Pekan Kreativitas Mahasiswa Belum Miliki Aturan Khusus

lpmmotivasi- Tidak ada aturan khusus yang mewajibkan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bagi Mahasiswa. Sedangkan untuk Mahasiswa Bidikmisi diharapkan PKM menjadi prioritas untuk mengembangkan penalaran. Selain untuk penalaran, PKM bisa menambah prestasi di Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Selama ini Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) masih awam di mata mahasiswa. Ketidakjelasan terkait wajib atau tidaknya PKM membuat mahasiswa kebingungan. Salah satu mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2018, Asmilda Nur Rahmawati mengaku belum paham sepenuhnya. “Itu kan ada gosipnya, wajib untuk anak semester 3.” ungkapnya pada Rabu, (23/10). Sementara itu, Dinda Widyaswara mahasiswa penerima bidikmisi Pendidikan Bahasa Indonesia 2018 mengatakan bahwa sebagai mahasiswa harus menghasilkan suatu karya seperti PKM. “Bisa jadi motivasi, bisa jadi ajang mahasiswa untuk setidaknya punya suatu karya.” ujarnya pada Rabu, (06/11).

Rohman Agus Pratomo, selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni mengatakan bahwa PKM tidak diwajibkan. “Jujur nggak ada, tetapi praktik kalian untuk pengalamannya.” ucapnya pada Senin, (14/10). Sedangkan untuk mahasiswa bidikmisi ia mengatakan, “Kami harapkan itu menjadi priority untuk penalaran.” ujarnya. Ia menambahkan jika mahasiswa bidikmisi tidak hanya berfokus pada PKM, tetapi bisa juga mengikuti lomba. “Kan tidak hanya PKM, nulis kan ada. Mengikuti lomba A, B, C, jadi tetap harus berkaryanya itu wajib.” tambahnya.

Pria yang akrab disapa Tommy ini menerangkan jika PKM merupakan ajang untuk memotivasi mahasiswa untuk mengembangkan penalaran ilmiah, penerapan kewirasuahaan, penerapan teknologi, serta pengabdian masayarakat. Meskipun banyak bidang yang tersedia, bidang kewirausahaan menjadi proposal terbanyak yang diajukan. “Dari 1.070 (proposal) yang masuk, masih dominan di kewirausahaan,” ujar Tommy. Meski begitu, ia mengaku tidak masalah. “Sebenarnya nggak masalah, tetapi sasarannya dipilih itu. Oke, sama-sama food, tapi kan harus pilih-pilih.” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Kalau food saja sekarang di Timnas sana sudah mulai jenuh. Harus food yang punya fungsi, seperti penambahan gizi lah, apa lah. Ada fungsional. Jadi itu yang dinilai.”

Ia menilai bahwa PKM lebih merujuk ke passion tiap mahasiswa. “Termasuk non bidang, seperti bidang KWU. Lebih tepat ke passion-nya. Bisa passion wirausaha, research sosial, atau research tindakan kelas.” ungkapnya.

Terkait syarat pembuatan PKM, Kuncoro Diharjo selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, mengatakan bahwa syarat pembuatan PKM bisa dari antar angkatan, antar prodi, dan antar fakultas. Ia menerangkan jika tidak ada batasan semseter berapa dalam pembuatan PKM. “Secara umum nggak ada batasannya. Mulai dari semester satu sampai menjelang lulus saja boleh kok, yang penting statusnya mahasiswa.” terangnya pada Selasa, (29/10).

Hal senada diungkapan oleh Tomy, ia mengatakan bahwa tidak membatasi mahasiswa semester berapa pun untuk membuat PKM. Jika semester atas baru membuat, saat PKM berhasil lulus Timnas, mahasiswa diharapkan menunda wisuda. “Sebenarnya tinggi boleh. Persoalannya, sebelum Timnas jangan lulus dulu.” ujarnya. Menurutnya, semester ideal untuk membuat PKM yaitu semester 5 atau 6. “Biasanya paling best itu semester 5 atau 6. Akademik sudah, pengalaman sudah baik, background pengalaman, keunikan.” ujarnya.

Selain untuk pengalaman, PKM juga bisa menambah prestasi di Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Tommy mengatakan bahwa SKPI tidak wajib, kecuali jika tidak ingin bekerja. SKPI sendiri ruangnya terbatas, sehingga ada kriterianya.“Di SKPI ada jas 5 besar, makanya pas milih 5 itu pilih sasaran yang bisa me-market-kan diri Anda. Jadi itu adalah gambaran kalian saat jadi mahasiswa.” ungkapnya. Berbeda dengan Sistem Penilaian Kegiatan Kemahasiswaan (SPKK), Tommy mengungkapkan jika semua kegiatan selama jadi mahasiwa bisa ditulis. “Itu semuanya bisa masuk. Mau jadi pengurus LPM, mau jadi anggota apa, kegiatan apa itu juga ditulis.” tambahnya.

Hal serupa juga diucapkan oleh Kuncoro. Ia mengatakan jika peran SKPI penting dalam membantu mahasiswa setelah lulus dari perkuliahan dan melanjutkan ke dunia kerja. “Karena gini, dunia kerja itu kompeten akademik itu paling 20%. 80%-nya soft competence atau soft skill. Itu dibentuk dengan cara non-akademik. 20% potensi akademik. Basic ya, kan? Tapi yang menantukan sukses Anda di dalam proses requitment itu soft competence and soft skill. Akademik itu pokok, ini soft competence dan soft skill juga penting. Semuanya jadi penting.” katanya. Ia juga menambahkan jika PKM atau kegiatan penalaran lainnya bisa mendongkrak soft skill atau soft comptence mahasiswa.

Saat ditanyai mengenai harapan dari diadakannya PKM ini, Kuncoro mengatakan bahwa mahasiswa UNS bisa bergerak menjadi produktif dalam menghasilkan karya yang mampu mendongkrak reputasi UNS. “Bergerak berubah menjadi ‘hijrah’, berubah menjadi bagaimana activity itu menjadi produktif.” ujarnya. Tommy berharap PKM bisa menjadi atmosfer di kalangan mahasiswa dan berkelanjutan. “Harapan kami PKM menjadi atmosfer, bukan hanya PKM saja.Tapi akademis atmosfernya kita dapat. Jadi nanti dihaarpkan juga ada countinue-nya.” tuturnya.

 

 

 

Ika Yulianti

Rullyani K. Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *