Menguak Dalang Di balik Melonjaknya Harga Minyak Goreng

Melonjaknya harga minyak goreng disusul dengan langkanya minyak goreng menimbulkan keresahan masyarakat khususnya menengah bawah. Hal tersebut diduga adanya “permainan” yang dilancarkan oknum tak bertanggung jawab di belakangnya atau seringkali disebut dengan istilah mafia.

Melonjaknya harga bahan pokok di Indonesia khususnya pada minyak goreng menimbulkan kontroversi di masyarakat. Hal ini menuai banyak pertanyaan yang timbul di benak masyarakat Indonesia.

Bhimo Rizky Samudro selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengatakan bahwa ada kekurangan dalam hal tata kelola pemerintahan.

  “Jadi sepertinya dari sisi tata kelolanya perlu diperbaiki. Terutama asinkronisasi informasinya.  Di lapangan A, tetapi menteri-menteri taunya B, Pak Jokowi taunya C,” jelas Bhimo (15/04).

Dampak kenaikan harga minyak dapat dirasakan langsung oleh pedagang yang mayoritas menggunakan bahan pangan minyak goreng. Hal tersebut membuat pemasukan dan pengeluarannya tidak stabil seperti biasanya.

“Ya berdampaklah, apalagi sekarang lagi pandemi, jadi hasil jualan menurun, pengeluaran makin banyak.  Jadi ngaruh banget,” tegas Ervan, pedagang cakwe depan gerbang UNS.

Dapat kita lihat secara gamblang, kenaikan harga minyak goreng berpengaruh terhadap perekonomian menengah ke bawah. Selain itu, hal ini membuat kesenjangan sosial dalam masyarakat semakin mencolok.

Buktinya, masyarakat menengah atas masih dapat survive dalam masalah ini, sedangkan masyarakat menengah bawah sangat kesulitan dengan keadaan ini.

Kepekaan terhadap naiknya harga minyak goreng sudah dirasakan oleh mahasiswa. Dapat kita lihat beberapa waktu lalu mahasiswa melakukan aksi damai menyuarakan aspirasi di depan Gedung DPRD Surakarta. Aksi tersebut diterima dengan baik oleh pihak yang berwenang.

Annisa Istiqomah selaku mahasiswi Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian angkatan 2021 ikut serta merasakan kepekaan akan masalah itu.

“Kalau dari saya pribadi, karena punya orang tua dan ibu juga pasti ngeluhnya ke anak jadi kita juga ngerasain minyak naik semua jadi naik. Gaji nggak naik tapi harga pokok itu tambah naik. Otomatis makin sulit. Terus peka juga buat masyarakat-masyarakat kelas bawah juga ikut merasakan, pasti kan sulit. Pendapatan mereka juga nggak seberapa atau di bawah Upah Minimum Regional (UMR) gitu. Jadi, dengan naiknya harga minyak ini sangat disayangkan,” ungkap Annisa (08/04).

Faktor kenaikan harga minyak goreng serta kelangkaanya diduga disebabkan adanya faktor permainan politik oleh para oknum. Rupanya hal itu sejalan dengan perkataan yang disampaikan oleh Bhimo, bahwa munculnya oknum tak bertanggung jawab dengan memanfaatkan situasi tersebut demi keuntungan pribadi.

“Jadi dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia tau situasinya justru malah memainkan masalah itu. Ada yang mengoplos, menimbun, serta mengganti kemasannya,” jelas Bhimo.

Dampak yang ditimbulkan dari penimbunan minyak menyebabkan munculnya oknum-oknum yang mengoplos minyak goreng curah. Hal tersebut menjadi salah satu pilihan alternatif masyarakat menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng.

Karena harganya yang lebih murah daripada minyak goreng kemasan yang dijual di supermarket. Akan tetapi untuk masyarakat kelas menengah ke atas masih dapat merespon baik dan mampu untuk tetap membeli minyak goreng kemasan.

Dari sekian permasalahan isu kenaikan harga minyak goreng yang sedang hangat dibicarakan, masih ada sebagian masyarakat yang berfikir positif bahwa masalah akan dapat diselesaikan oleh pemerintah.

Karena adanya faktor pendukung yaitu Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Jadi masalah ini diharapkan tidak akan mencapai krisis yang berkepanjangan.

Bhimo menanam sebuah harapan kepada pemerintah terkait masalah minyak goreng kedepannya.

“Di sisa pemerintahan Pak Jokowi disinkronkan di antara masing-masing fungsi dari presiden maupun pembantu presiden sampai pada yang rasional pada bidang apapun. Kurang sinkronnya informasi menyebabkan beberapa isu muncul dan membesar di masyarakat. Jelasnya informasi dari atas sampai bawah. Kebutuhan dalam negeri diutamakan dulu agar masyarakat tidak bergejolak seperti saat ini,” jelas Bhimo.

Kezia_

Desi_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.