Meraba wabah (Kalian adalah wabah untuk diri kalian sendiri)

 

Tertinggal sepenggal sajak tentang kutukan
Senyapkan dunia dalam pewaktuan hitungan
Memasung duka tak lebih dalam sepekan
Karena setiap detik bergeming pembodohan

Kita hujam langitan surga dan angkara
Mewadahi secangkir darah bumi manifestasi manusia
Dengan balutan eksploitasi rangkaian aksara
Membunuh akal lewat konfrontasi kabar berita

Kita menghamba pada berita kebohongan
Merebut matahari dari pemangsa ketakutan
Ketika iblis dan Tuhan berkerumun dalam satu bungkusan
Lewat media-media yang mengobarkan penggiringan opini dan perbudakan

Hymne penghitaman langit dan prosa amatiran
Menunjukan surga emperan, neraka plesetan
Dari perundungan wabah yang kalian manfaatkan
Dan aku berdiri disini menantang KALIAN

Kala kebencian mengontrol pasar industri
Kala berita tak pasti menjadi kunci bahasa komprehensi
Kala bentangan puputan wabah menyerbak luas
Dan Kalian menebar takut dengan bergegas

Lain hari lain cerita
Seraya Tuhan melepas cahaya surya
Nampak tilas akal sehat memulai sublimasi
Ekstasi progresif gurita dialegtika ekonomi

Paradigma konsumsi publik dalam ruang sempit
Mencatat nohta pembelian dalam suasana panik
Lupa akan perbedaan kelas di dasar piramid
Membiarkan mereka menghadap lembah kematian dengan menjerit

Semiotika menengah atas dalam distorsi
Dan prediksi partai proletar dalam kematian borjuasi
Eskalasi kultural barbarisme mengubah mal menjadi saigon
Ayunan panoptikon definisi senjata tanpa kanon

Tak terlupa hegemoni penimbun produktif
Membunuh barisan kami, mencari merek bermotif
Antitesa anekdot penjungkalan nilai rupiah
Hey, Apa otak kalian sudah kehilangan arah?

Pelarian hari ini mengutip jejak gubuk nubuat
Sebuah wabah yang selalu menunggu nisanmu bertuliskan wafat
Namun bila keselamatanmu hanya ditentukan oleh negasi
Maka kalian adalah wabah untuk dirimu sendiri

Untuk kalian yang memaksa titik diagram notifikasi
Yang mengharamkan ketakutan tereduksi
Yang menjual nilai rupiah serupa khotbah para makar
Yang menjual kebencian dalam kelakar

Maka aku bersumpah atas tiap jejak timbunan yang dianggap layak bongkar
Dan media-media yang terlihat lebih pantas untuk terbakar
Jika setiap hal harus dilalui lewat pembodohan yang bersifat sakral
Sampai wabah berakhir pun neraka bertukar tempat dengan aspal

Kusudahi rangkaianku hari ini
Sedikit melelahkan merangkai kata dalam emosi
Semoga Tuhan jaga kalian dan pikiran kalian
Panjang umur orang-orang baik

 

(Puisi di atas adalah bentuk kekecewaan atas penggiringan opini media yang menebar ketakutan lewat medium apapun, seperti media sosial, laman internet, dan televisi. Media sosial lebih sering menebar kebencian dibanding solusi. Begitu pula tentang panic buying yang justru merugikan rakyat kecil, harga naik, rupiah melambung. Tak lupa penimbun masker yang bisa saya bilang tidak punya otak. Semoga kamu bahagia)

 

-IAN-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *