihil konteks dengan artian berita yang ada hanya berupa sajian angka-angka tanpa mengandung informasi di dalamnya.

Nenden Sekar Arum selaku program manajer IDJN mengungkapkan bahwa konsep jurnalisme data sudah digunakan sejak awal oleh para jurnalis. Ia menambahkan bahwa jurnalisme data terdahulu masih disajikan dalam bentuk sederhana seperti tabel. Dewasa ini, telah berkembang banyak macam cara untuk memvisualkan data seperti dalam bentuk grafik dan juga peta. Program manajer IDJN sekaligus Content and Social Media Strategist ini menerangkan bahwa ketika melakukan visualisasi data, jurnalis dilarang autopilot atau hanya mengolah data apa adanya tanpa mengoptimalkan data terlebih dahulu. “Jangan memilih visualisasi data yang tujuannya hanya untuk memperindah konteks, isu dan kasus harus sangat diperhatikan seorang jurnalis dalam membuat berita” tambahnya. Perlakukan visualisasi data bukan sebagai karya seni, tetapi alat untuk memahami data serta jangan mempresentasikan data hanya karena tampilannya saja yang menarik.

Laili_

Indah_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *